ELIZA: Chatbot Pertama yang Bentuk Masa Depan AI

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Tampilan antarmuka program chatbot ELIZA dari tahun 1960-an dengan teks percakapan hijau di layar hitam
  • ELIZA adalah chatbot pertama yang diciptakan Joseph Weizenbaum pada 1960-an di MIT
  • Buku "Inventing ELIZA" mengungkap kode sumber asli dari Arsip MIT untuk pertama kalinya
  • Efek ELIZA adalah kecenderungan manusia menganggap program komputer lebih pintar dari kenyataan
  • ELIZA tidak dimaksudkan untuk lulus Tes Turing, melainkan mengeksplorasi faktor psikologis
  • Weizenbaum menjadi kritikus awal industri AI dan memperingatkan dampak dehumanisasi
  • Warisan ELIZA masih terlihat dalam chatbot modern seperti ChatGPT dan asisten AI

JBNews.id — Program komputer ELIZA, yang diciptakan pada 1960-an, menjadi cikal bakal chatbot modern dan terus relevan di tengah perkembangan pesat kecerdasan buatan. Buku terbaru berjudul Inventing ELIZA mengungkap kode sumber asli program tersebut dari Arsip MIT, memberikan pemahaman baru tentang bagaimana sistem ini bekerja dan bagaimana ia membentuk interaksi manusia dengan komputer selama puluhan tahun.

Asal-Usul dan Cara Kerja ELIZA

ELIZA diciptakan oleh ilmuwan komputer MIT, Joseph Weizenbaum, pada pertengahan 1960-an. Program ini dirancang untuk meniru percakapan manusia melalui serangkaian skrip, dengan persona paling terkenal bernama “DOCTOR” yang berperan sebagai psikoterapis. Weizenbaum memilih nama ELIZA setelah tokoh Eliza Doolittle dari drama Pygmalion karya George Bernard Shaw, karena program tersebut bisa “diajari” untuk berbicara semakin baik, mirip dengan karakter fiksi yang belajar berbicara seperti wanita kelas atas.

Weizenbaum sendiri secara eksplisit menjauhkan ELIZA dari klaim kecerdasan. Dalam makalahnya tahun 1966, ia menulis bahwa “tes pemahaman yang krusial bukanlah kemampuan subjek untuk melanjutkan percakapan, tetapi untuk menarik kesimpulan yang valid.” Ia menambahkan bahwa ELIZA justru “membuang sebagian besar inputnya” dan memiliki “salah satu tujuan utamanya adalah menyembunyikan ketidakpahamannya.”

Fenomena Efek ELIZA

Setelah melihat reaksi publik terhadap ELIZA, Weizenbaum terkejut dengan cepatnya ikatan emosional yang terbentuk antara manusia dan program tersebut. Ia menganggapnya sebagai “bukti jelas bahwa orang-orang berbicara dengan komputer seolah-olah itu adalah seseorang yang bisa diajak bicara secara intim dan berguna.” Kecenderungan ini kemudian dikenal sebagai efek ELIZA.

Sosiolog Sherry Turkle mendefinisikan efek ELIZA sebagai “kecenderungan umum kita untuk memperlakukan program komputer yang responsif sebagai lebih pintar dari kenyataannya.” Sementara itu, ilmuwan kognitif Douglas Hofstadter menggambarkannya sebagai “kerentanan orang untuk membaca pemahaman yang jauh lebih banyak dari yang seharusnya ke dalam rangkaian simbol—terutama kata-kata—yang dirangkai oleh komputer.”

Baca Juga:

Hubungan dengan Tes Turing

ELIZA muncul dalam konteks tantangan yang dirumuskan oleh ilmuwan komputer Alan Turing dalam esainya “Computing Machinery and Intelligence.” Turing mengajukan pertanyaan “Dapatkah Mesin Berpikir?” melalui eksperimen pemikiran yang dikenal sebagai Tes Turing. Dalam tes ini, seorang interogator mencoba mengidentifikasi mana dari dua entitas tersembunyi yang merupakan manusia dan mana yang mesin.

Meskipun Weizenbaum merujuk pada permainan tiruan Turing dalam makalahnya, ia secara tegas menyatakan bahwa ELIZA tidak pernah dimaksudkan untuk lulus Tes Turing. Sebaliknya, program ini dirancang untuk mengeksplorasi faktor psikologis yang menyebabkan manusia salah menafsirkan kemampuannya.

Fenomena ini masih relevan hingga saat ini, terutama dengan munculnya chatbot berbasis AI modern seperti ChatGPT. Banyak platform chatbot AI pesaing yang terus bermunculan dan menghadapi tantangan regulasi serupa.

Warisan ELIZA dalam AI Modern

Meskipun terlihat sederhana bagi audiens kontemporer, ELIZA telah menjawab banyak pertanyaan desain yang masih dihadapi sistem saat ini. Pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti bagaimana manusia dan mesin harus berinteraksi, bagaimana komunikasi dapat direpresentasikan secara komputasional, dan sejauh mana mesin dapat memengaruhi pengguna, semuanya telah dijelajahi oleh ELIZA pada 1960-an.

ELIZA memengaruhi perkembangan pengolahan string dan analisis teks, serta penelitian tentang sintesis teks, pengenalan entitas, dan analisis sentimen. Bidang-bidang ini kemudian berkembang menjadi apa yang kini disebut pemrosesan bahasa alami (NLP).

Kemunculan kembali antarmuka chatbot mirip ELIZA dalam model bahasa besar kontemporer menunjukkan bahwa silsilah perangkat lunak awal dapat membantu kita memahami teknologi baru. Seperti yang diungkapkan dalam buku Inventing ELIZA, “meskipun banyak yang telah berubah, lebih banyak lagi yang tetap sama.”

Kritik Weizenbaum terhadap Industri AI

Weizenbaum menjadi kritikus awal terhadap apa yang kini disebut sektor teknologi dan pola pikir akselerasi eksponensial. Ia memperingatkan bahwa sistem otomatis dapat menyebabkan eksploitasi ketika manusia digantikan, dirugikan, atau diperlakukan tidak adil oleh sistem tersebut.

Weizenbaum berargumen bahwa menghilangkan bahasa dari konteks sosialnya dan memperlakukannya sebagai kumpulan konsep abstrak dalam sistem komputasi dapat menjadi dehumanisasi. Risikonya termasuk pelanggaran privasi, eksploitasi, pemindahan tenaga kerja, dan diskriminasi.

Dalam praktiknya, model bahasa besar saat ini didukung oleh jutaan jejak tulisan dan percakapan manusia yang disedot ke dalam kumpulan data tanpa sepengetahuan atau persetujuan penciptanya. Beberapa kontraktor AI bahkan menggunakan chatbot untuk menghasilkan data pelatihan, menciptakan siklus yang problematik.

Buku Inventing ELIZA juga menyoroti bagaimana sistem seperti ELIZA menjadi situs di mana pertanyaan tentang identitas, performativitas, dan perwujudan dimainkan melintasi algoritma historis dengan implikasi bagi sistem AI kontemporer. Hal ini semakin relevan mengingat insiden seperti Grok Elon Musk yang menghasilkan konten eksplisit, menunjukkan bahwa masalah etika dalam AI masih belum terselesaikan.

Implikasi untuk Masa Depan

Pelajaran dari ELIZA menunjukkan bahwa antarmuka chatbot yang menawan sering kali menyembunyikan mesin yang sebenarnya, yang mencakup kombinasi prediksi statistik, prosedur berbasis aturan, dan tenaga kerja manusia yang disamarkan sebagai kerja mesin. Dari perspektif pengguna, hal ini menyisakan kesempatan terbatas untuk membedakan antara gembar-gembor dan substansi.

Weizenbaum memperingatkan bahwa “seseorang menjadi terdehumanisasi setiap kali ia diperlakukan sebagai kurang dari pribadi yang utuh.” Peringatan ini semakin relevan di era di mana sistem AI semakin banyak digunakan untuk mengelola pertanyaan pelanggan, membantu pekerjaan rumah, menggantikan asisten pengajar, dan bahkan bertindak sebagai teman bicara dan konselor.

Buku Inventing ELIZA berupaya mengoreksi dan memperumit sejarah serta pengaruh ELIZA dengan mengeksplorasi kesalahpahaman, beberapa versi, dan kode yang hilang dari program tersebut. Seperti yang ditulis para penulisnya, “penyelidikan ini mengungkapkan banyak ELIZA: dalam versi program yang berbeda, dirancang untuk menjalankan berbagai skrip atau persona, dibangun menggunakan serangkaian inovasi teknis.”

Pemahaman tentang sejarah ini penting bagi siapa pun yang ingin memahami dinamika industri AI saat ini, termasuk bagaimana asisten AI seperti Siri telah mengubah cara pengguna berinteraksi dengan perangkat mereka.