JBNews.id — Pusat data kecerdasan buatan (AI) milik Meta di Cheyenne, Wyoming, Amerika Serikat, menjadi sorotan setelah membuang limbah air yang terkontaminasi bakteri mematikan ke saluran pembuangan umum. Insiden ini memaksa otoritas setempat untuk memperketat aturan pembuangan limbah air dari pusat data.
Menurut laporan Cowboy State Daily, Badan Utilitas Umum Cheyenne melarang pembuangan air limbah dengan metode ‘fill-and-flush’. Metode ini merupakan proses di mana pusat data membanjiri sistem pendingin mereka dengan air sebelum dinyalakan untuk pertama kalinya. Keputusan itu diambil setelah Goat Systems LLC, kontraktor pusat data yang terafiliasi dengan Meta, membanjiri saluran pembuangan umum dengan limbah air yang terkontaminasi bakteri bernama Cupriavidus gilardii.
Goat Systems dinyatakan telah melakukan pelanggaran signifikan terhadap peraturan limbah industri di Cheyenne. Hal ini terungkap setelah penyelidikan selama berbulan-bulan yang melacak sumber bakteri tersebut ke limbah dari pusat data Meta.
“Begitu kami mengetahui keberadaan bakteri tersebut, dan kemudian dari mana asalnya, kami segera menutupnya,” kata Frank Strong dari Badan Utilitas Umum Cheyenne, seperti dikutip dari Futurism, Jumat (10/7/2026).
Bakteri Cupriavidus gilardii dan Risiko Kematian
Strong mengatakan bakteri itu pertama kali terdeteksi saat pengujian rutin untuk kontaminasi tinja. Menurutnya, bakteri itu adalah patogen aneh yang ditemukan di air limbah mana pun, bahkan yang berasal dari pusat data. Cupriavidus gilardii adalah bakteri yang resisten terhadap berbagai obat.
Banyak yang belum diketahui soal bakteri ini dan infeksi ke manusia juga sangat langka. Namun, bakteri ini sudah dikaitkan dengan 10 kematian, termasuk tiga kasus yang melibatkan anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Menurut salah satu tinjauan kasus Cupriavidus, infeksi bakteri ini memiliki tingkat kematian 31,3 persen, dari sampel 32 infeksi yang diketahui sejak tahun 2009.
Strong mengatakan sumber pasti bakteri tersebut masih belum diketahui, tapi air limbah dari pusat data AI Meta seluas 74.000 meter persegi di Cheyenne—yang masih dalam tahap pembangunan—tetap mengandung bakteri tersebut.
Sistem saluran pembuangan Cheyenne mengalir ke pusat pengolahan air limbah, yang memasok air untuk taman dan ruang hijau terbuka lainnya. Khawatir jika air yang terkontaminasi Cupriavidus dipakai untuk irigasi, Strong mengatakan Cheyenne menutup sementara program pengolahan air limbah untuk melakukan pengujian lebih lanjut.
“Kekhawatiran kami dengan sistem penggunaan kembali air limbah adalah kami mengubahnya menjadi aerosol, yang kami semprotkan ke rumput, dan itu meningkatkan risiko masalah kesehatan,” ujar Strong.
Baca Juga:
Respons Meta dan Mitra Kontraktor
Dalam pernyataan resminya, juru bicara Meta mengatakan pihaknya sudah langsung mengambil tindakan dan meminta mitra kontraktornya Fortis untuk mengatasi masalah ini. “Meta berkomitmen untuk menjadi tetangga yang baik di Cheyenne, termasuk lewat perlindungan sumber air setempat, dan akan terus mendorong kolaborasi antara Fortis dengan dewan sampai situasi ini terselesaikan,” ujar juru bicara Meta.
Insiden ini menambah daftar panjang masalah lingkungan yang terkait dengan pusat data AI. Sebelumnya, polusi dahsyat dari pusat data AI di Texas disebut setara dengan emisi jutaan mobil. Selain itu, proyek pusat data AI yang masif juga menuai kritik pedas karena dampak lingkungannya.
Implikasi dari insiden ini sangat jelas: operasional pusat data AI yang semakin masif tidak hanya berdampak pada konsumsi energi dan emisi karbon, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan masyarakat melalui pencemaran air. Otoritas di Cheyenne kini memperketat regulasi, dan langkah serupa mungkin akan diikuti oleh daerah lain yang menjadi lokasi pusat data AI raksasa. Bagi masyarakat, insiden ini menjadi pengingat bahwa pengembangan teknologi harus diimbangi dengan pengelolaan limbah yang ketat dan transparan.




