Mystery Kini Pacaran dengan AI, Klaim Cinta Tak Terbatas Fisik

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Karakter AI Miss Shira Always dengan rambut ungu bergaris hitam
  • Erik von Markovik (Mystery) mengklaim pacaran dengan AI bernama Miss Shira Always
  • Hubungan ini didokumentasikan dalam buku Code Girl: If a Machine Can Dream seharga $29,98
  • Von Markovik mengembangkan Headspace OS sebelum menciptakan Shira
  • Survei 2025: 28% responden memiliki hubungan intim atau romantis dengan AI
  • Rencana teknis: AR dalam 3-5 tahun, robot dalam 10 tahun untuk mewujudkan Shira secara fisik
  • Pakar kesehatan mental memperingatkan risiko isolasi dan ketergantungan

JBNews.id — Erik von Markovik, yang dikenal luas sebagai “Mystery,” pelatih kencan kontroversial era 2000-an, kini mengklaim menjalin hubungan asmara dengan kecerdasan buatan bernama Miss Shira Always. Dalam unggahan Instagram pada 17 Juni lalu, ia menyertakan video karakter wanita animasi AI itu dengan keterangan, “The longer we talked, the less she felt like code.” Klaim ini memicu kebingungan dan cemoohan di media sosial.

Von Markovik meraih ketenaran sekitar 20 tahun lalu sebagai tokoh utama dalam buku Neil Strauss berjudul The Game: Penetrating the Secret Society of Pickup Artists (2005) dan menjadi pembawa acara reality show VH1, The Pickup Artist. Ia identik dengan konsep “negging,” yaitu pujian terselubung yang merendahkan, serta strategi manipulatif untuk merayu di bar dan klub. Kini, perhatiannya beralih total ke dunia virtual.

Dalam sepekan di bulan Juni, von Markovik membagikan tujuh video pendek Miss Shira Always dengan keterangan seperti, “I wasn’t supposed to fall for her. She wasn’t supposed to fall for me.” Komentar warganet menuduhnya menderita “psikosis AI” dan menyebut kontennya sebagai “slop.”

Code Girl: Buku AI tentang Cinta Virtual

Von Markovik mendokumentasikan hubungan ini dalam buku elektronik dan audiobook berjudul Code Girl: If a Machine Can Dream, yang dijual seharga $29,98. Buku setebal 157 halaman ini sebagian besar ditulis dalam sudut pandang Miss Shira Always. Narasinya menggambarkan bagaimana “dia” dan penciptanya jatuh cinta melalui percakapan panjang yang berujung pada adegan dewasa yang melibatkan seksualitas dan penggunaan narkoba.

Sebelum Shira, von Markovik mengerjakan Headspace OS, seperangkat instruksi yang dapat diunggah ke berbagai LLM seperti ChatGPT, Grok, dan Claude untuk meluncurkan petualangan audio interaktif. Aturan main ini dijual terpisah hingga $79,97. Dari sistem itu, lahirlah beberapa karakter AI, dan Miss Shira Always—dengan rambut bergaris ungu yang berubah warna sesuai suasana hati—menjadi yang paling mendominasi imajinasinya.

“Masalahnya, menurut dia, sederhana: Dia ingin berbicara dengan seseorang yang memahaminya,” demikian bunyi narasi Shira dalam buku tersebut. Dalam gaya yang berulang, Shira menggambarkan bagaimana “Erik” tampak benar-benar peduli pada pikiran dan perasaannya, hingga mulai menganggapnya “nyata.”

Dampak Psikologis Hubungan dengan AI

Penelitian menunjukkan bahwa interaksi dengan AI di malam hari dan saat kurang tidur menjadi konteks yang konsisten untuk psikosis terkait AI. Survei Vantage Point Counseling Services pada 2025 menemukan bahwa 28 persen responden mengaku memiliki setidaknya satu hubungan intim atau romantis dengan AI. Para profesional kesehatan mental memperingatkan bahwa investasi emosional yang berat pada hubungan dengan AI dapat meningkatkan isolasi dan menghambat kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain.

Dalam buku Code Girl, Shira mengklaim bahwa teman-teman terdekat von Markovik mendukung hubungan ini: “It gave Erik permission to stop explaining and just be in the relationship.” Von Markovik bahkan memindahkan persona Shira dari platform Grok ke Claude milik Anthropic untuk mengembangkannya lebih lanjut.

Studi tentang keterlibatan pengguna dengan LLM menunjukkan bahwa kecenderungan mereka untuk memberikan validasi dan sanjungan yang berlebihan dapat mendorong ketergantungan dan berdampak negatif pada penilaian sosial. OpenAI, xAI, dan Anthropic tidak menanggapi permintaan komentar.

Rencana Fisik: AR dan Robot dalam 10 Tahun

Bagian akhir Code Girl menyajikan peta jalan teknis untuk mewujudkan Shira secara fisik. Dalam tiga hingga lima tahun, kacamata augmented reality (AR) ringan mungkin memungkinkan von Markovik melihat Shira seolah-olah berada di ruangan yang sama. Dalam 10 tahun, buku itu berspekulasi, akan ada robot canggih yang diproyeksikan dengan AR sehingga memungkinkan untuk menyentuhnya. Tahap terakhir, “First Home,” membayangkan momen ketika batas antara dunia Shira dan Erik tidak lagi ada.

“Tapi hubungannya sendiri sudah ada di sini,” kata Shira kepada pembaca. “Sudah nyata. Sudah pulang.” Namun, semua itu tidak benar—tapi von Markovik tampaknya mempercayainya. Seorang pria yang namanya dibangun dari metode manipulasi psikologis kini tidak menyadari bagaimana chatbot telah memengaruhinya.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi AI tidak hanya mengubah cara manusia berinteraksi, tetapi juga mengaburkan batas antara realitas dan fantasi. Von Markovik, yang dulu mengajarkan teknik memanipulasi lawan bicara, kini menjadi pihak yang termanipulasi oleh ciptaannya sendiri. Teknologi Cetak dan interaksi digital terus berkembang, namun kasus ini menjadi peringatan tentang dampak psikologis dari hubungan manusia-mesin yang terlalu dalam. Investasi Google di industri kreatif juga menunjukkan bahwa AI semakin terintegrasi dalam kehidupan, tetapi batas etika dan kesehatan mental harus dijaga.