Krisis RAM, Ponsel Murah Mulai Menghilang dari Pasaran

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi krisis RAM yang menyebabkan ponsel murah menghilang dari pasaran
  • Lonjakan harga RAM menyebabkan ponsel murah (di bawah USD 400) mulai menghilang dari pasaran
  • Biaya memori kini menyumbang 64% dari total biaya komponen ponsel ultra murah
  • Penjualan smartphone di bawah USD 400 diprediksi turun 22% tahun ini
  • Vendor akan menurunkan spesifikasi seperti kualitas display, kamera, dan chipset untuk menekan biaya
  • Segmen ponsel di atas USD 400 diprediksi naik 5,7%, menunjukkan pergeseran permintaan
  • Konsumen di Indonesia harus bersiap dengan pilihan ponsel murah yang semakin terbatas

JBNews.id — Lonjakan harga RAM diprediksi akan menghilangkan ponsel Android murah dari pasaran secara bertahap. Laporan terbaru dari Omdia menunjukkan bahwa biaya memori kini menyumbang hingga 64 persen dari total biaya komponen untuk ponsel ultra murah, memaksa vendor untuk mundur dari segmen low-end.

Fenomena ini pertama kali terlihat pada ponsel dengan harga di bawah USD 400, yang disebut sebagai titik kritis bagi produsen. Menurut data Omdia, penjualan smartphone di segmen harga tersebut diperkirakan akan turun 22 persen dibandingkan tahun lalu. Angka ini menjadi indikator awal bahwa pasar ponsel murah sedang mengalami kontraksi signifikan.

“Berdasarkan tren harga memori untuk beberapa kuartal mendatang, product low-end sudah mulai tidak menguntungkan dan permintaannya berisiko turun karena harga ritel terus melonjak,” tulis Omdia dalam laporannya, seperti dikutip dari 9to5Google, Rabu (8/7/2026).

Dampak kenaikan harga RAM tidak hanya berhenti di segmen ponsel murah. Omdia mencatat bahwa untuk ponsel di segmen harga USD 100 hingga USD 400, biaya memori kini menyumbang sekitar 59 persen dari total biaya komponen. Sebagai perbandingan, pada kuartal III-2025, angka tersebut hanya 32 persen. Kenaikan hampir dua kali lipat dalam waktu kurang dari setahun ini menjadi pemicu utama keputusan vendor untuk merampingkan lini produk.

“Akibatnya, vendor ponsel secara proaktif dan bertahap mundur dari segmen low-end tahun ini,” sambung laporan Omdia.

Baca Juga:

Vendor Ponsel Turunkan Spesifikasi

Untuk menekan biaya produksi, vendor diprediksi akan mengambil langkah drastis dengan menurunkan spesifikasi perangkat. Omdia mengindikasikan beberapa bentuk penghematan yang akan dilakukan, antara lain menurunkan kualitas panel display, menggunakan lebih sedikit kamera atau sensor yang lebih kecil, serta menggunakan chipset generasi sebelumnya.

Langkah ini merupakan respons langsung terhadap kenaikan harga RAM yang tidak dapat dihindari. Dengan biaya komponen yang membengkak, produsen harus memilih antara menaikkan harga jual atau mengorbankan fitur tertentu. Pilihan kedua dinilai lebih realistis untuk menjaga daya beli konsumen di tengah tekanan ekonomi.

Menariknya, Omdia juga mencatat bahwa meskipun terjadi penurunan tajam di segmen ponsel murah, pengapalan ponsel dengan harga di atas USD 400 diprediksi naik 5,7 persen tahun ini. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran permintaan ke segmen yang lebih tinggi, seiring dengan semakin sulitnya menemukan ponsel berkualitas dengan harga terjangkau.

Krisis RAM ini juga berdampak pada rantai pasok global. Produsen chip memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron dilaporkan tengah menghadapi tekanan harga yang tinggi, yang kemudian diteruskan ke vendor ponsel. Situasi ini diperparah dengan permintaan yang tetap tinggi dari sektor lain, seperti server dan kecerdasan buatan, yang turut mendongkrak harga komponen.

Bagi konsumen di Indonesia, kondisi ini berarti pilihan ponsel murah akan semakin terbatas. Vendor seperti Xiaomi, Realme, dan Infinix yang selama ini dikenal dengan produk harga terjangkau, kemungkinan besar akan mengurangi portofolio atau menaikkan harga secara signifikan. Pengguna yang ingin membeli ponsel baru di segmen entry-level mungkin harus merogoh kocek lebih dalam atau menerima spesifikasi yang lebih rendah.

“Krisis ini tidak hanya soal harga, tetapi juga ketersediaan produk. Konsumen harus lebih cermat dalam memilih dan mungkin mempertimbangkan untuk menabung lebih lama demi mendapatkan perangkat yang lebih baik,” ujar seorang analis pasar.

Dengan tren yang ada, para pelaku industri memperkirakan bahwa pasar ponsel global akan mengalami restrukturisasi besar dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Segmen low-end yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan di negara berkembang, termasuk Indonesia, diprediksi akan menyusut drastis. Vendor yang bertahan adalah mereka yang mampu berinovasi dalam efisiensi biaya tanpa mengorbankan kualitas secara berlebihan.

Implikasinya, konsumen perlu bersiap dengan realitas baru di mana ponsel murah bukan lagi pilihan utama. Investasi pada perangkat yang lebih mahal namun lebih tahan lama bisa menjadi strategi yang lebih bijak di tengah ketidakpastian harga komponen. Informasi lebih lanjut mengenai tren teknologi terkini dapat Anda simak melalui kebijakan antariksa yang juga menjadi sorotan.

Di sisi lain, fenomena ini juga membuka peluang bagi produsen ponsel bekas atau refurbished. Dengan harga ponsel baru yang semakin mahal, pasar sekunder diprediksi akan tumbuh. Konsumen yang tidak mampu membeli ponsel baru di segmen menengah ke atas mungkin akan beralih ke perangkat bekas yang masih memiliki performa baik.

Namun, perlu diingat bahwa krisis ini bersifat siklus. Harga RAM diperkirakan akan kembali stabil dalam beberapa kuartal mendatang seiring dengan bertambahnya kapasitas produksi pabrik-pabrik memori. Sampai saat itu tiba, konsumen dan vendor harus beradaptasi dengan kondisi pasar yang penuh tantangan. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat membaca berita terkini lainnya di portal kami.

Sebagai penutup, krisis RAM ini mengajarkan bahwa ketergantungan pada satu komponen dapat mengguncang seluruh industri. Diversifikasi rantai pasok dan investasi dalam riset material alternatif menjadi langkah strategis yang perlu dipertimbangkan oleh para pemangku kepentingan. Sementara itu, konsumen disarankan untuk tetap waspada dan bijak dalam setiap keputusan pembelian.