Nvidia dan Jepang Bangun Pabrik AI untuk Robotik Rp 38,8 Triliun

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi chip Nvidia Vera Rubin yang digunakan dalam pabrik AI Jepang
  • Nvidia dan konsorsium Noetra Jepang bangun pabrik AI 140 MW
  • Investasi awal Rp 38,8 triliun, target jangka panjang Rp 160 triliun
  • Gunakan 27.500 GPU Rubin dan 13.750 CPU Vera
  • Fokus pada robotik, otomasi industri, dan digital twins
  • Target kuasai 30% pasar robotik AI global pada 2040

JBNews.id β€” Nvidia menjalin kerja sama dengan konsorsium teknologi Jepang, Noetra, untuk membangun pabrik AI berkapasitas 140 megawatt dengan nilai investasi awal mencapai Rp 38,8 triliun. Fasilitas ini akan menjadi tulang punggung komputasi bagi program FRONTia milik pemerintah Jepang yang berfokus pada pengembangan robotik, otomasi industri, dan digital twins.

Pabrik AI berskala raksasa ini akan beroperasi menggunakan platform pusat data Nvidia DSX dan memanfaatkan rak server Vera Rubin NVL72. Proyek ini dijadwalkan menyerap anggaran awal sebesar 387,3 miliar yen atau sekitar USD 2,4 juta hingga tahun anggaran 2030, dengan target jangka panjang mencapai 1 triliun yen atau sekitar USD 6,1 miliar.

Untuk menangani pelatihan model AI dengan triliunan parameter, fasilitas ini akan dijejali infrastruktur perangkat keras yang sangat masif. Pabrik AI membutuhkan total 27.500 GPU Rubin dan 13.750 CPU Vera. Seluruh komponen tersebut akan didistribusikan ke dalam 382 rak Vera Rubin NVL72 yang saling terhubung melalui jaringan Spectrum-X Ethernet.

Setiap rak server mengintegrasikan secara rapat 72 GPU Rubin dan 36 CPU Vera untuk menghadirkan komunikasi bandwidth tinggi NVLink. Estimasi pasar menunjukkan harga satu sistem VR200 NVL72 berkisar antara USD 5 juta hingga USD 7 juta. Artinya, total nilai perangkat keras raknya saja mencapai USD 1,9 miliar hingga USD 2,7 miliar sebelum menghitung biaya memori dan sistem pendingin.

Sistem berbasis arsitektur chip Rubin ini baru akan memasuki tahap produksi massal pada paruh kedua tahun ini. Dengan demikian, pembangunan pabrik AI diprediksi akan berjalan secara bertahap. Langkah ini mengingatkan pada kisah Nvidia yang pernah hampir bangkrut sebelum diselamatkan Sega.

Fokus pada AI Dunia Nyata dan Robotik

Berbeda dengan proyek superkomputer swasta pada umumnya, pabrik AI ini diposisikan sebagai platform penuh yang mencakup chip, jaringan, sistem, dan perangkat lunak untuk melatih model fondasi multimodal terbuka. Model AI ini dirancang khusus agar dapat berinteraksi langsung dengan robot dan sistem fisik, bukan sekadar memproses teks atau gambar.

Pemerintah Jepang berencana membagikan bobot prapelatihan (pretrained weights) secara luas kepada para pengembang dan perusahaan domestik. Tujuannya agar model AI dapat disesuaikan untuk kebutuhan logistik dan industri mereka sendiri. Konsorsium Noetra, yang memenangkan tender proyek pemerintah ini, dipimpin langsung oleh perusahaan raksasa seperti SoftBank Corp., Sony, NEC, dan Honda, serta didukung oleh 44 perusahaan dan organisasi lainnya.

Peta Jalan dan Target Pasar Global

Peta jalan FRONTia ditargetkan melahirkan model penalaran pada 2026, model omni-modal (teks, video, audio) pada 2028, hingga AI asli dunia nyata dengan kesadaran spasial penuh untuk robot di pabrik dan rumah sakit pada 2030. Langkah ini sejalan dengan Strategi Robotik AI Jepang yang dirilis Maret lalu.

Strategi tersebut membidik penguasaan lebih dari 30 persen pasar robotik AI global pada tahun 2040 dengan potensi nilai mencapai USD 133 miliar. Melalui investasi masif ini, pemerintah Jepang menegaskan komputasi AI fisik skala besar sebagai aset nasional yang wajib dikendalikan secara mandiri, demikian dikutip detikINET dari Tom’s Hardware, Senin (20/7/2026).

Proyek ambisius ini juga menjadi bukti bagaimana Nvidia terus memperkuat posisinya di pasar komputasi AI global. Sebelumnya, Nvidia memamerkan desain data center AI dengan konsumsi air yang nyaris nol, menunjukkan komitmen perusahaan terhadap efisiensi energi.

Dengan total investasi yang mencapai triliunan yen, pabrik AI ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat komputasi terbesar di dunia yang khusus difokuskan pada pengembangan robotik dan AI fisik. Keberadaan 27.500 GPU Rubin dan 13.750 CPU Vera dalam satu fasilitas akan memberikan kapasitas komputasi yang belum pernah ada sebelumnya untuk melatih model-model AI generasi berikutnya.

Kolaborasi antara Nvidia dan Jepang ini menandai babak baru dalam pengembangan AI dunia nyata. Tidak hanya sekadar memproses data, tetapi benar-benar berinteraksi dengan lingkungan fisik melalui robot dan sistem otomasi. Hal ini membuka peluang besar bagi industri manufaktur, logistik, dan layanan kesehatan di Jepang dan global.

Bagi para pengembang dan perusahaan rintisan di bidang robotik, ketersediaan pretrained weights dari model-model yang dilatih di pabrik AI ini akan menjadi game changer. Mereka tidak perlu lagi memulai dari nol dan dapat langsung menyesuaikan model AI untuk aplikasi spesifik mereka.

Proyek ini juga menjadi contoh bagaimana pemerintah dan sektor swasta dapat bekerja sama membangun infrastruktur AI skala nasional. Dengan melibatkan 44 perusahaan dan organisasi, Noetra menjadi konsorsium yang sangat kuat untuk merealisasikan visi besar Jepang di bidang robotik AI.

Ke depannya, pabrik AI ini diharapkan tidak hanya melayani kebutuhan domestik Jepang, tetapi juga menjadi pusat inovasi yang menarik minat perusahaan-perusahaan global. Dengan target penguasaan 30 persen pasar robotik AI global pada 2040, Jepang menunjukkan ambisinya untuk menjadi pemimpin dalam revolusi AI fisik.

Investasi sebesar Rp 38,8 triliun ini merupakan langkah berani yang menunjukkan betapa seriusnya Jepang dalam mengembangkan teknologi AI untuk robotik. Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi model bagi negara-negara lain yang ingin membangun ekosistem AI mandiri dan berdaulat.