JBNews.id — Sebuah taksi robot Waymo terekam melawan arah di persimpangan padat Los Angeles saat kemacetan parah akibat gelaran Piala Dunia 2026. Insiden ini menambah daftar panjang kegagalan operasional perusahaan otonom tersebut di tengah ekspansi agresifnya ke berbagai kota besar Amerika Serikat.
Video yang dibagikan oleh stasiun televisi ABC 13 memperlihatkan sebuah Waymo berwarna merah berhenti di sisi jalan yang salah di Inglewood, California. Kendaraan tanpa pengemudi itu melanggar garis ganda di jalan raya, memaksa kendaraan dari arah berlawanan untuk bermanuver ke jalur yang lebih jauh.
Meskipun sebagian besar waktu kendaraan tersebut berhenti di lampu merah saat lalu lintas merayap, bagian akhir video menunjukkan momen menegangkan ketika taksi robot itu mulai bergerak maju langsung ke jalur kendaraan yang melaju dari arah berlawanan. Insiden ini terjadi tepat di tengah kemacetan akibat tingginya volume penumpang yang menuju ke berbagai venue pertandingan Piala Dunia di Los Angeles.
“Uhh, kenapa Waymo ini ada di sisi jalan yang salah?” tanya Kimoon Kim, pengemudi yang merekam video tersebut. “Seharusnya dia berada di jalur belok kiri.”
Berbicara kepada stasiun televisi lokal, Kim mengatakan Waymo tersebut kemudian tiba-tiba memotong jalurnya di persimpangan agar bisa kembali ke jalur yang benar dan berbelok ke kiri secara paksa. Perilaku agresif ini dinilai sangat membahayakan pengguna jalan lain yang sudah harus berhadapan dengan kemacetan ekstrem akibat ajang olahraga internasional tersebut.
Insiden terbaru ini menjadi bukti bahwa Waymo masih menghadapi tantangan serius dalam menavigasi situasi lalu lintas kompleks, terutama saat kondisi jalan tidak ideal seperti kemacetan berat atau adanya gangguan rute. Perusahaan yang berbasis di Mountain View, California itu terus berupaya menyempurnakan sistem kecerdasan buatannya, namun insiden demi insiden menunjukkan masih ada celah yang perlu diperbaiki.

Perilaku membahayakan yang dilakukan taksi robot Waymo di Los Angeles ini bukanlah kejadian pertama. Insiden serupa terjadi hanya tiga bulan lalu di Houston, Texas. Saat itu, pengemudi lain merekam rekaman salah satu taksi robot Waymo yang berbelok langsung ke jalur HOV satu arah, sebelum mundur dan mengoreksi dirinya sendiri. Pola kegagalan yang berulang ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan teknologi otonom untuk beroperasi di lingkungan perkotaan yang dinamis.
Di luar kasus melawan arah, Waymo juga terlibat dalam berbagai insiden lain. Beberapa waktu lalu, kendaraan otonom Waymo terlibat dalam pengejaran kecepatan tinggi dengan polisi, membanjiri jalan-jalan perumahan yang sunyi, dan melanggar batas jalur sepeda. Bahkan, dalam insiden yang paling aneh, dua unit Waymo saling bertabrakan dan menjebak unit Waymo ketiga di lokasi kejadian.
Masalah yang dialami Waymo begitu banyak sehingga anggota parlemen di New York bergerak untuk memblokir peluncuran Waymo di kota tersebut. Langkah ini merupakan pukulan telak bagi perusahaan yang tengah mendorong ekspansi cepat ke kota-kota besar Amerika. Para legislator khawatir bahwa teknologi yang belum matang akan membahayakan keselamatan publik jika dioperasikan di jalanan New York yang terkenal padat dan kompleks.
Waymo sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden terbaru di Los Angeles ini. Perusahaan biasanya akan merilis pernyataan setelah melakukan investigasi internal terhadap setiap insiden yang melibatkan armadanya. Namun, frekuensi insiden yang semakin meningkat menunjukkan bahwa perusahaan mungkin perlu mengevaluasi kembali strategi ekspansinya.
Insiden melawan arah di Los Angeles ini menjadi ironi tersendiri mengingat Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi ajang pembuktian bagi teknologi otonom Waymo. Sebaliknya, kemacetan parah dan perilaku lalu lintas yang tidak terduga justru menjadi batu sandungan yang memperlihatkan kelemahan sistem navigasi kendaraan tanpa pengemudi tersebut. Bagi warga Los Angeles yang harus berbagi jalan dengan ribuan pengunjung Piala Dunia, insiden ini menambah kekhawatiran akan keselamatan di jalan raya.
Dari sisi bisnis, rangkaian insiden ini berpotensi menghambat laju ekspansi Waymo ke kota-kota lain. Otoritas transportasi di berbagai negara bagian kini akan semakin berhati-hati dalam memberikan izin operasi bagi taksi robot. Kepercayaan publik yang merupakan faktor kunci adopsi teknologi otonom juga terkikis setiap kali insiden seperti ini terjadi. Waymo harus segera menunjukkan perbaikan nyata jika tidak ingin kehilangan momentum di tengah persaingan ketat industri kendaraan otonom.
Bagi pengguna jalan di Los Angeles, insiden ini menjadi pengingat bahwa teknologi otonom belum sepenuhnya siap menghadapi kompleksitas lalu lintas dunia nyata, terutama dalam situasi luar biasa seperti gelaran Piala Dunia. Kewaspadaan ekstra saat berpapasan dengan taksi robot menjadi langkah yang bijak hingga produsen berhasil menyempurnakan sistem keselamatan kendaraan mereka.




