WSC Sports Hasilkan Konten Piala Dunia Pakai AI Sepenuhnya

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi pemain sepak bola dengan efek filter minyak yang sengaja dibuat buram menyerupai hasil AI generatif awal.
  • WSC Sports klaim produksi konten Piala Dunia 2026 sepenuhnya menggunakan AI tanpa campur tangan manusia
  • Wakil Presiden Itai Epstein ungkap kemitraan dengan Kan 11 untuk siaran Piala Dunia
  • AI menganalisis pertandingan real-time dan hasilkan konten untuk berbagai platform
  • Divisi WSC Studios hasilkan serial animasi "The Alley & Oop Show" untuk anak-anak
  • Penggunaan AI telah kurangi jumlah staf secara signifikan
  • Suara karakter anak dihasilkan dari kloning suara aktor asli
  • Studi terbaru tunjukkan AI masih lemah dalam analisis peristiwa olahraga
  • Pertanyaan besar tentang akurasi klaim dan penerimaan penggemar olahraga

JBNews.id — Perusahaan teknologi olahraga WSC Sports mengklaim telah memproduksi seluruh konten siaran Piala Dunia 2026 secara otomatis menggunakan kecerdasan buatan (AI), tanpa keterlibatan manusia dalam proses editing maupun produksi studio. Klaim ini disampaikan langsung oleh Wakil Presiden New Ventures WSC Sports, Itai Epstein, dalam ajang Microsoft AI Tour Tel Aviv 2026.

Epstein mengungkapkan bahwa perusahaannya telah bermitra dengan penyiar publik Israel, Kan 11, untuk menyediakan materi siaran Piala Dunia yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Menurutnya, teknologi ini memungkinkan personalisasi konten olahraga secara massal untuk khalayak global.

“Dengan AI, Anda dapat membuat konten olahraga yang jauh lebih personal dan lokal, di mana setiap orang hanya dapat melihat apa yang mereka inginkan, kapan mereka mau, di mana pun mereka berada,” ujar Epstein dalam sesi panel yang diliput oleh Calcalist.

WSC Sports mengklaim sistem AI mereka mampu menganalisis pertandingan secara real-time, mengidentifikasi momen-momen menarik, dan secara otomatis menghasilkan berbagai format konten untuk platform digital, televisi, dan media lainnya. Proses ini disebut berjalan tanpa campur tangan manusia dalam bentuk penyuntingan atau produksi studio.

“AI menganalisis pertandingan secara langsung, mengidentifikasi apa yang menarik, dan memproduksi segala jenis konten untuk digital, televisi, dan setiap platform,” tegas Epstein.

Perusahaan yang berbasis di Israel ini juga telah mengembangkan divisi baru bernama WSC Studios dalam dua tahun terakhir. Divisi ini menggunakan model generatif untuk teks, audio, gambar, dan video guna menciptakan konten olahraga yang ditargetkan untuk anak-anak.

Salah satu proyek unggulan WSC Studios adalah serial animasi berjudul “The Alley & Oop Show” yang bekerja sama dengan NBA. Serial ini menghadirkan dua karakter fiksi bernama Alley dan Oop yang menggunakan kendaraan ajaib bernama ‘Hoopmobile’ untuk bepergian dari satu kota ke kota lain di Amerika Serikat sambil mengenalkan pemain, permainan, dan tim NBA kepada anak-anak.

“Ini adalah serial digital bergambar dengan dua karakter anak yang seperti kreator NBA untuk anak-anak. Mereka memiliki bus ajaib, ‘Hoopmobile,’ yang membawa mereka dari kota ke kota di Amerika Serikat,” jelas Epstein. “Mereka mengajarkan anak-anak tentang pemain, permainan, dan tim, dan itu adalah bagian dari apa yang kami lakukan untuk menghubungkan generasi berikutnya dengan olahraga.”

Epstein juga mengakui bahwa adopsi AI telah menghasilkan pengurangan jumlah staf secara signifikan. Untuk konten anak-anak, suara karakter dihasilkan menggunakan model text-to-speech berdasarkan versi kloning dari suara aktor asli. Sementara untuk seri olahraga dewasa, proses produksi kini membutuhkan “lebih sedikit orang.”

Klaim WSC Sports ini muncul di tengah kekhawatiran yang berkembang tentang kualitas konten yang dihasilkan AI. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa sistem AI masih memiliki kelemahan signifikan dalam menganalisis, mengindeks, dan memberi label peristiwa olahraga. Mengingat sebagian besar bisnis WSC Sports berfokus pada transformasi konten olahraga langsung dan arsip menjadi pengalaman yang cerdas, mudah dicari, dan personal, masih menjadi pertanyaan besar seberapa akurat klaim Epstein.

WSC Sports bukan satu-satunya perusahaan yang mendorong batas penggunaan AI dalam industri kreatif. Di sektor lain, Startup AI juga bereksperimen dengan pendekatan radikal untuk mengumpulkan data pelatihan, termasuk menawarkan layanan pembersihan apartemen gratis sebagai imbalan akses ke lingkungan rumah tangga. Sementara itu, Bezos dan Startup AI lainnya fokus pada pengembangan insinyur buatan yang dapat menggantikan peran manusia di bidang teknik.

Dalam konteks industri yang lebih luas, penggunaan AI untuk menggantikan tenaga kerja manusia telah memicu perdebatan etis dan regulasi. Beberapa perusahaan rintisan bahkan terpaksa melakukan PHK massal karena tekanan dari regulator, seperti yang dilaporkan dalam Startup World PHK Karyawan. Sementara itu, program seperti KSGC 2026 terus membuka akses pendanaan dan pasar global bagi startup yang ingin berkembang.

Pertanyaan kritis yang kini mengemuka adalah apakah penggemar olahraga akan menerima konten yang dihasilkan AI ini, atau justru menolaknya sebagai “sampah AI” yang mengurangi kualitas pengalaman menonton. Dengan WSC Sports yang mengklaim bahwa “semua konten Piala Dunia yang Anda tonton berasal dari WSC Sports,” masa depan produksi konten olahraga tampaknya akan sangat bergantung pada sejauh mana teknologi AI dapat memenuhi ekspektasi kualitas dari pemirsa global.

Bagi pemirsa di Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Jika WSC Sports berhasil membuktikan model bisnisnya, bukan tidak mungkin konten siaran olahraga internasional di masa depan akan semakin banyak diproduksi secara otomatis, mengurangi peran kru produksi manusia, dan berpotensi mengubah lanskap industri penyiaran olahraga secara fundamental.

Epstein menutup presentasinya dengan keyakinan bahwa pendekatan AI adalah masa depan yang tak terelakkan. “Kami menciptakan konten untuk semua orang yang menonton liputan Piala Dunia,” katanya. “Semua orang yang menonton konten olahraga di Israel juga menerima cerita melalui kami yang diperbarui secara langsung selama pertandingan, serta ringkasan pertandingan.”

Namun, tanpa data verifikasi independen tentang kualitas dan akurasi konten yang dihasilkan, klaim WSC Sports masih harus diuji di lapangan. Industri olahraga global akan menjadi hakim akhir: apakah inovasi ini akan dirayakan sebagai terobosan efisiensi, atau dikritik sebagai pengorbanan kualitas demi kecepatan dan penghematan biaya.