OpenAI Bantah Curi Rahasia Apple dalam Gugatan Hukum

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Logo OpenAI dan Apple bersebelahan menggambarkan perselisihan hukum keduanya
  • OpenAI membantah tuduhan pencurian rahasia dagang melalui blog berjudul "Apple is getting this wrong"
  • Gugatan Apple berpusat pada dua mantan karyawan: Chang Liu dan Tang Tan yang kini di OpenAI
  • Apple mengajukan injunksi pendahuluan untuk mencegah akses informasi konfidensial
  • OpenAI merilis email dan iMessage sebagai bukti bantahan terhadap klaim Apple
  • Apple menuduh Liu mengakses sistem cloud dan mengunduh file konfidensial
  • Tan dituduh meminta informasi Apple saat mewawancarai calon karyawan OpenAI
  • OpenAI menyebut Apple salah kirim email karena membingungkan dua nama belakang Asia
  • Kasus ini menjadi preseden penting bagi mobilitas talenta di industri AI

JBNews.id — OpenAI secara terbuka membantah tudingan Apple yang menuduhnya mencuri rahasia dagang, dengan merilis bukti komunikasi internal untuk melawan narasi gugatan hukum yang diajukan raksasa teknologi Cupertino tersebut. Dalam sebuah unggahan blog yang diterbitkan baru-baru ini berjudul “Apple is getting this wrong,” OpenAI menyebut gugatan Apple sebagai tindakan yang “ceroboh, agresif, dan anehnya bersifat pribadi,” sambil membagikan transkrip iMessage dan korespondensi email untuk menantang klaim-klaim kunci dalam kasus tersebut.

Langkah ini bukan merupakan respons hukum resmi dari OpenAI, melainkan upaya untuk memenangkan opini publik dengan menunjukkan kontradiksi dalam argumen Apple menggunakan komunikasi yang dipilih secara selektif. Gugatan yang diajukan Apple bulan lalu berpusat pada dua mantan karyawannya, Chang Liu dan Tang Tan, yang kini bergabung dengan OpenAI. Liu adalah mantan insinyur iPhone yang kini bekerja di tim teknis OpenAI, sementara Tan telah bekerja di Apple selama 25 tahun, sebelumnya mengawasi desain iPhone dan Apple Watch sebelum mengambil peran sebagai kepala perangkat keras OpenAI.

Apple menuduh keduanya membawa “informasi rahasia dan konfidensial mengenai teknologi, proses, dan produk kami yang belum dirilis” untuk memajukan rencana perangkat keras OpenAI. Tuduhan ini menjadi fondasi gugatan yang diajukan perusahaan yang berbasis di Cupertino tersebut, yang berpotensi berdampak signifikan pada industri teknologi secara keseluruhan.

Permintaan Injunksi Awal dan Respons OpenAI

Reuters melaporkan bahwa Apple meminta injunksi pendahuluan pada Senin untuk mencegah Liu, Tan, dan OpenAI mengakses, memperoleh, menggunakan, atau mengungkapkan informasi konfidensial yang diduga dibawa selama proses gugatan berlangsung. Langkah hukum ini menunjukkan keseriusan Apple dalam mengejar kasus tersebut, yang melibatkan dua karyawan kunci yang kini berada di kubu lawan.

“Permintaan Apple untuk injunksi pendahuluan ini didasarkan pada informasi palsu dan sepenuhnya tidak perlu karena kami tidak memiliki, dan tidak menginginkan, rahasia dagang mereka,” demikian pernyataan OpenAI dalam unggahan blognya. “Kami jauh lebih tertarik untuk membangun produk dan teknologi inovatif yang mendorong batas kemampuan.”

Pernyataan ini menegaskan posisi OpenAI bahwa mereka tidak membutuhkan informasi internal Apple untuk mengembangkan teknologi mereka sendiri. Namun, gugatan Apple mengungkap serangkaian tuduhan spesifik yang perlu dijawab secara rinci oleh pihak OpenAI.

Tuduhan Terhadap Chang Liu dan Tang Tan

Gugatan Apple menuduh Liu gagal mengembalikan komputer milik perusahaan dan menggunakan celah autentikasi untuk mengakses penyimpanan jaringan berbasis cloud Apple berminggu-minggu setelah ia meninggalkan perusahaan. Liu juga dituduh mengunduh file konfidensial dari sistem penyimpanan Apple, serta menginstruksikan rekan kerjanya di Apple untuk melakukan hal yang sama dan “menghindari masalah” dengan tim keamanan perusahaan sebelum rekan tersebut bergabung dengan OpenAI.

OpenAI membantah narasi ini dengan memberikan konteks berbeda. “Apple menuduh Chang Liu mengakses informasi konfidensial Apple setelah meninggalkan perusahaan, tetapi baru sekarang mengakui bahwa karyawan Apple menghubunginya dan meminta bantuannya untuk menemukan informasi tersebut,” tulis OpenAI dalam blognya. “Apple sekarang mencoba mengalihkan kesalahan ke ‘akses residual’, tetapi mereka juga tidak mengungkapkan bahwa ini adalah masalah umum di Apple yang disebabkan oleh kegagalan mereka dalam mengelola akses sistem secara proper ketika orang meninggalkan perusahaan.”

Lebih lanjut, OpenAI menjelaskan bahwa mantan karyawan yang mencoba melakukan hal yang benar saat keluar tetap memiliki akses ke file Apple—meskipun mereka tidak menginginkannya atau bahkan tidak menyadarinya. Pernyataan ini menyoroti potensi kelemahan sistem manajemen akses internal Apple yang menjadi akar masalah.

Sementara itu, Apple juga menuduh Tan meminta informasi konfidensial Apple saat mewawancarai karyawan Apple untuk posisi di OpenAI, dan menginstruksikan para kandidat untuk menunjukkan beberapa komponen Apple yang pernah mereka kerjakan. Tuduhan ini menunjukkan pola yang dituduhkan Apple: bahwa OpenAI secara sistematis mencoba mengekstrak pengetahuan internal dari karyawan yang direkrut.

Menanggapi tuduhan tersebut, OpenAI menyatakan bahwa Tan “selalu jelas dengan tim bahwa kami tidak menginginkan, dan tidak boleh menggunakan, informasi konfidensial apa pun dari perusahaan lain.” Respons ini menunjukkan bahwa kebijakan internal OpenAI secara eksplisit melarang penggunaan informasi rahasia dari perusahaan mana pun, termasuk Apple.

Bantahan Terhadap Tuduhan Tidak Responsif

Dalam unggahan blognya, OpenAI juga membantah tuduhan bahwa mereka tidak merespons pertanyaan awal Apple. OpenAI mengungkapkan bahwa Apple “sekarang mengakui bahwa pengacara eksternal mereka mengirim email ke orang yang salah setelah membingungkan dua nama belakang Asia,” dan mengakui bahwa mereka tidak melakukan diskusi dengan General Counsel OpenAI.

Pengungkapan ini menambah dimensi baru dalam perselisihan hukum tersebut, menunjukkan bahwa komunikasi awal antara kedua perusahaan mungkin tidak berjalan lancar karena kesalahan administratif dari pihak Apple sendiri. OpenAI menerbitkan email interaksi antara penasihat hukum kedua perusahaan, bersama dengan iMessage yang dipertukarkan Liu dengan seorang karyawan Apple, sebagai bukti pendukung klaim mereka.

Publikasi bukti-bukti ini merupakan strategi komunikasi publik yang agresif dari OpenAI, yang memilih untuk melawan di ruang opini publik sambil menunggu proses hukum berjalan. Dengan merilis komunikasi internal secara terbuka, OpenAI berharap dapat membangun narasi bahwa mereka adalah pihak yang transparan dan tidak bersalah dalam perselisihan ini.

Implikasi bagi Industri Teknologi

Perselisihan hukum antara Apple dan OpenAI ini memiliki implikasi luas bagi industri teknologi, terutama dalam hal mobilitas talenta dan perlindungan kekayaan intelektual. Kasus ini menjadi preseden penting yang dapat memengaruhi bagaimana perusahaan teknologi memperlakukan karyawan yang pindah ke kompetitor, serta bagaimana mereka mengelola akses informasi internal.

Bagi para profesional teknologi, kasus ini menyoroti pentingnya memahami kebijakan perusahaan mengenai informasi konfidensial dan akses sistem setelah meninggalkan perusahaan. Sementara bagi perusahaan, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya sistem manajemen akses yang ketat dan prosedur offboarding yang jelas untuk mencegah kebocoran informasi.

Perkembangan ini juga terjadi di tengah meningkatnya persaingan di industri kecerdasan buatan, di mana talenta dan teknologi menjadi aset paling berharga. Sebelumnya, OpenAI Astra telah menunjukkan kemampuan teknisnya dalam memecahkan masalah kompleks, sementara kekhawatiran tentang dominasi OpenAI di industri terus menjadi perdebatan hangat.

Kasus ini juga menyoroti bagaimana perusahaan teknologi besar saling bersaing untuk mendapatkan talenta terbaik. Apple dan OpenAI sama-sama berlomba merekrut insinyur dan desainer terbaik di industri, dan perpindahan karyawan antar perusahaan menjadi hal yang umum. Namun, ketika perpindahan tersebut melibatkan posisi kunci seperti Liu dan Tan, potensi konflik kepentingan menjadi lebih tinggi.

Hingga saat ini, belum ada keputusan dari pengadilan mengenai permintaan injunksi pendahuluan yang diajukan Apple. Sementara itu, publikasi bukti oleh OpenAI menunjukkan bahwa kedua perusahaan bersiap untuk pertarungan hukum yang panjang dan sengit. Bagi pengamat industri, kasus ini akan menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana perusahaan teknologi menangani perselisihan kekayaan intelektual di era persaingan AI yang semakin ketat.

Dengan perkembangan ini, para pelaku industri teknologi perlu mencermati bagaimana hasil akhir kasus ini akan memengaruhi praktik perekrutan dan pengelolaan kekayaan intelektual di masa depan. Keputusan pengadilan nantinya dapat menjadi acuan bagi perusahaan-perusahaan lain dalam menghadapi situasi serupa, terutama dalam industri yang sangat bergantung pada inovasi dan talenta seperti kecerdasan buatan.