Ilmuwan Ciptakan Kecoa Cyborg Bertahan di Air Tiga Jam

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Kecoa cyborg dengan baju selam mini hasil cetak 3D untuk bertahan di air
  • Ilmuwan dari NTU Singapura dan Waseda University Jepang ciptakan kecoa cyborg yang bisa menyelam hingga tiga jam
  • Kecoa Madagaskar dibekali baju selam mini cetak 3D dengan reaksi kimia hidrogen peroksida dan mangan dioksida
  • Kecoa cyborg dapat dikendalikan jarak jauh dan tetap bergerak aktif di bawah air
  • Tanpa perangkat, kecoa hanya bertahan dua menit di air
  • Teknologi ditujukan untuk operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi bencana
  • Ke depan akan diuji untuk eksplorasi luar angkasa, termasuk permukaan Mars

JBNews.id — Tim peneliti dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan Waseda University Jepang berhasil menciptakan kecoa cyborg yang mampu bertahan di dalam air hingga tiga jam. Teknologi biohybrid ini memanfaatkan kecoa Madagaskar yang dibekali ‘baju selam’ mini hasil cetak 3D pemasok oksigen, membuka potensi baru dalam operasi pencarian dan penyelamatan.

Kecoa dikenal sebagai salah satu serangga paling tangguh di dunia. Kini, para ilmuwan berhasil meningkatkan kemampuannya dengan mengubahnya menjadi kecoa cyborg yang dapat dikendalikan dari jarak jauh dan bertahan di dalam air hingga tiga jam. Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini menarik karena para ilmuwan tidak membuat robot dari nol. Sebaliknya, mereka memanfaatkan kemampuan alami kecoa yang sudah piawai bergerak di medan sempit dan tidak rata, lalu menggabungkannya dengan sistem elektronik sehingga tercipta biohybrid robot atau robot hibrida berbasis makhluk hidup.

Selama ini, kecoa cyborg sebenarnya sudah dapat dikendalikan menggunakan rangsangan listrik melalui elektroda kecil yang dipasang pada tubuhnya. Namun, kemampuan tersebut terbatas di daratan karena kecoa hanya mampu bertahan beberapa menit ketika terendam air. Untuk mengatasinya, peneliti merancang ‘baju selam’ mungil yang kedap air sekaligus mampu menghasilkan oksigen. Alih-alih menggunakan tabung oksigen seperti penyelam manusia, perangkat tersebut memanfaatkan reaksi kimia antara hidrogen peroksida dan mangan dioksida untuk menghasilkan oksigen yang kemudian dialirkan ke lubang pernapasan kecoa.

Hasilnya, kecoa cyborg dapat tetap aktif, bergerak, dan merespons kendali dari peneliti selama dua hingga tiga jam di bawah air. Sebagai perbandingan, kecoa tanpa perangkat tersebut hanya mampu bertahan sekitar dua menit sebelum kehabisan oksigen.

Keunggulan lain dari teknologi ini adalah kecoa tidak kehilangan kemampuan alaminya. Setelah keluar dari air, serangga tersebut dapat langsung berjalan kembali di daratan tanpa perlu melepas perangkat yang dikenakannya. Dengan kata lain, kecoa cyborg ini berubah menjadi makhluk amfibi yang mampu beroperasi di dua lingkungan berbeda. Selain itu, karena gerak utamanya masih menggunakan otot alami kecoa, perangkat elektronik yang dipasang tidak membutuhkan baterai besar maupun motor penggerak seperti robot konvensional. Hal ini membuat sistem menjadi lebih ringan dan hemat energi.

Menurut para peneliti, teknologi ini dikembangkan bukan untuk menciptakan ‘serangga super’, melainkan membantu manusia menjangkau lokasi yang sulit diakses. Prof. Hirotaka Sato, peneliti dari School of Mechanical and Aerospace Engineering, Nanyang Technological University, mengatakan lokasi bencana sering kali dipenuhi lorong sempit, puing bangunan, maupun genangan air yang sulit dimasuki robot biasa.

“Baju selam serangga yang kami kembangkan bekerja seperti tabung oksigen yang digunakan penyelam manusia,” kata Sato. Ia menambahkan, kemampuan baru tersebut diharapkan dapat memperluas peran kecoa cyborg dalam operasi pencarian dan penyelamatan. “Dengan memperluas kemampuan kecoa cyborg hingga bisa bergerak di bawah air, kami yakin mereka dapat meningkatkan efektivitas operasi pencarian dan penyelamatan,” ujarnya.

Pemanfaatan kecoa cyborg juga tidak berhenti di Bumi. Para peneliti menilai biohybrid seperti ini lebih efisien dibanding robot mini sepenuhnya karena memanfaatkan kemampuan alami serangga untuk bergerak, menjaga keseimbangan, dan memperoleh energi dari makanan. Ke depan, tim berencana menguji perangkat tersebut di lingkungan yang lebih ekstrem, termasuk kondisi yang menyerupai luar angkasa. “Tujuan akhirnya adalah membawa teknologi ini ke luar angkasa. Ini adalah satu langkah menuju pakaian luar angkasa bagi serangga cyborg, misalnya untuk eksplorasi permukaan Mars,” kata Sato.

Teknologi ini menggunakan kecoa Madagaskar (Madagascar hissing cockroach) sebagai basis. Pemilihan spesies ini didasarkan pada ukurannya yang relatif besar dibanding kecoa biasa, sehingga lebih mudah dipasangi perangkat elektronik dan ‘baju selam’.

Meski terdengar seperti cerita film fiksi ilmiah, penelitian ini menunjukkan bagaimana perpaduan biologi dan robotika dapat melahirkan teknologi baru yang berpotensi membantu pencarian korban bencana, inspeksi infrastruktur berbahaya, hingga eksplorasi planet lain pada masa depan. Data dari penelitian menunjukkan bahwa kecoa cyborg mampu merespons kendali jarak jauh secara konsisten selama periode penyelaman, membuktikan keandalan sistem dalam kondisi basah.

Para ilmuwan terus menyempurnakan desain ‘baju selam’ agar lebih ringan dan efisien. Mereka juga mengeksplorasi kemungkinan penambahan sensor untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan atau gas berbahaya di lingkungan terendam. Langkah ini sejalan dengan upaya menciptakan alat pencarian yang lebih murah dan mudah dikerahkan dibanding robot konvensional.

Penelitian ini juga membuka diskusi tentang etika penggunaan serangga sebagai platform robotik. Namun, para peneliti menekankan bahwa kecoa tidak dirugikan secara signifikan dan dapat kembali beraktivitas normal setelah perangkat dilepas.

Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan teknologi biohybrid, artikel terkait tentang sel sintetis pertama yang bisa tumbuh dan membelah juga memberikan gambaran tentang kemajuan di bidang biologi sintetis. Inovasi seperti ini menunjukkan bahwa batas antara organisme hidup dan mesin semakin kabur.

Implikasinya jelas: teknologi kecoa cyborg ini menawarkan solusi praktis untuk situasi darurat di mana akses manusia terbatas. Dengan biaya pengembangan yang lebih rendah dibanding robot konvensional dan kemampuan adaptasi yang tinggi, biohybrid robot berpotensi menjadi alat standar dalam operasi penyelamatan di masa depan.