JBNews.id — Perusahaan kecerdasan buatan (AI) asal Amerika Serikat, Anthropic PBC, resmi memperluas operasinya ke Asia dengan membuka kantor baru di Seoul, Korea Selatan. Langkah ini diambil di tengah tekanan regulasi dari pemerintahan Donald Trump yang memerintahkan Anthropic mencabut akses warga negara asing ke model AI paling canggih mereka, yaitu Fable 5 dan Mythos 5.
The Washington Post pada Kamis (18/6) melaporkan bahwa keputusan pembatasan akses itu dipicu oleh temuan pejabat Washington. Salah satu entitas yang dijadwalkan menerima akses ke model Mythos adalah sebuah perusahaan telekomunikasi Korea Selatan yang “dicurigai memiliki hubungan dengan China” oleh pemerintah setempat.
Meskipun menghadapi hambatan regulasi, Anthropic justru melihat Korea Selatan sebagai pasar dengan potensi pertumbuhan tertinggi. “Korea adalah salah satu pasar kami dengan pertumbuhan tercepat di dunia … karena basis teknis dan pengembang yang Anda miliki,” ujar Chris Ciauri, Direktur Pelaksana Internasional Anthropic, dalam konferensi pers.
Pertumbuhan Pesat di Pasar Korea
Data internal perusahaan menunjukkan Korea Selatan menempati peringkat ke-12 dari 116 negara dalam hal penggunaan per kapita untuk Claude, model AI andalan Anthropic. Angka ini dirilis dalam laporan perusahaan pada Maret lalu.
Ciauri optimistis peringkat tersebut akan meningkat signifikan. “Saya tidak akan terkejut jika peringkat ke-12 tersebut … bergeser ke angka satu digit dengan sangat cepat,” imbuhnya. Keyakinan ini didasari oleh tingginya adopsi teknologi AI di kalangan pengembang dan perusahaan teknologi Korea Selatan.
Sebagai bagian dari strategi ekspansi, Anthropic berencana membangun ekosistem kemitraan dengan penyedia layanan hyperscaler utama, termasuk Google Cloud, Microsoft, dan Amazon. Perusahaan juga sedang meninjau opsi penempatan data (data residency) yang mematuhi kerangka regulasi lokal Korea Selatan.
Dampak Regulasi Pemerintah Trump
Kebijakan pembatasan akses model AI oleh pemerintahan Trump menjadi latar belakang penting ekspansi ini. Anthropic terpaksa mencabut akses ke model Fable 5 dan Mythos 5 bagi warga negara asing setelah menerima perintah langsung dari Washington.
Ketika ditanya mengenai pembatasan kontrol ekspor tersebut, Ciauri menolak memberikan penjelasan lebih lanjut. “Kami tidak akan berkomentar mengenai Project Glasswing saat ini,” ujarnya. Project Glasswing merupakan inisiatif keamanan siber perusahaan yang memberikan akses awal bagi organisasi dan perusahaan penting ke model AI canggih milik Anthropic.
Langkah ini menimbulkan pertanyaan baru tentang keseimbangan antara keamanan nasional dan ekspansi bisnis global perusahaan AI. Sebelumnya, Anthropic juga menghadapi berbagai tantangan regulasi di Amerika Serikat, termasuk ketegangan dengan White House terkait kebijakan AI tanpa aturan yang jelas.
Baca Juga:
Implikasi bagi Industri AI Global
Ekspansi Anthropic ke Korea Selatan menunjukkan strategi diversifikasi geografis di tengah meningkatnya tekanan regulasi di negara asal. Perusahaan AI global kini dihadapkan pada dilema antara mematuhi kebijakan pemerintah dan mempertahankan pertumbuhan bisnis internasional.
Bagi pengguna dan pengembang AI di Asia, kehadiran Anthropic di Seoul membuka akses lebih luas terhadap teknologi Claude. Namun, pembatasan akses model canggih seperti Mythos 5 juga menjadi pengingat bahwa teknologi AI tetap berada di bawah kendali regulasi negara asal.
Keputusan Anthropic untuk tetap ekspansif meskipun ada pembatasan menunjukkan keyakinan perusahaan terhadap potensi pasar Asia. Dengan kemitraan bersama raksasa cloud global, perusahaan berupaya membangun infrastruktur yang memungkinkan adopsi AI secara lebih luas di kawasan ini.
Langkah ini juga menjadi indikator bagi perusahaan AI lain yang mungkin menghadapi situasi serupa. Persaingan di industri AI semakin ketat, dan kemampuan beradaptasi dengan regulasi lintas negara menjadi faktor kunci keberhasilan.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat adopsi AI juga meningkat pesat. Model-model seperti Claude dari Anthropic sudah digunakan oleh berbagai perusahaan dan pengembang di Tanah Air. Kebijakan pembatasan akses oleh pemerintah AS bisa berdampak pada ketersediaan teknologi AI canggih di Indonesia.
Anthropic sendiri belum mengumumkan rencana ekspansi ke Indonesia atau negara Asia Tenggara lainnya. Namun, dengan dibukanya kantor di Seoul, kemungkinan besar perusahaan akan menjadikan Korea Selatan sebagai hub regional untuk memperluas jangkauan ke pasar Asia Pasifik.
Ke depannya, pengamat industri memperkirakan akan semakin banyak perusahaan AI yang membuka kantor di luar Amerika Serikat sebagai strategi mitigasi risiko regulasi. Tantangan hukum yang dihadapi Anthropic di dalam negeri juga menjadi faktor pendorong diversifikasi geografis.
Dengan investasi besar di Korea Selatan, Anthropic menunjukkan komitmen jangka panjangnya terhadap pasar Asia. Perusahaan siap bersaing dengan pemain lokal dan global lainnya dalam merebut pangsa pasar AI yang terus bertumbuh di kawasan ini.




