CEO DeepMind Usulkan Pengawas AI Global Demi Keamanan

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi Demis Hassabis CEO Google DeepMind dengan latar visual kecerdasan buatan dan jaringan global.
  • CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, mengusulkan badan pengawas AI global
  • Badan ini memiliki wewenang mengevaluasi dan menghentikan model AI berbahaya
  • AS dianggap sebagai lokasi ideal untuk memimpin inisiatif ini
  • Hassabis telah melakukan pertemuan dengan pemerintahan Trump dan pejabat Eropa
  • Target operasional badan ini adalah sebelum akhir tahun 2026
  • Belum ada aturan global atau nasional yang komprehensif untuk AI

JBNews.id — Demis Hassabis, CEO sekaligus salah satu pendiri Google DeepMind, mengusulkan pembentukan badan pengawas kecerdasan buatan (AI) global yang memiliki wewenang untuk memperlambat atau menghentikan peluncuran model AI yang dinilai terlalu berbahaya. Usulan ini disampaikan melalui sebuah blog pribadi, menandai langkah terbaru dari para pemimpin industri untuk menciptakan kerangka regulasi yang koheren bagi sistem AI yang semakin canggih.

Dalam tulisannya, Hassabis menekankan bahwa Amerika Serikat (AS) adalah negara yang paling ideal untuk memimpin inisiatif ini. “Mengingat posisi ekonomi dan teknologinya,” tulisnya, AS dianggap sebagai tempat terbaik untuk menetapkan standar global. Badan yang diusulkan ini akan menyerupai regulator yang sudah ada, seperti Financial Industry Regulatory Authority (FINRA), dan akan terdiri dari para pakar independen terkemuka serta perwakilan dari komunitas open-source.

Wewenang utama badan ini adalah mengevaluasi model-model AI canggih (frontier models) sebelum dirilis ke publik. Jika dinilai terlalu berisiko untuk diterapkan, badan tersebut dapat mengoordinasikan perlambatan di seluruh industri. Blog yang berjudul “A Framework for Frontier AI and the Dawning of a New Age” ini berargumen bahwa kebutuhan akan regulasi global semakin mendesak seiring meningkatnya kecanggihan sistem AI.

Urgensi Regulasi di Era Kecerdasan Umum Buatan

Hassabis menyatakan bahwa kecerdasan umum buatan (AGI) “mungkin hanya dalam beberapa tahun ke depan.” Ia menambahkan, “Ketika kita melihat kembali masa ini di dekade-dekade mendatang, saya pikir kita akan menyadari bahwa kita sedang berdiri di kaki gunung singularitas—tidak kurang dari awal mula era baru bagi umat manusia.” Pernyataan ini mencerminkan keyakinannya bahwa perkembangan AI akan mencapai titik puncak yang mengubah peradaban.

Menurut laporan Axios, Hassabis telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk secara diam-diam membangun dukungan bagi proposalnya. Ia telah melakukan serangkaian pertemuan dengan pemerintahan Trump, laboratorium AI lainnya, dan pejabat Eropa. Hassabis berharap organisasi baru ini dapat beroperasi sebelum akhir tahun. Ia mengungkapkan kepada Axios bahwa “sinyal yang saya dengar [dari pemerintahan Trump] sangat positif.”

Proposal ini merupakan upaya terbaru dari Hassabis dan para pemimpin industri lainnya untuk menetapkan kerangka kerja yang jelas dalam mengatur sistem AI yang semakin kuat, sekaligus mengurangi risiko yang mungkin ditimbulkannya. Saat ini, belum ada seperangkat aturan global yang secara spesifik mengatur AI, demikian pula di tingkat nasional di AS.

Langkah Hassabis ini melanjutkan komitmennya terhadap keamanan AI. Sebagai penerima bersama Hadiah Nobel Kimia 2024 untuk karyanya tentang prediksi protein berbasis AI, ia juga turut menandatangani pernyataan yang menyerukan perlindungan yang lebih ketat terhadap produksi senjata biologis yang dibantu AI pada bulan lalu.

Dukungan dari Para Pemimpin Industri dan Ekonom

Pernyataan terbaru Hassabis mengikuti seruan dari para ekonom top dan tokoh teknologi—termasuk salah satu pendiri Anthropic, Jack Clark, dan mantan CEO Google, Eric Schmidt—yang mendesak para pemimpin dunia untuk menanggapi dengan serius dampak ekonomi yang akan ditimbulkan oleh AI. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran akan risiko AI tidak hanya datang dari satu pihak, melainkan telah menjadi konsensus di kalangan elit teknologi dan ekonomi global.

Ketiadaan regulasi yang komprehensif saat ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi penyalahgunaan AI, mulai dari penyebaran misinformasi hingga pengembangan senjata otonom. Usulan Hassabis untuk membentuk badan pengawas yang independen dan berwenang diharapkan dapat menjadi solusi untuk menjembatani kesenjangan ini. Badan tersebut nantinya tidak hanya akan mengevaluasi risiko, tetapi juga memastikan bahwa pengembangan AI tetap berada dalam koridor yang aman dan etis.

Dalam konteks yang lebih luas, usulan ini juga menyoroti perdebatan tentang siapa yang seharusnya memegang kendali atas pengembangan AI—apakah perusahaan swasta, pemerintah nasional, atau badan internasional. Dengan mengusulkan model yang mirip dengan regulator keuangan, Hassabis mencoba menawarkan jalan tengah yang memungkinkan inovasi tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek keamanan.

Ke depannya, keberhasilan proposal ini akan sangat bergantung pada kemauan politik dari negara-negara besar, terutama AS, untuk mendelegasikan sebagian wewenangnya kepada badan internasional. Namun, dengan dukungan yang terus ia kumpulkan, Hassabis optimis bahwa kerangka regulasi ini dapat terwujud lebih cepat dari yang diperkirakan. Bagi publik, ini berarti bahwa masa depan AI tidak lagi hanya ditentukan oleh perusahaan teknologi, tetapi juga oleh para pakar dan perwakilan masyarakat yang akan memastikan bahwa teknologi ini dikembangkan untuk kebaikan bersama.

Sementara itu, Google sendiri tengah menghadapi berbagai tantangan di bidang keamanan siber. Baru-baru ini, Botnet Popa berhasil dibongkar oleh tim keamanan Google setelah membajak jutaan Smart TV di seluruh dunia. Insiden ini menunjukkan betapa pentingnya pengawasan ketat tidak hanya pada AI, tetapi juga pada infrastruktur digital secara keseluruhan.

Di sisi lain, inisiatif transparansi juga terus didorong oleh Google. Perusahaan tersebut kini mewajibkan label AI pada setiap iklan yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan melalui platform My Ad Center. Langkah ini merupakan bagian dari upaya yang lebih besar untuk membangun kepercayaan publik terhadap konten yang dihasilkan oleh AI.

Dengan berbagai perkembangan ini, jelas bahwa diskusi tentang regulasi AI tidak akan surut. Usulan Hassabis hanyalah salah satu dari sekian banyak inisiatif yang bertujuan untuk memastikan bahwa revolusi AI berjalan dengan aman, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh umat manusia.