China Sukses Daratkan Roket Long March, Susul SpaceX

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
โฑ๏ธ3 menit membaca
Bagikan:
Booster roket Long March-10B milik China berhasil mendaratkan untuk pertama kalinya
  • China berhasil mendaratkan booster roket Long March-10B untuk dipakai lagi, menjadi negara kedua setelah AS
  • Pendaratan dilakukan menggunakan sistem jaring berbasis kapal, berbeda dengan metode SpaceX yang menggunakan kaki pendaratan
  • CASC akan menggunakan kembali booster tersebut untuk penerbangan lain pada akhir 2026
  • China menargetkan menjadi kekuatan antariksa pada 2030 dengan teknologi roket reusable
  • Tahun lalu AS melakukan 193 peluncuran, sementara China hanya 92 peluncuran

JBNews.id โ€” China berhasil menjadi negara kedua di dunia yang mendaratkan booster roket untuk digunakan kembali, menyusul Amerika Serikat yang telah melakukannya melalui SpaceX sejak 2015. Keberhasilan ini dicapai melalui roket Long March-10B yang meluncur dari pusat peluncuran di Hainan pada Jumat (10/7/2026).

Sekitar enam menit setelah booster dan second stage roket memisahkan diri, booster tersebut kembali ke Bumi dan berhasil mendarat secara vertikal. Prestasi ini menunjukkan bahwa China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) mulai menyamai kemampuan SpaceX yang sudah berkali-kali menerbangkan dan mendaratkan booster roketnya.

Sistem roket yang dapat dipakai kembali ini dinilai mampu menurunkan biaya peluncuran ke luar angkasa secara signifikan dan mempercepat prosesnya. CASC menyatakan akan kembali menggunakan booster roket tersebut untuk penerbangan lain pada akhir tahun ini.

Mekanisme Pendaratan Berbasis Jaring

Yang membedakan pencapaian China dari SpaceX adalah metode pendaratan yang digunakan. CASC menggunakan sistem jaring yang direntangkan di atas kerangka besar di atas kapal untuk menangkap roket yang turun. Stasiun televisi nasional China, CCTV, menyebut ini sebagai sistem pendaratan roket berbasis jaring pertama di dunia.

Sebuah menara tinggi menjadi jangkar sistem jaring, sementara sensor seperti LiDAR melacak jalur dan sudut jatuhnya booster roket secara real time. Video yang diunggah China News Service menunjukkan bagaimana booster ini turun secara perlahan sampai mesinnya mati dan berdiri tegak di tengah laut.

Mekanisme ini berbeda dengan yang dipakai SpaceX. Roket Falcon 9 milik SpaceX mengandalkan kaki pendaratan yang bisa dilipat untuk menstabilkan posisi booster saat pendaratan. SpaceX juga mengembangkan sistem pendaratan baru untuk booster roket Starship yang ukurannya lebih besar. Perusahaan Elon Musk itu belum lama ini menguji coba lengan mekanik raksasa untuk menangkap booster di udara.

Implikasi bagi Ambisi Antariksa China

China bermimpi menjadi kekuatan antariksa pada tahun 2030, dan kemampuannya untuk menggunakan roket berkali-kali adalah kunci dari target tersebut. Saat ini peluncuran roket China masih jauh tertinggal dari AS. Tahun lalu, AS menerbangkan 193 peluncuran ke orbit, sementara China hanya meluncurkan 92 percobaan.

Chen Muye dari CASC mengatakan penerbangan pertama ini menandai terobosan dalam roket yang dapat digunakan kembali dengan biaya rendah dan daya angkut yang besar untuk meningkatkan daya saing negara di ruang angkasa komersial. Ia menambahkan teknologi ini juga akan mendukung program roket berawak China di masa depan.

Keberhasilan pendaratan booster Long March-10B ini membuka peluang bagi China untuk mempercepat frekuensi peluncuran dan menekan biaya. Dengan sistem yang dapat dipakai ulang, setiap misi berikutnya tidak perlu memproduksi booster baru dari awal. Ini sejalan dengan tren global di industri antariksa yang semakin mengadopsi teknologi reusable untuk efisiensi biaya.

Dalam konteks persaingan global, keberhasilan China ini juga menjadi sinyal bahwa peta kekuatan antariksa mulai bergeser. Jika sebelumnya hanya AS yang menguasai teknologi pendaratan booster, kini China telah membuktikan diri mampu mengejar ketertinggalan. Ini berimplikasi pada persaingan komersial di sektor peluncuran satelit dan misi luar angkasa ke depan.

Bagi Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi pelajaran berharga. Negara-negara tetangga seperti China dan Jepang terus berlomba dalam eksplorasi antariksa. Indonesia sendiri masih perlu memperkuat infrastruktur dan sumber daya manusia di bidang ini agar tidak tertinggal dalam persaingan teknologi luar angkasa di kawasan Asia.

Roket Long March-10B sendiri dirancang untuk membawa muatan ke orbit rendah Bumi. Dengan kemampuan mendaratkan booster, China kini memiliki fleksibilitas lebih dalam menjadwalkan misi-misi berikutnya. CASC menargetkan penggunaan ulang booster yang baru berhasil mendarat ini pada akhir 2026, menandai babak baru dalam program antariksa China.