Kisah Pria Dihantui Stalker yang Pakai AI untuk Ciptakan Bayi Palsu

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi foto hasil rekayasa AI yang menunjukkan seorang pria menggendong bayi palsu hasil manipulasi digital
  • Seorang pria di Singapura menjadi korban penguntitan oleh mantan teman sekolah yang menggunakan AI untuk memanipulasi foto
  • Pelaku menciptakan narasi palsu bahwa mereka berpacaran sejak 2011, bertunangan, dan memiliki anak bersama
  • Pelaku menggunakan AI untuk membuat gambar kencan palsu dan foto bayi hasil rekayasa digital
  • Korban baru mengetahui penguntitan ini setelah saudara perempuannya membuat unggahan viral di Threads
  • Pelaku juga menggunakan foto anak-anak keluarga korban yang diambil dari media sosial
  • Kasus ini menjadi contoh penyalahgunaan AI generatif untuk kejahatan dan manipulasi psikologis
  • Keluarga korban kini hidup dalam ketakutan dan tidak berani memposting konten anak-anak secara daring

JBNews.id — Seorang pria di Singapura menjadi korban penguntitan selama bertahun-tahun oleh seorang perempuan yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memanipulasi foto, menciptakan narasi palsu bahwa mereka berpacaran, bertunangan, hingga memiliki seorang anak bersama. Kasus ini terungkap setelah saudara perempuan korban membuat unggahan viral di platform Threads beberapa bulan lalu.

Pria yang disamarkan dengan nama samaran Luke itu sama sekali tidak menyadari bahwa ada seorang perempuan yang memiliki obsesi tidak sehat terhadap dirinya. Ia baru mengetahui fakta tersebut dari adik perempuannya, yang mendapat laporan dari seorang teman yang melihat foto-foto hasil rekayasa AI yang diunggah oleh pelaku di media sosial.

“Sungguh traumatis mengetahui bahwa foto-foto Anda digunakan dalam narasi yang begitu rumit,” kata Luke kepada The Straits Times. Ia menambahkan bahwa keluarganya sangat khawatir mengetahui bahwa orang asing memiliki foto dan video anak-anaknya yang disimpan di ponsel pelaku dan dibagikan secara daring sesuka hati.

A screenshot of an AI doctored image featuring a man holding a digitally inserted child.

Obsesi Berawal dari Masa Sekolah

Fakta yang lebih mengejutkan, Luke ternyata tidak benar-benar mengenal perempuan tersebut. Mereka hanya pernah menjadi teman sekolah 15 tahun lalu. “Saya hanya berbicara tidak lebih dari dua kalimat dengannya saat di sekolah,” ujar Luke. Namun, obsesi yang awalnya tampak seperti rasa suka biasa di masa kanak-kanak ternyata berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.

Pelaku tidak hanya memalsukan foto-foto kencan mereka bersama, tetapi juga menghasilkan gambar AI yang menunjukkan Luke sedang menggendong bayi yang diklaim sebagai anak mereka. Beberapa teman dari saudara perempuan Luke mengatakan bahwa pelaku menggunakan foto-foto palsu hasil AI tersebut untuk mencoba menambahkan mereka di berbagai platform media sosial.

Klaim Palsu yang Meluas

Menurut keterangan saudara perempuan Luke, pelaku membuat sejumlah klaim yang sangat mengkhawatirkan, antara lain bahwa ia telah bersama Luke sejak tahun 2011, bahwa ia hamil anak Luke, dan bahwa mereka bertunangan serta berencana menikah pada Desember tahun ini. Bahkan, pelaku disebut telah mengirimkan undangan pernikahan.

Setelah unggahan saudara perempuan Luke menjadi viral, sebuah toko roti lokal menghubunginya dan mengatakan bahwa pelaku sempat memesan kue dari mereka — untuk bayi palsu tersebut. Kasus ini menunjukkan bagaimana AI generatif dapat memperkuat delusi obsesif dan memberdayakan pelaku kejahatan untuk memenuhi fantasi spesifik mereka.

Yang lebih memprihatinkan, pelaku juga menggunakan foto keponakan dan anak saudara perempuan Luke yang diambil dari unggahan media sosial keluarga korban. “Sekarang kami sangat paranoid dan takut untuk memposting apa pun tentang anak-anak,” tulis saudara perempuan Luke di Threads.

Dampak AI terhadap Keamanan Digital

Kasus ini bukanlah insiden terisolasi. Jurnalis Taylor Lorenz dilaporkan menjadi target seorang penguntit yang menggunakan aplikasi pembuat video AI Sora milik OpenAI untuk membuat video tentang dirinya, yang kemudian diunggah ke ratusan akun media sosial. Dalam beberapa gugatan hukum, sejumlah perempuan mengaku bahwa penguntit mereka terdorong oleh percakapan dengan ChatGPT.

“Kami masih sangat terkejut bahwa seseorang mampu melakukan semua ini dengan bantuan AI,” tulis saudara perempuan Luke di media sosial. “Ini menunjukkan betapa AI benar-benar bisa menghancurkan hidup seseorang.” Ia menambahkan, “Dia menyalahgunakan kekuatan AI dengan sangat gila. Saya yakin saat dia mengetahui tentang AI, dia adalah orang paling bahagia di dunia karena akhirnya bisa melakukan hal gila seperti ini.”

Kasus ini menjadi peringatan serius tentang bagaimana teknologi AI dapat disalahgunakan untuk tujuan kriminal dan manipulasi psikologis. Keluarga korban kini hidup dalam ketakutan dan kecemasan, tidak lagi berani membagikan momen keluarga secara daring.