Serikat Pekerja Hyundai Mogok Kerja Tolak Robot Humanoid

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi robot humanoid Atlas di pabrik Hyundai
  • Serikat pekerja Hyundai di Korea Selatan memutuskan mogok kerja karena khawatir digantikan robot humanoid buatan Boston Dynamics.
  • Tuntutan utama pekerja adalah hak untuk terlibat dalam keputusan otomatisasi dan bonus kinerja besar.
  • Hyundai berencana menggunakan lebih dari 25.000 robot humanoid di pabriknya, memicu kekhawatiran PHK massal.
  • Fenomena serupa terjadi di perusahaan lain seperti Japan Airlines, China Post, dan BMW.
  • Kasus ini menjadi preseden penting bagi negosiasi tenaga kerja di era otomatisasi global.

JBNews.id — Ratusan ribu pekerja pabrik Hyundai Motor di Korea Selatan memutuskan untuk mogok kerja. Aksi ini dipicu oleh kekhawatiran massif bahwa robot humanoid buatan Boston Dynamics, anak perusahaan Hyundai, akan menggantikan peran mereka di lini produksi.

Keputusan mogok kerja diambil setelah negosiasi dengan manajemen menemui jalan buntu. Para pekerja yang tergabung dalam Korean Metal Worker’s Union menuntut hak untuk terlibat dalam setiap keputusan terkait otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) di pabrik.

Menurut laporan Financial Times, tuntutan utama mereka mencakup jaminan keamanan kerja di tengah gelombang otomatisasi. “Kami khawatir tentang keamanan kerja karena kehadiran robot,” ujar seorang anggota serikat kepada FT, seperti dikutip dalam artikel sumber.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Pada Januari lalu, Hyundai mengumumkan akan mulai menggunakan robot Atlas buatan Boston Dynamics di pabrik Georgia pada 2028. Kemudian pada Mei, perusahaan mengungkapkan ambisi yang jauh lebih besar: akan menerjunkan lebih dari 25.000 unit robot humanoid di seluruh fasilitas manufaktur kendaraannya.

Ilustrasi robot humanoid Atlas buatan Boston Dynamics dipajang di Seoul, Korea Selatan, Maret 2026.

Selain tuntutan terkait otomatisasi, serikat pekerja juga meminta bonus kinerja yang setara dengan sekitar sepertiga dari laba tahunan Hyundai. Nominalnya mencapai sekitar $27.000 untuk masing-masing dari 73.000 pekerja. Tuntutan bonus besar ini muncul setelah pekerja di konglomerat manufaktur lain, seperti Samsung, berhasil meraih bonus besar dari keuntungan bisnis AI.

“Saya pikir serikat pekerja memahami bahwa banyak tuntutan mereka tidak realistis,” kata Kim Pil-soo, profesor teknik otomotif di Daelim University, kepada FT. “Namun, para pekerja merasa mengalami deprivasi relatif setelah karyawan Samsung mendapatkan bonus yang lebih besar.”

Dampak Otomatisasi dan Kekhawatiran PHK

Serikat pekerja Hyundai sebelumnya sudah kerap mengancam akan mogok dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait masalah upah. Namun, mereka biasanya berhasil mencapai kesepakatan tanpa penghentian produksi penuh. Pemogokan besar terakhir terjadi pada tahun 2018.

Kali ini, situasinya berbeda. Ancaman dari robot humanoid yang semakin canggih membuat para pekerja merasa genting. “Berita dan video yang menunjukkan robot menjadi semakin lincah membuat pekerja gugup tentang masa depan,” tambah anggota serikat tersebut.

Hyangi, pihak manajemen Hyundai, seperti dikutip dari sumber, bersikeras bahwa robot hanya akan digunakan untuk tugas-tugas berat dan berbahaya yang tidak diminati manusia. Namun, serikat pekerja membantah klaim ini dan menyebut otomatisasi skala besar justru akan membawa “kejutan ketenagakerjaan”.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Hyundai. Tren penggunaan robot humanoid di lingkungan kerja nyata mulai terlihat. Bulan lalu, Japan Airlines mengumumkan akan menggunakan robot untuk menangani bagasi di Bandara Haneda Tokyo. Perusahaan pos milik China juga mulai menggunakan humanoid untuk menyortir surat.

Produsen mobil lain pun ikut serta. BMW saat ini sedang menguji coba robot humanoid di pabriknya di Leipzig, Jerman. Seorang eksekutif BMW bahkan menyebut teknologi tersebut sebagai “masa depan produksi otomotif”.

Kasus mogok kerja ini menjadi preseden penting bagi industri manufaktur global. Bagaimana cara perusahaan dan pekerja bernegosiasi di era di mana mesin bukan lagi sekadar alat, melainkan mitra kerja yang potensial? Jawabannya akan menentukan peta jalan ketenagakerjaan di masa depan, termasuk di Indonesia.

Bagi para pelaku industri dan pengamat, aksi mogok ini menjadi sinyal bahwa transisi ke otomatisasi harus dikelola dengan hati-hati. Tanpa dialog yang inklusif, resistensi dari tenaga kerja bisa menghambat adopsi teknologi yang sebenarnya bertujuan meningkatkan produktivitas.

Implikasinya jelas: negosiasi antara serikat pekerja dan manajemen Hyundai di Korea Selatan akan menjadi studi kasus bagi seluruh dunia. Hasilnya bisa menjadi cetak biru bagi perusahaan lain yang berniat mengintegrasikan robot humanoid ke dalam operasional mereka.