Zoox Recall 105 Robotaxi Gangguan Asap Kebakaran

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi kendaraan Zoox di jalan raya dengan latar gedung perkotaan
  • Zoox recall 105 unit robotaxi setelah insiden gagal deteksi asap kebakaran di Las Vegas
  • Kendaraan otonom tanpa penumpang mengerem keras dan berhenti saat mendeteksi asap tebal
  • Operator jarak jauh mengambil alih kendali dan memundurkan kendaraan secara manual
  • NHTSA menyebut gangguan terhadap petugas darurat sebagai "tidak dapat diterima"
  • Insiden ini bukan pertama kali terjadi, Waymo juga pernah menghalangi ambulans dan petugas darurat
  • Pembaruan perangkat lunak dilakukan untuk meningkatkan deteksi lokasi darurat aktif

JBNews.id — Zoox, perusahaan robotaxi milik Amazon, menarik kembali seluruh armada 105 unit kendaraan otonomnya setelah salah satu mobil tanpa pengemudi gagal merespons asap tebal di lokasi kebakaran yang sedang ditangani petugas darurat di Las Vegas pada 20 Juni lalu.

Insiden ini mengungkap kerentanan kendaraan otonom dalam menghadapi kondisi tak terduga di jalan raya. Menurut laporan yang diajukan ke National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), robotaxi Zoox yang tidak membawa penumpang itu “mengerem keras sambil mencoba membelok sebelum akhirnya berhenti” saat mendeteksi asap tebal yang menutupi lokasi kebakaran aktif yang tidak dibatasi dengan kerucut lalu lintas.

Penarikan kembali ini dilakukan dalam bentuk pembaruan perangkat lunak yang “meningkatkan kemampuan yang ada untuk mendeteksi lokasi darurat aktif dengan menambahkan kemampuan mendeteksi dan merespons asap tebal dalam situasi tertentu,” kata Zoox kepada TechCrunch dalam sebuah pernyataan. Patch tersebut akan memengaruhi seluruh armada 105 unit robotaxi milik perusahaan.

Meskipun kejadian ini tidak terkait langsung dengan asap kebakaran hutan yang menyelimuti sebagian besar wilayah timur AS saat ini, insiden ini menyoroti tantangan fundamental kendaraan otonom dalam merespons kondisi yang tidak dapat diprediksi. Seorang operator jarak jauh akhirnya mengambil alih kendali robotaxi dan memundurkannya secara manual menjauh dari lokasi kejadian, memungkinkan petugas pertama untuk menempatkan kerucut lalu lintas guna menutup dua dari tiga jalur jalan.

Insiden ini bukan yang pertama kalinya melibatkan robotaxi dan petugas darurat. Polisi San Francisco tahun lalu terpaksa membantu memindahkan kendaraan otonom Waymo yang berhenti di persimpangan jalan selama pemadaman listrik di seluruh kota. Petugas darurat mengeluh bahwa mereka telah menjadi “bantuan pinggir jalan” yang dimuliakan untuk kendaraan-kendaraan tersebut.

Pada bulan Maret lalu, sebuah robotaxi Waymo bahkan menghalangi ambulans yang merespons lokasi penembakan massal mematikan di Austin, Texas. Insiden-insiden yang terus meningkat ini mendorong administrator NHTSA Jonathan Morrison untuk mengirimkan surat keras kepada perusahaan-perusahaan robotaxi, menyebut gangguan kendaraan mereka terhadap petugas darurat sebagai “tidak dapat diterima.”

“Biarkan saya tegaskan: ketidakmampuan untuk mendeteksi dan merespons secara tepat situasi seperti itu merupakan ketidakcukupan fungsional,” tulis Morrison dalam suratnya. “Lokasi darurat bukanlah ‘kasus tepi’ yang langka atau ekstrem.” Ia menambahkan, “Secara blak-blakan: kendaraan otonom yang tidak dapat berinteraksi dengan aman dengan petugas pertama adalah bahaya bagi masyarakat umum.”

Kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan teknologi kendaraan otonom untuk beroperasi di lingkungan perkotaan yang kompleks. Meskipun perusahaan seperti Zoox dan Waymo terus mengembangkan kemampuan deteksi dan respons kendaraan mereka, kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa masih ada celah signifikan dalam kemampuan mereka menangani situasi darurat yang tidak terduga.

Bagi masyarakat umum, implikasi dari insiden ini sangat jelas: meskipun teknologi robotaxi terus berkembang, masih diperlukan pengawasan dan regulasi yang ketat untuk memastikan keselamatan di jalan raya. Industri robotaxi harus mengatasi tantangan ini sebelum dapat diadopsi secara luas sebagai moda transportasi yang andal dan aman.

Insiden Zoox ini juga menjadi pengingat bagi regulator dan perusahaan teknologi bahwa pengembangan kendaraan otonom harus memprioritaskan keselamatan publik di atas kecepatan inovasi. NHTSA telah memberikan sinyal jelas bahwa mereka akan mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan yang gagal memenuhi standar keselamatan dasar.

Dengan armada yang kini telah diperbarui perangkat lunaknya, Zoox berharap dapat melanjutkan operasinya di Las Vegas tanpa insiden serupa. Namun, pertanyaan yang lebih besar tetap menggantung: apakah teknologi kendaraan otonom saat ini benar-benar siap untuk berbagi jalan dengan petugas darurat dan pengguna jalan lainnya?

Perusahaan induk Zoox, Amazon, juga tengah menghadapi tantangan lain di berbagai lini bisnisnya. Baru-baru ini, Amazon Leo Siap meluncurkan 396 satelit untuk menantang Starlink, sementara di sisi lain perusahaan juga mencatat rekor emisi karbon akibat ekspansi AI.

Ke depannya, industri robotaxi perlu berinvestasi lebih besar dalam pengujian skenario darurat dan pengembangan algoritma yang lebih canggih untuk mendeteksi serta merespons situasi abnormal. Tanpa langkah-langkah ini, risiko kecelakaan dan gangguan terhadap petugas darurat akan terus menghantui masa depan transportasi otonom.