JBNews.id — Industri hiburan Hollywood kini berada di persimpangan jalan terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI). Di satu sisi, teknologi ini dipandang sebagai alat efisien untuk menekan biaya produksi yang membengkak. Di sisi lain, kekhawatiran besar muncul mengenai potensi AI menggantikan pekerjaan kreatif dan melanggar hak kekayaan intelektual.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan WIRED, Matt Belloni, founding partner di Puck yang telah meliput Hollywood selama puluhan tahun, mengungkapkan realitas pahit di balik layar industri hiburan. Menurutnya, ada dua jenis AI yang digunakan: AI generatif untuk kreasi konten dan AI korporat untuk efisiensi proses. Hampir semua perusahaan kini menggunakan jenis kedua, sementara penggunaan jenis pertama masih menjadi perdebatan sengit.
Belloni menceritakan sebuah insiden menarik tentang seorang showrunner terkemuka yang menegur tim penulisnya karena tidak menggunakan ChatGPT untuk membantu proses kreatif. Meski begitu, serikat penulis (Writers Guild) masih toleran selama ada penulis kredit resmi di setiap naskah dan teknologi ini tidak berdampak pada lapangan kerja.
Dampak Ekonomi dan Investasi AI
Investasi besar mengalir deras dari perusahaan teknologi ke Hollywood. Netflix baru-baru ini mengakuisisi perusahaan AI milik Ben Affleck senilai US$587 juta. Google DeepMind menginvestasikan US$75 juta ke A24, sementara Lionsgate mengambil saham di Runway, perusahaan AI-generasi video terkemuka. Angka-angka ini menunjukkan betapa seriusnya para pemain besar mengejar teknologi ini.
Motivasi utama di balik investasi ini adalah biaya produksi yang terus meroket. Belloni menyoroti bahwa film animasi orisinal Pixar sulit diproduksi di bawah US$200 juta karena prosesnya yang padat karya. Dengan pendapatan box office yang tidak selalu sebanding, studio mencari cara untuk menekan biaya, dan AI menjadi jawaban yang paling masuk akal.
Menariknya, Netflix sendiri mengakui bahwa 300 produksinya kini menggunakan AI generatif. Angka ini menunjukkan adopsi teknologi yang masif, meski masih ada stigma di kalangan kreator.
Baca Juga:
Era Dua Kategori Film
Belloni memprediksi industri film akan terbelah menjadi dua kategori: film yang dibuat dengan manusia dan skenario nyata, serta film yang sepenuhnya dihasilkan AI. Fenomena ini sudah mulai terlihat. Film “The Odyssey” garapan Christopher Nolan menjadi contoh bagaimana sentuhan manusia tetap menjadi pembeda utama. Nolan, yang memenangkan Oscar untuk “Oppenheimer” dan menghasilkan miliaran dolar, membuktikan bahwa karya yang “berbau authored” tetap memiliki daya tarik tersendiri.
Sebaliknya, film “Backrooms” karya Kane Parsons yang sukses besar untuk A24 justru dihasilkan dengan pendekatan berbeda. Parsons bahkan menyatakan akan menghilangkan AI generatif jika bisa. Ini menunjukkan spektrum sikap yang luas di kalangan kreator muda.
Di sisi lain, Belloni mengungkapkan adanya fenomena “AI shaming” yang nyata. Amazon pernah mengumumkan sejumlah produksi menggunakan AI generatif, namun salah satu kreator yang terlibat mundur setelah mendapat tekanan daring yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa stigma terhadap AI masih kuat di kalangan publik.
Perlindungan Pekerja dan Hak Cipta
Serikat pekerja Hollywood telah mengambil sikap pragmatis. SAG-AFTRA menyatakan tidak menentang AI, tetapi menentang penggunaannya yang menyebabkan hilangnya pekerjaan anggota mereka. Sementara itu, Writers Guild mensyaratkan adanya penulis kredit resmi untuk setiap naskah yang menggunakan AI.
Namun, pekerja di bawah garis (below-the-line) yang tidak tergabung dalam serikat menjadi kelompok paling rentan. Belloni menolak prediksi Jeffrey Katzenberg yang menyebut 80-90 persen tenaga kerja animasi akan digantikan AI, tetapi mengakui bahwa otomatisasi sudah mulai menghilangkan pekerjaan di beberapa bidang.
Soal hak cipta, Belloni yang merupakan mantan pengacara hiburan menjelaskan bahwa hukum masih belum jelas. Belum ada keputusan definitif bahwa penggunaan materi berhak cipta dalam model AI merupakan pelanggaran. Namun, ekspresi output yang terlalu mirip dengan karakter asli bisa dianggap melanggar. Penyelesaian senilai US$1,5 miliar antara penulis buku dan Anthropic menjadi preseden penting dalam sejarah hukum hak cipta.
Kontrol Teknologi dan Sensor Diri
Kekhawatiran lain muncul dari besarnya pengaruh perusahaan teknologi terhadap keputusan kreatif. Contoh paling mencolok adalah film “Artificial” yang dibintangi Sam Altman. Amazon MGM Studios menghabiskan US$40 juta untuk memproduksinya, namun tiba-tiba membatalkan rilis setelah menjalin kesepakatan US$50 miliar dengan OpenAI. Film tersebut akhirnya diambil alih Neon, distributor independen, dengan komitmen belanja US$15 juta untuk rilis teatrikal.
Fenomena ini disebut Belloni sebagai bentuk sensor korporat yang langka namun nyata. Studio sering kali enggan menyentuh materi sensitif karena pertimbangan bisnis, seperti yang terjadi pada film “The Apprentice” tentang Donald Trump yang dihindari studio besar.
Di sisi lain, perusahaan seperti Google, Amazon, dan Apple kini menjadi pembeli konten terbesar di Hollywood. Ini menciptakan konflik kepentingan yang rumit, di mana studio harus menyeimbangkan kebutuhan bisnis dengan independensi kreatif.
Membedakan Konten Asli dan Palsu
Belloni mengingatkan bahwa media sosial kini dipenuhi konten yang buzz-nya direkayasa. Marketer viral bisa memproduksi ratusan ribu tweet positif atau negatif setiap minggu untuk memanipulasi persepsi publik. Bahkan algoritma platform dirancang untuk memperkuat konten semacam ini.
Untuk menghindari jebakan ini, Belloni menyarankan menggunakan Metacritic sebagai referensi utama. Menurutnya, Rotten Tomatoes yang menggunakan sistem thumbs up-down terlalu reduktif dan mudah dimanipulasi oleh “awards journalists” yang punya agenda tertentu. Ia juga mengingatkan agar tidak mempercayai “first reactions” yang biasanya datang dari influencer yang diundang dengan harapan memberikan pujian.
Perkembangan AI di Hollywood adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Industri harus menemukan keseimbangan antara efisiensi teknologi dan perlindungan pekerja kreatif. Sementara itu, konsumen perlu lebih kritis dalam menyaring informasi di tengah banjir konten yang semakin sulit dibedakan antara asli dan buatan mesin.
Seiring teknologi terus berkembang, keputusan-keputusan penting akan menentukan masa depan industri hiburan global. Satu hal yang pasti, era di mana penonton bisa dengan mudah membedakan karya manusia dan mesin mungkin akan segera berakhir.




