Ilmuwan Ciptakan Kecoa Cyborg dengan Alat Selam Bawah Air

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Foto close-up seekor kecoa cyborg yang mengenakan pakaian untuk bernapas di bawah air.
  • Tim peneliti NTU Singapore berhasil menciptakan kecoa cyborg yang bisa dikendalikan jarak jauh dan dilengkapi alat selam mini.
  • Kecoa spesies Madagascar dipilih karena sangat tangguh, berumur hingga 5 tahun, dan seukuran jari manusia.
  • Alat selam menggunakan campuran hidrogen peroksida dan mangan dioksida untuk menghasilkan oksigen, bukan tangki oksigen konvensional.
  • Chip kendali dan baterai ditanam di dalam tubuh kecoa untuk menghindari hambatan mobilitas.
  • Dalam uji coba, kecoa cyborg mampu berjalan di bawah air hingga 3 jam dengan kecepatan hampir sama seperti di darat.
  • Teknologi ini diproyeksikan untuk misi penyelamatan di area bencana dan eksplorasi luar angkasa, termasuk Mars.

JBNews.id — Tim peneliti dari Nanyang Technological University (NTU) Singapore berhasil mengubah kecoa menjadi cyborg yang bisa dikendalikan jarak jauh dan dilengkapi alat selam mini, memungkinkan serangga tersebut berenang di bawah air. Inovasi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications dan disebut sebagai langkah awal menuju eksplorasi luar angkasa.

Studi yang dipimpin oleh Hirotaka Sato ini memanfaatkan spesies kecoa Madagascar yang dikenal sangat tangguh, memiliki umur hingga lima tahun, dan berukuran sebesar jari manusia. “Tujuan utamanya adalah membawa teknologi ini ke luar angkasa,” ujar Sato kepada New Scientist. “Ini seperti satu langkah besar menuju pakaian antariksa untuk serangga cyborg. Misalnya, untuk eksplorasi permukaan Mars.”

Para ahli robotika memang sudah lama tertarik pada kecoa karena potensi cybernetic-nya yang luar biasa. Serangga ini terkenal sulit dimatikan, menjadikannya kandidat ideal untuk bertahan di lingkungan ekstrem dalam waktu lama. Namun, kecoa bukanlah hewan amfibi, sehingga menjadi kendala besar jika ingin digunakan di area bencana yang sering tergenang air.

Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti merancang dan mencetak 3D pakaian khusus yang menyediakan oksigen. Pakaian ini menutupi pori-pori pernapasan kecoa yang disebut spirakel. Spirakel di dekat kaki serangga dihubungkan dengan selang agar bagian utama pakaian tidak membatasi pergerakan kaki.

Alih-alih menyimpan oksigen dalam tangki, pakaian tersebut diisi dengan campuran hidrogen peroksida dan mangan dioksida. Campuran ini secara perlahan terurai dan menghasilkan oksigen. Para peneliti juga memutuskan untuk menanamkan chip kendali dan baterai kecil di dalam tubuh kecoa, setelah menemukan bahwa jika ditempatkan di ransel di punggung, justru menghambat mobilitas serangga tersebut.

Baca Juga:

Dalam pengujian, kecoa penyelam ini mampu berjalan di bawah air hingga tiga jam setiap kalinya, dengan kecepatan yang hampir sama seperti saat bergerak di darat. Para peneliti melaporkan bahwa kecoa tidak mengalami efek samping yang merugikan dan tetap sehat berhari-hari setelah ekspedisi akuatik mereka.

Foto close-up seekor kecoa cyborg yang mengenakan pakaian untuk bernapas di bawah air.

Serangga cyborg mungkin tidak memberikan tingkat kendali yang sama seperti robot mekanis, tetapi memiliki keunggulan lain. Mereka lebih murah dan, yang terpenting, sangat hemat energi. Sato dan timnya mengusulkan bahwa suatu hari nanti, kawanan drone biologis ini dapat digunakan untuk menjelajahi lingkungan berbahaya, seperti area bencana yang sering terendam banjir.

Konsep ini membuka peluang baru dalam teknologi robotik yang lebih adaptif dan murah. Dengan kemampuan bertahan di air hingga tiga jam, kecoa cyborg ini bisa menjadi solusi untuk misi pencarian dan penyelamatan di area yang sulit dijangkau manusia atau robot konvensional.

Meskipun masih dalam tahap awal, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi antara biologi dan teknologi dapat menghasilkan inovasi yang melampaui batas kemampuan robot tradisional. Ambisi Sato untuk membawa teknologi ini ke Mars mungkin terdengar ambisius, namun langkah demi langkah, timnya terus membuktikan bahwa kecoa cyborg bisa menjadi alat eksplorasi yang andal, baik di Bumi maupun di luar angkasa.

Jika suatu saat Anda terjebak di suatu tempat dan membutuhkan pertolongan, secercah harapan pertama mungkin datang dari seekor serangga cyborg yang merangkak mendekat. Masa depan penyelamatan dan eksplorasi mungkin akan sangat bergantung pada makhluk kecil yang selama ini dianggap sebagai hama.

Inovasi ini juga mengingatkan kita pada perkembangan lain di dunia teknologi, seperti fitur video vertikal yang terus berevolusi, atau kamera stabil 4K yang semakin canggih. Semua ini menunjukkan bahwa batas antara fiksi ilmiah dan kenyataan semakin tipis.