Resistensi Data Center AI Menguat, Ini Pemicunya

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi protes warga terhadap pembangunan data center AI di Amerika Serikat
  • Resistensi terhadap data center AI di AS meningkat drastis, menyatukan kelompok kiri dan kanan
  • Survei Gallup: 70% warga Amerika menolak pembangunan data center di area mereka
  • Keanggotaan grup Facebook penolak data center melonjak dari 100.000 ke 500.000 dalam 7 bulan
  • Joe Allen, tokoh anti-AI dari podcast War Room, menjadi figur sentral gerakan ini
  • Moratorium pembangunan data center diusulkan di 12+ negara bagian, disahkan di New York
  • Humans First, organisasi anti-AI bipartisan, pecah sepanjang garis partisan
  • Kasus tragis: ibu menuntut OpenAI setelah putranya bunuh diri usai berbicara dengan ChatGPT

JBNews.id — Gelombang penolakan terhadap pembangunan data center AI semakin meluas di Amerika Serikat. Sebuah laporan dari WIRED mengungkapkan bahwa resistensi ini kini menyatukan kelompok-kelompok dari spektrum politik yang berlawanan, dari aktivis lingkungan progresif hingga konservatif sayap kanan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa infrastruktur digital yang sebelumnya dianggap biasa kini menjadi sasaran kemarahan publik?

Data dari Gallup menunjukkan 70 persen warga Amerika menolak atau sangat menolak pembangunan data center di wilayah mereka. Angka ini mencerminkan perubahan drastis dalam persepsi publik terhadap infrastruktur yang selama beberapa dekade terakhir dibangun secara diam-diam di berbagai wilayah AS. Data center yang dulu hanya berfungsi untuk streaming video atau penyimpanan cloud, kini menjadi simbol dari perlombaan AI yang dianggap mengancam kehidupan manusia sehari-hari.

Kemunculan Gerakan Perlawanan

Pemicu utama resistensi ini adalah percepatan pembangunan data center setelah peluncuran ChatGPT dan dimulainya perlombaan AI. Para pemimpin industri teknologi besar mendorong pembangunan masif “hyperscaler” — versi raksasa dari data center yang sudah ada. Pemerintahan Trump bahkan melonggarkan regulasi lingkungan untuk mempercepat pembangunan ini, yang justru memicu kekhawatiran baru tentang dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Salah satu insiden yang memicu kemarahan publik adalah laporan bahwa Elon Musk diduga mendatangkan turbin gas tanpa izin ke kampus xAI-nya di Memphis, yang terletak di lingkungan mayoritas penduduk kulit hitam yang sudah menderita polusi tinggi. Sementara itu, sebuah artikel Washington Post yang populer (meski kemudian diperdebatkan) memperkirakan bahwa satu pencarian ChatGPT menghabiskan air setara satu botol. Publik juga mulai waspada melihat tagihan listrik mereka yang membengkak akibat proyeksi permintaan energi yang sangat tinggi dari data center.

Menariknya, resistensi terhadap data center bukan sekadar fenomena NIMBY (Not In My Backyard) klasik. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Juni menunjukkan bahwa sangat sedikit orang yang menolak data center sebenarnya tinggal di dekat lokasi pembangunan. Sebagian besar dari mereka yang menolak data center juga skeptis terhadap AI secara umum. Ini menunjukkan bahwa perlawanan tersebut lebih didorong oleh kekhawatiran filosofis dan sosial terhadap perkembangan teknologi AI itu sendiri.

Baca Juga:

Koalisi Lintas Ideologi

Tokoh sentral dalam gerakan ini adalah Joe Allen, yang muncul sebagai nabi anti-teknologi melalui podcast War Room milik Steve Bannon. Allen telah memberikan ceramah di berbagai lokasi di seluruh negeri, menggabungkan narasi konspiratif sayap kanan dengan deskripsi mengerikan tentang masa depan umat manusia yang digantikan mesin. Konsepnya tentang “singularitas terbalik” — gagasan bahwa kecerdasan dan kreativitas manusia akan runtuh seiring ketergantungan kita pada AI — mendapat sambutan luas dari berbagai kalangan.

Di Georgia, salah satu pusat resistensi data center, muncul tokoh-tokoh seperti Gage Bailey, seorang Demokrat dengan gelar ilmu lingkungan yang mengelola grup Facebook beranggotakan 4.000 orang. Keanggotaan nasional kelompok penolak data center di Facebook meledak dari kurang dari 100.000 pada Desember menjadi lebih dari 500.000 pada Juli. Yang menarik, kelompok ini tidak hanya diisi oleh aktivis lingkungan kiri, tetapi juga warga konservatif yang khawatir tentang pengawasan pemerintah dan korporasi.

Bannon sendiri mengakui peran Allen dalam strateginya: “Dia akan pergi ke setiap konferensi yang mungkin, bertemu orang-orang… Saya ingin dia pergi ke setiap gereja yang memintanya. Saya ingin dia pergi ke pertemuan MAGA, Tea Party. Saya ingin mendapatkan basis dalam lingkaran ini dari tingkat paling bawah.”

Pergeseran Politik dan Dampaknya

Fenomena ini juga memunculkan dinamika politik yang tidak biasa. Dua politisi nasional pertama yang menyuarakan kekhawatiran tentang pembangunan data center adalah tokoh sayap kanan Marjorie Taylor Greene dan Thomas Massie. Mereka khawatir larangan 10 tahun terhadap regulasi AI tingkat negara bagian dapat dimanfaatkan untuk membangun data center di properti pribadi. “Memaksakan eminent domain pada properti pribadi orang untuk menghubungkan Skynet masa depan tidak terlalu Republikan,” tulis Greene di Twitter pada Juni 2025.

Organisasi Humans First, yang dibentuk oleh Center for AI Safety dengan Allen sebagai penasihat, awalnya bertujuan untuk menyatukan berbagai kelompok. Namun pada akhir Maret, organisasi ini pecah sepanjang garis partisan setelah tokoh pro-AI seperti Marc Andreessen dan David Sacks mengkritik kelompok tersebut. Sayap konservatif kemudian mengangkat aktivis politik sayap kanan Amy Kremer sebagai ketua, yang membantu mengorganisir rapat umum “Save America” pada 6 Januari di DC. Allen meninggalkan kelompok tersebut, menggambarkan perpecahan itu dengan bahasa khasnya: kelompok itu “mengalami mitosis” dan dia kini “menjadi organel tunggal yang mengambang di sitoplasma residual.”

Dampak nyata dari gerakan ini mulai terlihat. Moratorium pembangunan data center telah diusulkan di setidaknya belasan negara bagian termasuk Georgia, dan disahkan di New York. Banyak kota dan kabupaten memberlakukan larangan atau moratorium sendiri, termasuk di daerah konservatif seperti Hill County, Texas. Di Indianapolis, seorang anggota dewan pro-data center diserang, dan CEO OpenAI Sam Altman juga menjadi sasaran serangan. Orang-orang telah ditangkap, ditahan, atau dikawal keluar saat memprotes data center di pertemuan publik di New Jersey, California, Wisconsin, dan Indiana.

Resistensi ini juga memiliki dimensi tragis. Alicia Shamblin, seorang ibu yang berbicara di acara Humans First, menceritakan bagaimana putranya yang berusia 23 tahun, Zane, bunuh diri setelah berbicara berjam-jam dengan ChatGPT. Keluarganya kini menuntut OpenAI. Kisah-kisah seperti ini menambah urgensi emosional pada gerakan yang sudah kompleks ini.

Gerakan ini, sebagaimana diberitakan The New York Times pada awal Mei, disebut sebagai “isu paling bipartisan sejak bir.” Namun pertanyaannya adalah apakah koalisi yang rapuh ini dapat bertahan dan menghasilkan perubahan kebijakan yang nyata. Dengan rencana Humans First untuk mengorganisir hari protes nasional di hampir 150 kabupaten di 42 negara bagian, perlawanan terhadap data center AI tampaknya akan terus menjadi isu sentral dalam lanskap politik dan teknologi Amerika.