VP Robotik 1X Kecam Liputan Wired soal Tangan Robot Neo

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi robot humanoid 1X Neo dengan tangan robot canggih yang menjadi sorotan media dan industri teknologi.
  • Wakil Presiden 1X, Dar Sleeper, mengecam artikel Wired yang menyoroti strategi pemasaran robot Neo yang dianggap sensual.
  • Sleeper mengaku merasa dikhianati karena Wired tidak memberitakan seperti yang dijanjikan, dan menuduh jurnalis mencari sensasi.
  • Artikel Wired hanya dua paragraf dari keseluruhan tulisan yang sebagian besar memuji kecanggihan tangan robot Neo.
  • Jurnalis teknologi Joshua Topolsky mengkritik respons Sleeper yang berlebihan dan tidak proporsional dengan isi artikel.
  • Insiden ini menyoroti ketegangan antara startup yang ingin mengontrol narasi dan media yang bertugas menyajikan liputan berimbang.
  • Kasus ini relevan dengan dinamika hubungan startup dan media di ekosistem teknologi global.

JBNews.id — Wakil Presiden Produk dan Desain perusahaan robotika humanoid 1X, Dar Sleeper, meluapkan kekecewaannya terhadap artikel Wired yang menyoroti strategi pemasaran robot Neo. Sleeper menuduh jurnalis Wired menulis artikel aneh yang mengesankan perusahaan tengah menseksualisasikan robotikanya, sebuah respons yang justru menyoroti ketegangan antara narasi perusahaan dan liputan media.

Insiden ini bermula ketika Wired menerbitkan artikel pada pekan lalu yang mengulas tangan robot Neo buatan startup Norwegia-Amerika 1X. Artikel tersebut, yang ditulis oleh Boone Ashworth, mengakui kecanggihan tangan robot Neo yang dinilai mampu menyaingi dan bahkan melampaui ketangkasan tangan manusia dalam beberapa aspek. Namun, di bagian akhir tulisannya, Ashworth menyoroti pola yang menurutnya sensual dalam materi pemasaran perusahaan.

“Alunan jazz lembut terdengar di latar video yang lembut dan hangat. Jari-jari robot itu melingkari gelas anggur, mematikan lampu, membuka ritsleting jaket, dan dengan lembut meremas-remas buah anggur,” tulis Ashworth. Ia kemudian menambahkan, “Bukan untuk mempermalukan, tapi ini strategi yang aneh untuk menjual robot yang juga bisa menjadi portal bagi operator manusia untuk mengintip dan berinteraksi dengan barang-barang di rumah Anda.”

Kritik tersebut, yang hanya terdiri dari dua paragraf dalam artikel panjang, sontak memicu reaksi keras dari Sleeper. Melalui platform X (sebelumnya Twitter), Sleeper melontarkan serangkaian pernyataan yang menunjukkan rasa kecewa dan “dikhianati” oleh Wired.

“Saya memberikan Wired eksklusif peluncuran tangan kami, dan mereka menulis artikel yang sangat aneh tentang bagaimana kami menseksualisasikan robotika,” tulis Sleeper. Ia menambahkan bahwa ia merasa ada “ketidakjujuran dan kebencian” di komunitas jurnalisme. Sleeper bahkan mengirimkan email kepada Ashworth yang isinya, “Senang berbicara denganmu, tapi saya ingin memberitahu bahwa saya tidak menikmati artikelmu sama sekali.”

“Saya memahami kebutuhan untuk membuat sensasi karena itu tampaknya satu-satunya hal yang mendapatkan klik akhir-akhir ini, tapi itu tidak berarti Anda tidak boleh mengakui ketika ada sesuatu yang istimewa di depan Anda,” lanjut Sleeper. “Saya memercayai tim PR kami yang mengatakan kami harus menawarkan Anda eksklusif pada salah satu perkembangan teknologi paling penting dalam sejarah umat manusia dan saya sangat menyesalinya.”

Reaksi Industri dan Pengamat Teknologi

Pernyataan Sleeper justru menuai kritik dari kalangan jurnalis dan pengamat teknologi. Jurnalis teknologi Joshua Topolsky menilai bahwa respons Sleeper berlebihan dan tidak proporsional dengan isi artikel.

“Postingan ini membuatnya seolah seluruh artikel membahas tentang robot yang mencoba bercinta dengan Anda,” cuit Topolsky. “Faktanya, itu hanya sekitar dua paragraf yang mengomentari pemasaran robot dan masalah privasi dari mode kendali manusia Neo, di mana seseorang mengoperasikan robot dari jarak jauh, berpotensi di dalam rumah Anda dan pada momen-momen yang sangat pribadi.”

Topolsky menambahkan bahwa jika seorang eksekutif ingin jurnalis terlibat dalam pekerjaan mereka, mereka harus siap menerima sudut pandang yang mungkin terlewatkan. “Ini tampaknya salah satu dari kasus itu,” ujarnya.

Insiden ini menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan rintisan (startup) di bidang teknologi tinggi seringkali memiliki harapan yang berbeda dengan media. Sleeper secara eksplisit menyebut Wired sebagai publikasi teknologi yang sangat bereputasi, namun menginginkan kontrol penuh atas narasi yang diberitakan. Respons emosional ini justru memperkuat pengamatan Wired bahwa “seksualisasi” robot humanoid memang menjadi isu sensitif bagi perusahaan.

Kejadian serupa juga pernah terjadi di industri startup lainnya. Sebagai contoh, Phia Startup Putri Bill Gates juga pernah menghadapi kritik terkait praktik bisnisnya. Sementara itu, inovasi di bidang robotika dan AI terus berlanjut, seperti yang dilakukan oleh Startup AI Bersihkan Apartemen demi mengumpulkan data pelatihan.

Yang menarik, Sleeper dalam cuitannya juga menyebut bahwa ia menganggap Financial Times, Forbes, dan Bloomberg sebagai institusi yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki preferensi terhadap liputan media yang lebih berfokus pada aspek bisnis dan teknologi murni, bukan pada implikasi sosial atau etika dari produk yang ia kembangkan.

Bagi para pelaku industri, insiden ini menjadi pengingat bahwa hubungan antara startup dan media bersifat dua arah. Startup membutuhkan media untuk publisitas, namun media memiliki tugas untuk menyajikan liputan yang berimbang, termasuk menyoroti aspek-aspek yang mungkin tidak nyaman bagi perusahaan.

Implikasinya bagi pembaca, khususnya para penggemar teknologi dan pelaku industri, adalah pentingnya menyikapi liputan media secara kritis. Sebuah artikel yang menyoroti keanehan strategi pemasaran bukan berarti meniadakan kecanggihan teknologi yang diulas. Sebaliknya, respons emosional dari eksekutif perusahaan bisa menjadi indikator adanya celah antara klaim pemasaran dan realitas produk.

Kisah ini juga relevan dengan dinamika yang terjadi di ekosistem startup global, termasuk di Indonesia. Pergantian kepemimpinan di WhatsApp yang digantikan pendiri startup India, atau uji coba teknologi baru seperti pendorong satelit tanpa bahan bakar, menunjukkan bahwa tekanan dan ekspektasi terhadap startup sangat tinggi.

Pada akhirnya, kasus 1X vs Wired ini bukan sekadar perseteruan kecil di media sosial. Ini adalah cerminan dari perdebatan yang lebih besar tentang bagaimana teknologi baru, khususnya robotika humanoid, harus dipasarkan dan diberitakan. Apakah fokusnya semata-mata pada kecanggihan teknis, ataukah publik juga berhak mengetahui implikasi sosial dan etika yang menyertainya?

Bagi 1X, tantangan ke depan bukan hanya menyempurnakan teknologi tangan robot Neo, tetapi juga mengelola narasi publik dan hubungan media dengan lebih bijaksana. Respons yang defensif dan emosional, seperti yang ditunjukkan Sleeper, hanya akan memperkuat narasi yang ingin mereka hindari.