Atari Kembali Untung Berkat Strategi Game Lawas dan Nostalgia

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Konsol retro Atari 2600 Plus yang menjadi ikon kebangkitan perusahaan game legendaris
  • Atari membukukan pendapatan EUR 56 juta (USD 65 juta) pada tahun fiskal 2025/2026, tertinggi dalam satu dekade
  • Pendapatan bisnis game naik 67,7% menjadi EUR 46,1 juta; perangkat keras naik 83% menjadi EUR 7,3 juta
  • Laba operasional positif EUR 900.000, berbalik dari kerugian EUR 800.000 tahun sebelumnya
  • Strategi kebangkitan berbasis katalog 400+ game lawas, perangkat retro, dan akuisisi studio
  • Atari meningkatkan kepemilikan di Thunderful menjadi 97% dan membeli Hipster Whale senilai USD 29,3 juta
  • Mengambil alih hak lima game Ubisoft: Cold Fear, I Am Alive, Child of Eden, Grow Home, Grow Up
  • Konteks sejarah: anak usaha Atari AS mengajukan Chapter 11 pada Januari 2013; entitas sekarang adalah Atari SA yang berkantor di Paris

JBNews.id — Atari membuktikan bahwa perusahaan game lawas belum tentu tamat. Perusahaan yang identik dengan konsol Atari 2600 dan game Pong itu kembali membukukan keuntungan setelah melewati bertahun-tahun penuh masalah finansial. Dalam laporan tahun fiskal 2025/2026, Atari mencatatkan pendapatan EUR 56 juta atau sekitar USD 65 juta. Angka tersebut menjadi pendapatan tahunan tertinggi perusahaan dalam lebih dari satu dekade.

Pendapatan dari bisnis game meningkat 67,7% menjadi EUR 46,1 juta. Sementara itu, pendapatan perangkat keras melonjak 83% menjadi EUR 7,3 juta, sebagaimana dilaporkan Reuters. Angka-angka ini menunjukkan pergeseran strategi yang signifikan dari perusahaan yang sempat dinyatakan bangkrut pada 2013.

Tanpa memasukkan kinerja Thunderful, laba operasional berjalan Atari berubah menjadi positif sebesar EUR 900.000. Pada tahun sebelumnya, perusahaan masih membukukan kerugian operasional EUR 800.000. Laba bersih di luar Thunderful mencapai EUR 100.000, berbalik dari kerugian EUR 12,6 juta setahun sebelumnya. Arus kas dari aktivitas operasional juga mencapai EUR 11 juta.

Kebangkitan Berkat Nostalgia dan Katalog Lama

Kebangkitan Atari tidak ditopang konsol baru yang mencoba menantang PlayStation, Xbox, atau Nintendo Switch. Strateginya berpusat pada katalog game lawas, peluncuran ulang judul klasik, perangkat retro, dan pembelian studio serta kekayaan intelektual. Atari kini mengelola portofolio lebih dari 400 game dan waralaba.

Atari 2600+

Alih-alih menghabiskan dana besar untuk membuat game blockbuster dari nol, perusahaan memanfaatkan nama-nama lama yang sudah dikenal pemain. Pendekatan ini terbukti efektif di tengah tren industri yang semakin sering menggali katalog lama. Waralaba yang sudah mempunyai penggemar dinilai lebih mudah dipasarkan dibandingkan proyek baru berbiaya tinggi yang belum tentu berhasil.

CEO Atari Wade Rosen mengatakan perusahaan mencapai profitabilitas operasional untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun. Ia juga optimistis pertumbuhan berkelanjutan dapat dipertahankan. Pernyataan ini menegaskan bahwa strategi berbasis nostalgia bukan sekadar tren sesaat, melainkan model bisnis yang berkelanjutan.

Akuisisi Agresif dan Ekspansi Portofolio

Atari juga agresif berbelanja dalam setahun terakhir. Perusahaan meningkatkan kepemilikannya di penerbit Swedia Thunderful menjadi 97% dan membeli Hipster Whale, pengembang Crossy Road, senilai USD 29,3 juta. Langkah akuisisi ini memperkuat posisi Atari di pasar game global.

Selain itu, Atari mengambil alih hak atas lima game Ubisoft, yaitu Cold Fear, I Am Alive, Child of Eden, Grow Home, dan Grow Up. Koleksi tersebut membuka peluang untuk peluncuran ulang, remaster, maupun pengembangan lanjutan. Strategi ini sejalan dengan tren industri game yang semakin sering menggali katalog lama.

Penyebutan Atari “pernah bangkrut” perlu disertai konteks. Nama Atari telah beberapa kali berpindah tangan dan digunakan oleh sejumlah entitas sejak perusahaan aslinya didirikan Nolan Bushnell dan Ted Dabney pada 1972. Pada Januari 2013, sejumlah anak usaha Atari di Amerika Serikat mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11. Langkah tersebut ditujukan untuk memisahkan operasinya dari perusahaan induk Prancis yang ketika itu terlilit masalah finansial.

Entitas yang sekarang dikenal sebagai Atari SA berkantor pusat di Paris dan tercatat di Euronext Growth Paris. Jadi, kebangkitan terbaru ini merupakan cerita penerus korporasi pemegang merek Atari — bukan kembalinya perusahaan asli dalam bentuk yang persis sama.

Keberhasilan Atari ini menjadi studi kasus menarik bagi industri game secara keseluruhan. Di tengah biaya produksi game AAA yang terus melonjak, pendekatan berbasis waralaba lama terbukti lebih efisien secara finansial. Hal ini juga relevan dengan perkembangan teknologi yang mengubah cara industri beroperasi.

Bagi para pengamat industri, kebangkitan Atari menunjukkan bahwa nilai merek dan nostalgia memiliki daya jual yang kuat. Strategi ini bisa menjadi referensi bagi perusahaan game lain yang memiliki katalog lama namun kesulitan bersaing di era modern. Fenomena serupa juga terjadi di berbagai sektor industri yang memanfaatkan elemen nostalgia untuk menjangkau konsumen lama maupun baru.

Dengan portofolio lebih dari 400 game dan waralaba, Atari memiliki modal besar untuk terus tumbuh. Perusahaan tampaknya akan terus mengandalkan strategi peluncuran ulang dan remaster judul klasik, sambil sesekali menambah aset baru melalui akuisisi. Ke depannya, keberhasilan Atari akan sangat bergantung pada kemampuan eksekusi dan pemilihan judul yang tepat untuk diluncurkan kembali.

Bagi pemain yang tumbuh besar dengan game Atari, kabar ini tentu menggembirakan. Perusahaan yang pernah menjadi pionir industri game ini kini kembali menunjukkan taringnya, membuktikan bahwa di industri yang sangat kompetitif, nama besar dan warisan sejarah tetap memiliki nilai ekonomi yang signifikan.

Kisah kebangkitan Atari juga memberikan pelajaran berharga tentang resiliensi bisnis. Meskipun sempat mengalami kebangkrutan dan berbagai masalah finansial, perusahaan mampu bangkit dengan strategi yang tepat sasaran. Fokus pada kekuatan inti — dalam hal ini katalog game lawas — terbukti lebih efektif daripada mencoba bersaing di arena yang sudah dikuasai pemain besar seperti Sony dan Microsoft.

Dengan kinerja keuangan yang positif dan portofolio yang terus bertambah, masa depan Atari terlihat lebih cerah dibandingkan satu dekade sebelumnya. Perusahaan kini memiliki fondasi yang lebih stabil untuk menghadapi tantangan industri game yang terus berevolusi.