Warga Eropa Menyerah, Berbondong Beli AC Saat Panas Ekstrem

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi pendingin ruangan atau AC yang dipasang di dinding rumah modern
  • Gelombang panas ekstrem di Eropa memicu lonjakan penjualan AC dari produsen Asia seperti Samsung, Midea, dan Mitsubishi
  • Penjualan AC di Italia, Spanyol, dan Prancis tumbuh dua digit pada paruh pertama 2026
  • Midea melaporkan penjualan e-commerce di Jerman naik 37%, pengiriman di Spanyol dan Prancis melonjak 108%
  • Biaya pemasangan AC di Eropa bisa mencapai lebih dari USD 1.137, menjadi tantangan bagi banyak rumah tangga
  • Total kepemilikan AC di Eropa baru sekitar 20%, menunjukkan potensi pasar yang masih besar

JBNews.id — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa memicu pergeseran perilaku konsumen secara dramatis. Warga Eropa yang sebelumnya enggan menggunakan pendingin ruangan kini berbondong-bondong membeli AC, mendorong lonjakan penjualan bagi produsen Asia seperti Samsung, Midea, dan Mitsubishi.

Fenomena ini terjadi di tengah suhu yang memecahkan rekor di berbagai negara Eropa. Panas menyengat tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga mengganggu pasokan listrik dan memaksa sekolah-sekolah ditutup. Akibatnya, permintaan terhadap AC portabel maupun AC dinding melonjak drastis.

Data yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan bahwa pasar utama seperti Italia, Spanyol, dan Prancis mencatat pertumbuhan penjualan AC dua digit pada paruh pertama tahun ini. Samsung, salah satu produsen AC asal Korea Selatan, mengkonfirmasi proyeksi permintaan yang berkelanjutan seiring perkiraan suhu yang terus meningkat mulai Juni 2026.

Lonjakan Permintaan di Berbagai Negara

LG Electronics, pesaing utama Samsung, melaporkan bahwa lini produksi AC di salah satu fasilitasnya di Korea Selatan telah beroperasi dengan kapasitas penuh sejak April 2026. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi permintaan musim panas yang tinggi, baik dari pasar domestik Korea maupun pasar global, termasuk Eropa.

Sementara itu, Midea asal China mengalami lonjakan permintaan yang sangat tajam. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa pesanan yang masuk begitu deras hingga harga unit AC bekas melampaui harga unit baru. Fenomena ini menunjukkan betapa tingginya urgensi warga Eropa untuk mendapatkan pendingin ruangan.

“Gelombang panas dua minggu terakhir bulan Mei signifikan mendongkrak penjualan, terutama untuk AC PortaSplit, yang habis terjual di beberapa saluran distribusi,” ungkap Midea dalam pernyataannya. Menurut perusahaan tersebut, penjualan melalui e-commerce di Jerman naik sekitar 37% pada bulan Mei dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pengiriman di Spanyol dan Prancis melonjak hingga 108%.

Produsen Jepang Juga Kebanjiran Pesanan

Mitsubishi Electric dari Jepang juga melaporkan adanya lonjakan permintaan unit AC dari Eropa. “Di Eropa, penjualan pendingin ruangan sangat kuat, terutama di Prancis, Spanyol, Inggris, dan Jerman, yang dilanda gelombang panas,” ungkap perusahaan tersebut kepada Reuters. Keempat negara ini menjadi pasar utama yang mendorong pertumbuhan penjualan Mitsubishi Electric di kawasan Eropa.

Permintaan masif terhadap AC ini menggarisbawahi pergeseran perilaku konsumen Eropa yang cukup signifikan. Sebelumnya, penggunaan AC di Eropa masih relatif jarang dibandingkan dengan Asia. Karakteristik bangunan-bangunan tua di Eropa seringkali membuat pemasangan AC menjadi mahal dan rumit, serta membutuhkan waktu lama untuk proses instalasinya.

Tantangan Pemasangan di Bangunan Tua

Salah satu kendala utama yang dihadapi warga Eropa adalah biaya pemasangan AC yang sangat tinggi. Midea menyebut bahwa biaya pemasangan AC di Eropa bisa mencapai lebih dari USD 1.137, menjadikannya sulit dijangkau oleh banyak rumah tangga. Biaya ini mencakup modifikasi bangunan, instalasi listrik, dan tenaga kerja yang memang mahal di kawasan tersebut.

Menurut data International Energy Agency (IEA), total kepemilikan unit pendingin ruangan di Eropa saat ini hanya berkisar 20%. Angka ini sangat kontras dengan negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, atau China yang memiliki tingkat penetrasi AC di atas 80%. Perbedaan ini menunjukkan betapa besarnya potensi pasar AC di Eropa ke depannya.

Meskipun menghadapi tantangan biaya dan infrastruktur, tekanan gelombang panas yang semakin ekstrem tampaknya telah mengalahkan keengganan warga Eropa. Banyak rumah tangga dan perusahaan yang kini rela mengeluarkan biaya besar demi mendapatkan kesejukan di tengah cuaca yang terik.

Dampak Perubahan Iklim pada Perilaku Konsumen

Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana perubahan iklim mulai mengubah kebiasaan dan gaya hidup masyarakat di negara maju. Eropa, yang selama ini dikenal dengan iklimnya yang sejuk, kini harus beradaptasi dengan suhu yang semakin panas setiap tahunnya. Gelombang panas yang terjadi pada tahun 2026 ini menjadi salah satu yang terparah dalam sejarah.

Para ahli memperingatkan bahwa tren peningkatan suhu ini kemungkinan akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Hal ini berarti permintaan terhadap AC di Eropa diperkirakan akan terus tumbuh, membuka peluang besar bagi produsen AC dari Asia untuk memperluas pangsa pasar mereka di kawasan tersebut.

Bagi produsen seperti Samsung, LG, Midea, dan Mitsubishi Electric, lonjakan permintaan ini menjadi momentum untuk memperkuat jaringan distribusi dan layanan purna jual di Eropa. Keberhasilan mereka dalam memenuhi permintaan yang melonjak ini akan menentukan posisi mereka di pasar Eropa dalam jangka panjang.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan dampak lingkungan dari penggunaan AC, produsen juga dituntut untuk mengembangkan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Inovasi dalam hal efisiensi energi dan penggunaan refrigeran yang lebih aman bagi ozon menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen Eropa di masa depan.