AI Dorong Pekerja Senior Keluar dari Angkatan Kerja

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi pekerja senior dipecat karena AI
  • Studi Center for Retirement Research at Boston College ungkap AI dorong pekerja senior keluar
  • Pekerja 55+ di pekerjaan terekspos AI tinggi seperti coding dan akuntansi paling terdampak
  • Setelah ChatGPT, transisi keluar dari pekerjaan meningkat signifikan, terutama ke pengangguran
  • Programmer alami peningkatan pengunduran diri 25%, akuntan 22% antara 2014-2025
  • Pekerja manual hanya alami peningkatan 2% di periode sama
  • Fenomena ini desak perusahaan pertimbangkan dampak sosial adopsi AI

JBNews.id — Narasi tentang dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja selama ini berfokus pada lulusan baru yang dianggap paling rentan. Namun, bukti baru menunjukkan kelompok yang justru paling terdampak adalah pekerja yang sudah mendekati usia pensiun.

Sebuah studi terbaru dari Center for Retirement Research at Boston College mengungkapkan pergeseran signifikan. Profesor ekonomi Geoffrey Sanzenbacher menganalisis data ketenagakerjaan pemerintah AS dan membandingkannya dengan indeks eksposur AI — kumpulan data yang melacak sejauh mana suatu pekerjaan bergantung pada tugas yang bisa dilakukan AI.

Sanzenbacher membandingkan jumlah pekerja berusia 55 tahun ke atas yang meninggalkan angkatan kerja sebelum dan sesudah peluncuran ChatGPT pada 2022. Meskipun ia mengakui bahwa “dampak AI terhadap pekerja mana pun, apalagi mereka yang mendekati pensiun, masih merupakan pertanyaan terbuka”, temuannya menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan.

Sebelum ChatGPT, pekerja senior di pekerjaan dengan eksposur AI tinggi — seperti coding dan persiapan pajak — cenderung bekerja lebih lama dibandingkan mereka yang bekerja di sektor manual. “Jenis pekerjaan yang terekspos AI dulu memiliki keunggulan relatif dalam hal umur panjang karier,” jelas Sanzenbacher. “Di era pasca-ChatGPT, data menunjukkan bahwa keunggulan ini telah berkurang drastis, dengan peningkatan signifikan pada angka pengangguran.”

Setelah peluncuran ChatGPT, proporsi pekerja berusia 55 tahun ke atas yang meninggalkan pekerjaan kantor melonjak. Yang menarik, ini bukan semata-mata karena pensiun dini secara sukarela. Sanzenbacher menulis, “setelah peluncuran ChatGPT… pekerjaan yang terekspos AI melihat peningkatan relatif dalam transisi keluar dari pekerjaan, khususnya menuju pengangguran (bukan keluar dari angkatan kerja).”

Dengan kata lain, semakin banyak pekerja kantoran senior yang dipaksa keluar sebelum mereka siap. Pola ini mirip dengan yang diamati pada tenaga kerja pemula, tetapi secara spesifik berdampak pada pekerja kerah putih yang lebih tua.

Data menunjukkan perbedaan yang mencolok. Antara 2014 dan 2025, jumlah pekerja usia pensiun yang meninggalkan pekerjaan manual seperti melukis meningkat sekitar 2 persen. Namun, angka ini hanyalah sebagian kecil dari mereka yang meninggalkan pekerjaan kantor dengan eksposur AI tinggi.

Untuk programmer komputer, jumlah pengunduran diri melonjak lebih dari 25 persen pada periode yang sama. Sementara itu, akuntan dan auditor mengalami peningkatan 22 persen. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa otomatisasi AI tidak hanya mengancam posisi entry-level, tetapi juga posisi senior yang selama ini dianggap aman.

Implikasinya jelas: jika perekrutan tingkat pemula melambat drastis dan profesional senior meninggalkan pasar kerja dalam jumlah besar, bagaimana pekerja biasa bisa menavigasi pasar tenaga kerja yang tertekan dari kedua ujung? Pertanyaan ini menjadi krusial bagi para pekerja kerah putih di Indonesia yang juga mulai merasakan dampak adopsi AI oleh perusahaan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa AI bukan sekadar alat pengganti tugas-tugas rendah, melainkan juga pengubah struktur pasar tenaga kerja secara fundamental. Perusahaan yang mengadopsi AI perlu mempertimbangkan dampak sosial dari keputusan mereka, terutama terhadap pekerja yang telah mengabdi puluhan tahun.

Para pengamat pasar tenaga kerja memperingatkan bahwa tanpa kebijakan transisi yang memadai, gelombang PHK massal terhadap pekerja senior bisa menimbulkan krisis pensiun yang lebih luas. Pemerintah dan perusahaan perlu segera merumuskan strategi untuk melindungi kelompok usia ini dari dampak disruptif AI.