Inggris Terapkan Jam Malam Digital untuk Remaja

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Remaja menggunakan ponsel di malam hari dengan ilustrasi jam malam digital
  • Pemerintah Inggris menerapkan jam malam digital untuk remaja 16-17 tahun, mengunci akses media sosial pukul 00.00-06.00
  • Fitur ini bersifat tidak wajib dan dapat dimatikan oleh pengguna
  • Larangan total media sosial bagi anak di bawah 16 tahun akan berlaku pada musim semi 2027
  • Aturan juga memberantas fitur adiktif seperti video otomatis dan umpan personalisasi
  • Peraturan diperluas ke AI dengan mewajibkan jeda chatbot untuk anak di bawah 18 tahun
  • Sekitar 9 dari 10 orang tua Inggris mendukung persyaratan usia minimum akses media sosial
  • Kelompok HAM mengkritik kebijakan sebagai solusi oversimplifikasi yang membatasi hak informasi
  • Australia, yang menerapkan model serupa, menghadapi tingkat penghindaran 75% dari remaja

JBNews.id — Pemerintah Inggris mengumumkan rencana penerapan jam malam digital bagi remaja berusia 16 hingga 17 tahun, yang secara otomatis akan mengunci akses ke platform media sosial antara pukul 00.00 hingga 06.00. Kebijakan ini merupakan bagian dari serangkaian regulasi ketat yang dirancang untuk melindungi anak muda dari dampak negatif teknologi, termasuk larangan total media sosial bagi anak di bawah 16 tahun yang dijadwalkan berlaku pada musim semi 2027.

Langkah ini diambil setelah Inggris memberlakukan Online Safety Act, serangkaian undang-undang kontroversial yang mewajibkan platform yang menampung konten pornografi dan materi lain yang dianggap berpotensi membahayakan anak untuk memverifikasi bahwa penggunanya berusia 18 tahun atau lebih. Departemen Sains, Inovasi, dan Teknologi Inggris (DSIT) menyatakan bahwa fitur jam malam digital ini bersifat tidak wajib dan dapat dimatikan oleh pengguna. Namun, kebijakan ini menandai eskalasi signifikan dalam upaya pemerintah untuk mengatur interaksi remaja dengan dunia digital.

Selain jam malam, DSIT juga mengumumkan “pemberantasan” terhadap fitur-fitur adiktif di aplikasi sosial. Mekanisme seperti “video yang diputar otomatis satu demi satu” dan “umpan yang terus-menerus menyajikan konten yang dipersonalisasi” akan “dimatikan secara default untuk remaja yang lebih tua,” meskipun pengguna tetap dapat mengaktifkannya kembali. Rangkaian regulasi pertama yang lengkap ini akan diajukan ke Parlemen Inggris akhir tahun ini sebelum mulai berlaku pada tahun 2027.

DSIT menegaskan bahwa proposal regulasi terbaru ini dimaksudkan untuk “membantu memastikan tidak ada jurang perlindungan saat anak muda beralih ke usia remaja akhir.” Hal ini penting karena, berkat pembatasan yang diterapkan oleh Online Safety Act, generasi muda di masa depan secara hipotetis tidak akan memiliki pengalaman dengan media sosial sebelum usia tersebut.

“Langkah-langkah ini akan sangat penting dalam membantu anak muda mendapatkan tidur yang mereka butuhkan, fokus pada sekolah dan perguruan tinggi, serta menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas dengan keluarga dan teman,” ujar Menteri Teknologi Inggris Liz Kendall dalam sebuah pernyataan. “Kami ingin anak muda menikmati manfaat teknologi sambil memiliki alat untuk membuat dunia online menjadi tempat di mana mereka bisa berkembang,” tambah Kendall.

Perluasan Regulasi ke Kecerdasan Buatan

DSIT juga mengisyaratkan bahwa Kendall bertujuan untuk menghadirkan perlindungan tambahan seputar kecerdasan buatan (AI), termasuk mewajibkan jeda chatbot untuk anak di bawah 18 tahun. Anak-anak di bawah usia tersebut juga sudah akan diblokir dari platform AI yang dapat meniru percakapan romantis. Regulator akan ditugaskan untuk mengendalikan layanan yang memberikan “saran kesehatan mental yang berbahaya, menyesatkan, atau tidak terverifikasi.” Departemen tersebut memperingatkan bahwa chatbot yang ditemukan “menimbulkan ancaman serius” bagi anak muda Inggris dapat dilarang sama sekali.

Terakhir, pemerintah berupaya memperkuat literasi media anak-anak dengan kurikulum sekolah yang diperbarui yang mencakup AI, bias teknologi, serta mis- dan disinformasi, bersama dengan strategi untuk mengidentifikasi konten kekerasan dan misoginis. Langkah ini menunjukkan pendekatan holistik pemerintah Inggris dalam menghadapi tantangan era digital, tidak hanya melalui pembatasan tetapi juga melalui edukasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, ketika raksasa teknologi menghadapi gelombang gugatan hukum besar dan penelitian mengkhawatirkan terkait potensi efek negatif media sosial pada pengguna muda, para advokat bergerak di seluruh dunia untuk mendorong batasan usia yang luas pada platform ini, dengan orang tua dan politisi sering kali setuju tentang perlunya perlindungan semacam itu.

Dukungan Publik dan Kritik Terhadap Regulasi

Pemerintah Inggris, misalnya, menemukan bahwa sekitar 9 dari 10 orang tua di negara itu “mendukung persyaratan hukum bagi layanan media sosial untuk memiliki usia minimum akses.” Sebuah survei Pew Research Center yang diterbitkan bulan ini menemukan bahwa 56 persen orang dewasa Amerika juga akan mendukung larangan media sosial bagi mereka yang berusia di bawah 16 tahun. Angka-angka ini menunjukkan adanya konsensus publik yang kuat untuk melindungi anak-anak dari potensi bahaya dunia maya.

Namun, kelompok-kelompok termasuk Electronic Frontier Foundation (EFF), American Civil Liberties Union (ACLU), Amnesty International, dan GLAAD telah mengkritik tajam jenis “pembatasan usia” ini, dengan alasan bahwa ini adalah solusi yang terlalu sederhana yang membatasi hak atas informasi terbuka dan kebebasan berbicara. Mereka menunjukkan bahwa pembuat undang-undang dapat menggunakan pembatasan ini untuk menyensor pendidikan seks dan sumber daya LGBTQ yang sangat penting bagi remaja.

Pertanyaan mendasar lainnya adalah apakah regulasi ini benar-benar berhasil. Di Australia, yang pada bulan Desember menjadi negara pertama yang melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan sejumlah aplikasi media sosial populer, yang mengakibatkan penghapusan sekitar 5 juta akun dalam waktu satu bulan, penelitian awal menunjukkan bahwa sekitar 75 persen remaja berusia 14 hingga 15 tahun berhasil menghindari batasan usia tersebut. Pemerintah Australia sedang menyelidiki dugaan ketidakpatuhan Facebook, Instagram, Snapchat, TikTok, dan YouTube saat berjuang menegakkan hukum, dan kini berencana melipatgandakan denda bagi platform yang melanggar, meskipun hingga saat ini belum ada denda yang terkumpul.

Bagi Inggris, yang secara eksplisit menyatakan akan mengadopsi “model yang sama” dengan Australia untuk menjauhkan anak-anak dari media sosial, masalah serupa mungkin akan terjadi di masa depan. Kegagalan Australia dalam menegakkan larangan tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa regulasi tanpa penegakan yang efektif dan adaptasi terhadap perilaku pengguna muda mungkin tidak akan mencapai tujuannya.

Kebijakan jam malam digital Inggris ini memiliki implikasi langsung bagi para remaja dan orang tua. Bagi remaja, aturan ini berarti akses ke platform seperti TikTok, Instagram, dan Snapchat akan dibatasi secara otomatis pada jam-jam larut malam, yang secara teoritis dapat meningkatkan kualitas tidur dan konsentrasi di sekolah. Namun, kemudahan untuk menonaktifkan fitur ini menimbulkan keraguan tentang efektivitasnya dalam praktik. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa keterlibatan aktif orang tua, fitur yang dapat dimatikan ini mungkin tidak akan memberikan dampak yang signifikan.

Sementara itu, industri teknologi menghadapi tekanan regulasi yang semakin besar. Platform media sosial harus menyesuaikan algoritma dan desain antarmuka mereka untuk mematuhi aturan baru Inggris, yang dapat memengaruhi model bisnis yang bergantung pada keterlibatan pengguna jangka panjang. Perusahaan seperti Meta dan ByteDance mungkin perlu menginvestasikan sumber daya yang signifikan untuk mengembangkan sistem verifikasi usia yang lebih canggih dan mematuhi persyaratan baru tentang konten adiktif.

Pendekatan Inggris ini juga menjadi preseden bagi negara-negara lain yang sedang mempertimbangkan regulasi serupa. Jika Inggris berhasil menegakkan aturan ini secara efektif, negara lain mungkin akan mengadopsi model serupa. Namun, jika Inggris mengalami masalah yang sama seperti Australia—dengan tingkat penghindaran yang tinggi—hal ini dapat melemahkan argumen untuk regulasi berbasis usia sebagai solusi utama untuk melindungi anak-anak di dunia digital.

Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat tingginya penetrasi media sosial di kalangan remaja. Pemerintah Indonesia dapat memantau implementasi kebijakan Inggris untuk mengevaluasi efektivitas dan tantangannya sebelum mempertimbangkan langkah serupa. Selain itu, perkembangan teknologi seperti chip UFS 5.0 dari Samsung yang dirancang untuk mempercepat pemrosesan AI di ponsel, serta pemanfaatan AI untuk pengalaman wisata berbasis data, menunjukkan bahwa kecerdasan buatan semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pengaturan penggunaannya pada anak-anak menjadi semakin krusial.