Perusahaan Menyesal PHK Massal Demi AI, Kini Rekrut Kembali Manusia

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi karyawan perempuan dengan skill AI di era transformasi teknologi digital
  • Ford merekrut kembali ratusan insinyur setelah AI gagal tangani masalah kualitas
  • CBA batalkan PHK 40+ staf layanan pelanggan karena bot suara AI tak mampu atasi permintaan
  • IBM lipatgandakan rekrutmen manusia karena AI gagal tangani 6% tugas yang butuh pertimbangan etis
  • Klarna pertimbangkan kembali keputusan PHK dan jamin akan selalu ada manusia untuk pelanggan
  • 39% pemimpin bisnis PHK karyawan karena AI, 55% akui kesalahan keputusan
  • 32% manajer rekrutmen di AS hapus posisi karena AI lalu rekrut kembali posisi serupa

JBNews.id — Sejumlah perusahaan global yang sebelumnya memecat karyawan dan menggantinya dengan kecerdasan buatan (AI) kini berbalik arah. Mereka mengakui bahwa AI tidak bisa melakukan segalanya dan mulai merekrut kembali tenaga kerja manusia. Fenomena ini menandai perubahan signifikan dalam strategi otomatisasi di dunia bisnis.

Ford Motor Company menjadi salah satu contoh paling menonjol. Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat ini dilaporkan mempekerjakan kembali ratusan insinyur manusia berpengalaman. Langkah ini diambil setelah sistem otomatis yang diterapkan Ford gagal menyelesaikan masalah kualitas produksi.

“AI tool luar biasa, tapi ia hanya sebaik informasi yang Anda gunakan untuk melatihnya,” kata Charles Poon, vice president of vehicle hardware engineering Ford, kepada media internasional. Pernyataan ini menegaskan bahwa teknologi secanggih apa pun tetap memiliki keterbatasan jika tidak didukung data dan pengawasan manusia yang mumpuni.

Gelombang PHK yang Berujung Penyesalan

Fenomena serupa juga terjadi di sektor perbankan. Commonwealth Bank of Australia (CBA) tahun lalu memberhentikan lebih dari 40 staf layanan pelanggan dan menggantinya dengan bot suara AI. Namun, sistem tersebut tidak mampu mengatasi permintaan pelanggan dengan baik, yang justru berujung pada peningkatan jumlah panggilan dan keluhan.

Akibatnya, CBA terpaksa membatalkan rencana pemangkasan staf tersebut. “Membuat CBA membatalkan pemutusan hubungan kerja ini adalah sebuah kemenangan besar,” kata serikat pekerja sektor keuangan Australia. CBA pun mengakui bahwa mereka tidak mempertimbangkan semua pertimbangan bisnis yang relevan saat mengumumkan PHK.

Raksasa software IBM juga mengalami situasi serupa. Perusahaan ini mengganti fungsi SDM-nya dengan AI yang menangani sekitar 94% tugas rutin. Namun, AI tersebut tidak mampu memenuhi 6% sisanya, yang sering kali mencakup dilema etis dan keputusan kompleks yang membutuhkan penilaian manusia. IBM lantas mengumumkan rencana melipatgandakan perekrutan manusia.

“Jika kita tidak terus berinvestasi pada rekrutmen tingkat pemula, apa yang akan terjadi dalam 3-5 tahun ke depan?” kata kepala sumber daya manusia IBM, Nickle LaMoreaux, yang dikutip dari CNBC. Pertanyaan ini menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara adopsi teknologi dan pengembangan sumber daya manusia.

Klarna dan Perubahan Haluan

Platform paylater asal Swedia, Klarna, menjadi contoh lain. Pada tahun 2024, perusahaan ini bermitra dengan OpenAI dan memangkas departemen layanan pelanggan dan pemasaran secara drastis. CEO Sebastian Siemiatkowski saat itu dengan percaya diri menyatakan, “AI sudah dapat melakukan semua pekerjaan yang kita, sebagai manusia, lakukan.”

Klarna mengklaim telah menghemat USD 10 juta dengan mengganti karyawan manusia dengan AI generatif yang dianggap mampu menangani terjemahan, produksi gambar, analisis data, dan keluhan pelanggan. Namun, perusahaan kemudian tampaknya mempertimbangkan kembali keputusan tersebut.

“Dari perspektif merek, perspektif perusahaan, saya pikir sangat penting untuk menjelaskan kepada pelanggan bahwa akan selalu ada manusia jika mereka menginginkannya,” kata Siemiatkowski kepada Bloomberg. Pengakuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan pelanggan tetap menjadi faktor krusial yang tidak bisa digantikan oleh teknologi semata.

Di tengah tren ini, perkembangan teknologi lain juga menarik perhatian. Misalnya, FIFA memperkenalkan berbagai inovasi canggih di Piala Dunia 2026, menunjukkan bahwa teknologi tetap menjadi bagian integral dari berbagai sektor. Namun, kasus perusahaan yang menyesal menggunakan AI membuktikan bahwa penerapan teknologi harus dilakukan secara bijak.

Sementara itu, persaingan di industri AI sendiri juga memanas. Elon Musk mengolok-olok Sam Altman setelah OpenAI digugat oleh Apple, menambah dinamika baru dalam ekosistem kecerdasan buatan global.

Data dan Statistik: Kesalahan Keputusan PHK

Fenomena ini didukung oleh data yang signifikan. Menurut laporan Orgvue, 39% pemimpin bisnis memberhentikan karyawan karena penerapan AI. Namun dari jumlah tersebut, 55% mengakui bahwa telah terjadi kesalahan keputusan terkait PHK tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah perusahaan yang melakukan PHK demi AI akhirnya menyesali langkah mereka.

Intuition Labs, sebuah lembaga riset, memberikan analisis yang tajam. “Menganggarkan teknologi untuk menggantikan manusia tanpa berinvestasi dalam pelatihan atau peningkatan kemampuan membuat tim tidak siap untuk memanfaatkan AI.” Lembaga yang sama juga menambahkan, “Khususnya di antara perusahaan-perusahaan yang mendorong otomatisasi, banyak yang kemudian ‘menyesali’ PHK, setelah memangkas orang yang justru dibutuhkan untuk mengawasi AI.”

Jessica Zhang, wakil presiden senior APAC di penyedia solusi SDM ADP, menegaskan hal serupa. “Ketika hasil AI tidak konsisten, tidak akurat, atau sulit diterapkan, perusahaan sering kali perlu menghadirkan kembali pengawasan manusia.” Pernyataan ini menekankan bahwa AI bukanlah pengganti, melainkan alat bantu yang membutuhkan kontrol dan pengawasan manusia.

Sementara itu, survei menunjukkan bahwa 32% manajer perekrutan di Amerika Serikat mengatakan mereka menghapus suatu posisi pekerjaan utamanya karena AI dan kemudian merekrut kembali untuk posisi yang sama atau serupa. Artinya, hampir sepertiga dari posisi yang dihapus akibat AI akhirnya diisi kembali oleh manusia.

Dalam konteks yang lebih luas, perkembangan teknologi juga merambah ke perangkat sehari-hari. Kipas portabel kini menjadi gadget wajib bagi pekerja digital, menunjukkan bagaimana inovasi teknologi tetap dibutuhkan untuk menunjang produktivitas manusia, bukan menggantikannya.

Implikasi bagi Dunia Bisnis

Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa memberhentikan karyawan saat menggunakan lebih banyak AI tidak selalu menawarkan rute terbaik menuju pertumbuhan bisnis. Keputusan tersebut justru sering kali berujung pada kerugian operasional, penurunan kualitas layanan, dan pada akhirnya, biaya rekrutmen yang lebih besar untuk mengembalikan tenaga kerja manusia.

Fenomena ini memberikan pelajaran berharga bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia, termasuk di Jawa Barat dan Banten, yang mungkin tergoda untuk melakukan otomatisasi massal. Alih-alih memandang AI sebagai pengganti, perusahaan sebaiknya melihat teknologi ini sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, bukan untuk menghilangkan peran manusia sepenuhnya.

Investasi dalam pelatihan dan peningkatan kemampuan karyawan menjadi kunci. Perusahaan yang sukses mengadopsi AI adalah mereka yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan keahlian manusia, bukan yang menggantikan satu dengan yang lain. Keseimbangan antara otomatisasi dan sentuhan manusia inilah yang pada akhirnya akan menentukan keberhasilan bisnis di era digital.

Bagi para pekerja, tren ini menjadi angin segar. Meskipun AI terus berkembang, kebutuhan akan pengawasan manusia, pertimbangan etis, dan interaksi personal tetap tidak tergantikan. Ini adalah pengingat bahwa di tengah gelombang digitalisasi, nilai-nilai fundamental seperti empati, kreativitas, dan penilaian manusia tetap menjadi aset yang paling berharga.