Kontroversi AI Lagu Rubberz Fenix Flexin Terdeteksi Buatan Mesin

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Tangkapan layar lagu RUBBERZ yang dibawakan oleh Fenix Flexin
  • Fenix Flexin membantah lagu "Rubberz" dibuat dengan AI setelah banyak tuduhan
  • Lagu menembus Billboard Hot 100 posisi 58 pada Juni lalu
  • Vokal dianggap tidak sesuai karakter, termasuk nada tinggi dan aksen Inggris
  • Produser Medasin menemukan nama file "Sonauto" (software AI) di cuplikan lagu
  • The Verge menemukan artefak khas AI: hi-hat getas, vokal MP3 bitrate rendah, reverb terpotong
  • Charlie Harding menyoroti vokal latar tidak wajar dan artifacting digital
  • Video bukti Pro Tools yang diunggah Fenix dihapus setelah diragukan keasliannya
  • Timbaland membela Fenix, justru memperkuat kecurigaan karena dikenal pro-AI

JBNews.id — Rapper asal Los Angeles, Fenix Flexin, membantah keras bahwa single terbarunya berjudul “Rubberz” dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) setelah muncul banyak tuduhan dari pendengar dan industri musik. Lagu tersebut berhasil menembus posisi nomor 58 di Billboard Hot 100 setelah dirilis pada Juni lalu. Namun, alih-alih mendapat apresiasi, lagu ini justru memicu perdebatan sengit mengenai keaslian karya di era produksi musik digital.

Sejumlah rekan sesama musisi awalnya memberikan pujian terhadap lagu tersebut. Namun, para pendengar dengan cepat menyadari sejumlah keanehan yang sulit diabaikan. Banyak pihak menunjuk pada kualitas vokal yang tidak sesuai dengan karakter suara Fenix Flexin selama ini. Selain itu, nada-nada tinggi yang ia bawakan di lagu tersebut dianggap tidak pernah ia perlihatkan sepanjang kariernya.

Masalah semakin rumit ketika penampilan “live” sang rapper justru memperburuk situasi. Fenix Flexin terlihat kesulitan melakukan lip-sync melalui lirik yang nyaris tidak ia ingat, dengan susunan kata yang dianggap tidak masuk akal. Yang lebih mencurigakan, ia bernyanyi dengan aksen Inggris dalam lagu barunya — sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya — sambil mencoba genre baru berupa synth-pop ala 80-an yang belum pernah ia sentuh sama sekali.

Pembelaan yang datang dari Timothy “Timbaland” Mosley justru semakin memperkuat kecurigaan publik. Timbaland dikenal sebagai salah satu tokoh paling vokal dalam mendukung penggunaan AI di industri musik. Dukungannya terhadap Fenix Flexin dianggap sebagai sinyal bahwa lagu tersebut memang diproduksi dengan bantuan teknologi generatif.

Analisis Teknis Menguatkan Tuduhan

Di antara banyak tokoh industri yang menyuarakan kecurigaan, produser Medasin menjadi yang paling vokal. Ia mengunggah analisis rinci mengenai alasan ia yakin lagu “Rubberz” dibuat dengan AI pekan lalu. Salah satu temuan paling memalukan yang diungkap Medasin adalah fakta bahwa Fenix Flexin pernah mengunggah cuplikan lagu yang belum selesai dengan nama file “Sonauto” di dalamnya.

Sonauto merupakan nama perangkat lunak pembangkit musik berbasis AI yang kebetulan berganti nama menjadi Treblo hanya dua hari sebelum lagu tersebut dirilis. Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa proses produksi lagu tersebut melibatkan teknologi AI, meskipun sang rapper membantahnya.

The Verge juga melakukan analisis independen dan menemukan sejumlah keanehan teknis yang sulit dijelaskan. Lagu tersebut mengandung “sejumlah artefak dan anomali yang umum ditemukan pada musik hasil AI.” Karakteristik tersebut meliputi suara hi-hat yang terdengar getas, vokal chorus yang terdengar seperti MP3 bitrate rendah, dan ekor reverb yang terpotong tidak beraturan.

A screenshot of the song RUBBERZ being performed by Fenix Flexin.

Penulis lagu sekaligus podcaster musik, Charlie Harding, juga membagikan temuannya kepada The Verge. Ia menyoroti vokal latar yang muncul dan hilang secara tidak terduga, serta reverb drum yang penuh artefak digital tidak alami — karakteristik yang mengingatkan pada file MP3 64kbps yang diunduh dari Napster. Harding menjelaskan bahwa sebagian besar perusahaan AI generatif melatih model mereka menggunakan MP3 berkualitas rendah dari materi berhak cipta yang tidak dilisensikan, sehingga menghasilkan instrumentasi yang terdengar terdegradasi secara nyata.

Upaya Pembelaan yang Gagal

Setelah Medasin mengunggah analisisnya, Fenix Flexin merespons dengan membagikan video yang menunjukkan dirinya membuka proyek Pro Tools. Video tersebut dimaksudkan sebagai bukti bahwa ia benar-benar menggarap lagu tersebut secara manual. Namun, banyak pihak — termasuk Medasin sendiri — tidak yakin dengan bukti tersebut.

Medasin berpendapat bahwa Fenix Flexin dapat dengan mudah memasukkan lagu AI ke dalam pemisah stem dan menyebarkannya ke dalam file proyek agar terlihat seperti rekaman asli. Kecurigaan ini semakin diperkuat ketika Fenix Flexin kemudian menghapus video tersebut tanpa penjelasan yang jelas.

Pada akhirnya, tidak ada pihak yang dapat membuktikan apa pun secara definitif. Namun, berbagai bukti yang muncul menunjukkan bahwa kemungkinan besar Fenix Flexin tidak mengatakan yang sebenarnya. Ironisnya, mengingat kualitas lagu yang dinilai buruk, mengaku berbohong justru mungkin lebih menguntungkan bagi citranya sebagai seorang seniman dibandingkan harus mengakui bahwa lagu tersebut benar-benar karya aslinya.

Kontroversi ini menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai penggunaan AI di industri kreatif. Sebelumnya, para peretas juga mengungkap bagaimana aplikasi musik AI bernama Suno mencuri musik berhak cipta selama puluhan tahun untuk melatih modelnya. Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan kontroversi AI tidak hanya menyangkut keaslian karya, tetapi juga masalah hukum dan etika yang lebih dalam.

Bagi industri musik, kasus Fenix Flexin menjadi peringatan bahwa teknologi AI telah mencapai titik di mana batas antara karya manusia dan mesin semakin kabur. Sementara itu, para pendengar dan penggemar dituntut untuk semakin kritis dalam menilai keaslian karya yang mereka konsumsi. Fenomena ini juga berdampak pada cara label rekaman dan platform streaming mengevaluasi konten yang masuk ke dalam tangga lagu.

Perkembangan ini sejalan dengan kekhawatiran yang lebih luas tentang keamanan AI yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi industri teknologi. Jika model AI dapat menghasilkan musik yang sulit dibedakan dari karya manusia, maka pertanyaan tentang hak cipta, royalti, dan kredit karya menjadi semakin rumit untuk dijawab.

Kasus “Rubberz” juga membuka diskusi tentang transparansi dalam produksi musik. Apakah seniman wajib mengungkapkan penggunaan AI dalam proses kreatif mereka? Bagaimana cara mengukur orisinalitas sebuah karya di tengah kemajuan teknologi? Pertanyaan-pertanyaan ini kemungkinan akan terus menghantui industri musik dalam beberapa tahun ke depan, seiring semakin canggihnya alat-alat berbasis AI yang tersedia untuk publik.

Yang jelas, langkah Fenix Flexin menghapus video bukti yang ia unggah sendiri menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Dalam industri yang mengandalkan kepercayaan antara seniman dan penggemar, insiden semacam ini dapat meninggalkan dampak jangka panjang terhadap reputasi seorang musisi. Terlepas dari mana kebenaran berada, kasus ini telah menjadi pelajaran berharga tentang kompleksitas produksi musik di era kecerdasan buatan.