JBNews.id — Warga Dowagiac, Michigan, Amerika Serikat, menggugat operator pusat data Hyperscale Data Inc. karena kebisingan ekstrem dari fasilitas tersebut yang disebut setara dengan suara mesin jet.
Marjorie dan Billy Finn, pasangan suami istri yang rumahnya berada tepat di depan kompleks pusat data berkapasitas 30 megawatt itu, mengaku hidup mereka berubah drastis sejak fasilitas tersebut beroperasi pada 2022. Suara dengung konstan dari data center digambarkan seperti suara mesin jet yang tidak pernah berhenti.
“Rasanya kami hidup di penjara di halaman dan rumah kami sendiri,” kata Marjorie Finn kepada MLive, seperti dikutip Futurism. Ia bahkan masih bisa mendengar dengungan tersebut saat mencoba tidur di malam hari.
Billy Finn, yang telah memantau tingkat kebisingan sejak 2022, mencatat peningkatan signifikan. Awalnya, tingkat desibel di Louise Avenue sekitar 52 desibel. Kini, angkanya mencapai 61 desibel dan terkadang melonjak hingga 78 desibel. Di dalam rumah, tingkat kebisingan turun menjadi 39 desibel, setara dengan kantor atau perpustakaan yang tenang. Namun, saat pintu dibuka, suara langsung melonjak ke 62 desibel, mirip dengan suara pesawat jet yang meluncur di landasan pacu dari kejauhan.
“Ini seperti jalan kota besar yang ramai dengan lalu lintas kendaraan,” ujar Billy Finn.
Dua warga lainnya telah mengajukan gugatan terhadap Hyperscale Data, menuduh bahwa rumah mereka “secara fisik diserang” oleh “kebisingan berlebihan” dari fasilitas tersebut. Gugatan itu juga menuduh Hyperscale Data gagal menerapkan langkah-langkah peredam suara yang memadai, seperti dinding beton yang mengelilingi jalan raya di kawasan pemukiman. Meskipun Finn diminta bergabung, mereka menolak.
Baca Juga:
Dampak Kesehatan yang Mengkhawatirkan
Polusi suara dari pusat data bukanlah keluhan baru. Sejumlah penelitian dan laporan sebelumnya telah menyoroti masalah ini. The Nashville Zoo di Tennessee, misalnya, pernah memperingatkan bahwa konstruksi pusat data di dekatnya dapat membahayakan hewan yang hidup di penangkaran.
The Environmental and Energy Study Institute menyatakan bahwa pusat data memancarkan suara pada frekuensi ultra-rendah yang, dalam jangka waktu lama, dapat memicu berbagai gejala seperti kecemasan dan mual, meskipun bukti ilmiah mengenai hal ini masih diperdebatkan.
Kim Kragt, audiolog utama dari Bronson Hospital, menjelaskan bahwa meskipun 62 desibel tidak akan merusak telinga secara langsung, paparan terus-menerus dalam jangka panjang dapat meningkatkan tingkat stres dan bahkan dikaitkan dengan masalah jantung. “Bahkan pada tingkat yang lebih rendah, jika tidak merusak telinga, itu merusak kesehatan dan kesejahteraan Anda secara keseluruhan,” kata Kragt. Ia menambahkan bahwa karena dengungan pusat data bersifat “tidak alami”, mungkin lebih sulit bagi tubuh untuk beradaptasi dengannya.
Nasib Warga yang Terjebak
Bagi keluarga Finn, situasi ini terasa seperti kehilangan besar. Mereka mengaku semakin sedikit teman dan keluarga yang berkunjung karena kebisingan. Mereka juga khawatir nilai properti rumah mereka anjlok akibat keberadaan pusat data tersebut.
“Mereka telah mencuri sesuatu dari kami,” kata Marjorie. “Rasanya seperti kehilangan yang sangat besar.”
Kasus di Dowagiac ini menjadi pengingat nyata bahwa ekspansi infrastruktur digital, meskipun penting, harus mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan terhadap masyarakat sekitar. Hyperscale Data Inc. sendiri baru-baru ini mengumumkan rencana ekspansi besar-besaran untuk fasilitas tersebut, yang berpotensi memperburuk masalah kebisingan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai isu terkait pusat data, Anda dapat membaca artikel tentang Pencurian Kabel Data Center yang merugikan hingga miliaran rupiah.
Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang regulasi pembangunan pusat data di kawasan pemukiman. Belajar dari pengalaman di Dowagiac, diharapkan ada kebijakan yang lebih ketat untuk melindungi hak-hak warga dari dampak negatif operasional pusat data. Teknologi memang harus maju, tetapi tidak boleh mengorbankan kualitas hidup masyarakat.




