Perusahaan Antariksa Bersaing Jadi Pemulung Orbit Bumi

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Robot pembersih sampah luar angkasa dengan lengan mekanik
  • Perlombaan antariksa kini beralih ke bisnis pembersihan sampah orbit Bumi
  • NASA mencatat 100 juta serpihan sampah antariksa dengan total berat 6.000 ton
  • Aturan FCC 2027 mewajibkan operator satelit membersihkan orbit dalam 5 tahun
  • Nilai industri pembersihan sampah antariksa capai USD 8 miliar atau Rp 144 triliun
  • Cosmoserve Space dan KMI kembangkan lengan robot dan jaring raksasa
  • Teknologi pembersihan berpotensi jadi fondasi logistik dan konstruksi luar angkasa

JBNews.id — Perlombaan antariksa telah memasuki babak baru: perusahaan-perusahaan swasta kini berlomba menjadi ‘pemulung’ pertama di orbit Bumi dengan mengembangkan teknologi pembersihan ribuan ton sampah antariksa. Perubahan drastis ini dipicu oleh semakin padatnya orbit Bumi akibat ledakan jumlah satelit yang diluncurkan dalam beberapa tahun terakhir, mengubah fokus dari eksplorasi semata menjadi bisnis pembersihan bernilai miliaran dolar.

Menurut data NASA, terdapat lebih dari 100 juta serpihan sampah antariksa berukuran di atas 1 milimeter yang mengorbit Bumi, dengan total berat sekitar 6.000 ton. Bahkan serpihan sekecil serpihan cat sekalipun dapat merusak satelit karena melaju dengan kecepatan lebih dari 27.000 km/jam. Angka ini menjadi alarm bagi industri antariksa global yang semakin bergantung pada satelit untuk komunikasi, navigasi, dan observasi Bumi.

Dr. Chiranjeevi Phanindra, pendiri dan CEO Cosmoserve Space, mengungkapkan bahwa jumlah objek yang diluncurkan ke luar angkasa terus meningkat drastis. “Selama tujuh dekade terakhir kita telah meluncurkan sekitar 20.000 objek ke luar angkasa. Kini kita berbicara tentang kemungkinan meluncurkan hingga satu juta satelit hanya dalam 10 tahun ke depan,” ujar Phanindra seperti dikutip dari New York Post, Jumat (10/7/2026). Lonjakan ini menciptakan kebutuhan mendesak akan solusi pembersihan orbit yang efektif.

Aturan Baru Membuka Peluang Bisnis

Selama ini, upaya membersihkan sampah antariksa lebih banyak dilakukan oleh pemerintah. Namun, mulai 2027, aturan baru dari Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat mewajibkan operator satelit mengeluarkan satelit yang sudah tidak berfungsi dari orbit rendah Bumi maksimal lima tahun setelah masa operasinya berakhir. Sebelumnya, pedoman yang berlaku memberi waktu hingga 25 tahun.

Aturan tersebut membuka peluang bisnis baru bagi perusahaan swasta yang mengembangkan teknologi pembersihan sampah antariksa. Phanindra memperkirakan nilai industri ini dapat mencapai sekitar USD 8 miliar atau sekitar Rp 144 triliun. Angka ini menunjukkan potensi ekonomi yang sangat besar dari bisnis yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh banyak pihak.

Pendekatan Teknologi yang Beragam

Setiap perusahaan menawarkan pendekatan berbeda untuk membersihkan orbit Bumi. Cosmoserve Space, misalnya, mengembangkan lengan robot lunak yang bekerja layaknya tanaman Venus flytrap, yakni menjepit sampah antariksa sebelum membawanya keluar dari orbit. Sementara perusahaan KMI mengembangkan teknologi yang mampu menangkap objek di luar angkasa tanpa memerlukan adaptor khusus. Teknologi tersebut bahkan telah didemonstrasikan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Robot pembersih sampah luar angkasa

Selain menggunakan lengan robot, sejumlah perusahaan lain mengembangkan jaring raksasa untuk menangkap sampah antariksa atau menyemprotkan gas ke objek agar kecepatannya berkurang sehingga jatuh kembali ke atmosfer Bumi dan terbakar. Inovasi-inovasi ini menunjukkan bahwa industri pembersihan orbit sedang memasuki fase eksperimentasi yang intensif, mirip dengan awal mula industri pendorong satelit tanpa bahan bakar.

Dari Pemulung Menjadi Logistik Luar Angkasa

Menurut Adam Kall, pendiri KMI, teknologi yang dikembangkan untuk membersihkan sampah antariksa sebenarnya memiliki potensi yang jauh lebih luas. Kemampuan menangkap dan memindahkan satelit dapat dimanfaatkan untuk membangun berbagai infrastruktur di luar angkasa.

“Ketika kami berbicara tentang pembersihan sampah, sebenarnya kami sedang membicarakan logistik di luar angkasa,” kata Kall. Ia menjelaskan teknologi tersebut nantinya bisa digunakan untuk memindahkan satelit yang masih berfungsi ke orbit baru, mengirim material ke pabrik di luar angkasa, hingga membantu pembangunan struktur besar di orbit.

“Saya pikir masa depan ada pada konstruksi di luar angkasa. Jika kita bisa meluncurkan tiga bagian pesawat antariksa lalu menyatukannya di orbit, kita akan memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya,” ujarnya. Visi ini mengubah persepsi tentang pembersihan sampah dari sekadar tugas pemeliharaan menjadi fondasi bagi ekonomi antariksa masa depan.

Implikasi untuk Masa Depan

Dengan semakin padatnya orbit Bumi dan meningkatnya jumlah satelit, teknologi pembersihan sampah antariksa diperkirakan akan menjadi salah satu fondasi penting bagi ekonomi antariksa di masa depan. Perusahaan yang lebih dulu menguasai teknologi ini berpeluang menjadi pemain utama dalam industri luar angkasa yang terus berkembang.

Perlombaan menjadi ‘pemulung’ pertama di orbit Bumi ini juga menyoroti bagaimana regulasi dapat mendorong inovasi dan menciptakan pasar baru. Aturan FCC yang lebih ketat telah mengubah sampah antariksa dari masalah lingkungan menjadi peluang bisnis yang konkret. Selain itu, perkembangan ini juga mengingatkan pada pentingnya keamanan siber dalam infrastruktur digital yang bergantung pada satelit.

Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa antariksa bukan lagi domain eksklusif negara-negara adidaya. Dengan nilai pasar yang mencapai Rp 144 triliun, peluang untuk berpartisipasi dalam ekonomi antariksa global semakin terbuka, baik melalui pengembangan teknologi, penyediaan layanan, maupun investasi di sektor ini.