Utang Rp26.000 Triliun Raksasa AI Terbongkar

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi pengusaha menolak dengan tangan terangkat sebagai gestur defensif terkait utang AI
  • Lima raksasa teknologi AS (Alphabet, Microsoft, Amazon, Meta, Oracle) sembunyikan utang USD1,65 triliun di luar neraca
  • Meta tercatat memiliki utang off-balance-sheet terbesar sekitar USD420 miliar
  • Praktik ini menggunakan special purpose vehicles mirip skandal Enron 2001
  • Utang tersembunyi lebih besar dari utang resmi USD1,35 triliun
  • Ahli peringatkan risiko gelembung AI dan kerentanan jika gelembung pecah

JBNews.id — Lima raksasa teknologi Amerika Serikat menyembunyikan utang gabungan sekitar USD1,65 triliun atau setara Rp26.000 triliun di luar neraca keuangan mereka. Temuan ini diungkap oleh media keuangan Jepang, Nikkei Asia, dalam investigasi terbaru yang menyoroti kerentanan industri kecerdasan buatan (AI) yang tengah gencar berinvestasi.

Angka fantastis itu bahkan melampaui total utang resmi yang dilaporkan kelima perusahaan—Alphabet, Microsoft, Amazon, Meta, dan Oracle—yang mencapai USD1,35 triliun pada kuartal terakhir. Meta sendiri tercatat memiliki utang di luar neraca sekitar USD420 miliar, menjadikannya salah satu perusahaan dengan risiko keuangan paling tersembunyi di sektor ini.

Baca Juga:

Praktik Akuntansi Mirip Enron

Mekanisme yang digunakan perusahaan-perusahaan ini disebut sebagai special purpose vehicles (SPV) atau pengaturan di luar neraca melalui anak perusahaan yang sah secara hukum. Tujuannya: membuat laporan keuangan tampak lebih sehat dari kondisi sebenarnya. Praktik ini mengingatkan pada skandal Enron pada 2001, di mana perusahaan energi AS itu kolaps akibat utang yang disembunyikan di belakang perusahaan cangkang.

“Perlakuan akuntansi itu sendiri sedang menjadi tren,” ujar Tom Selling, konsultan akuntansi teknis, kepada Bloomberg. “Tapi bagaimana jika salah satu perusahaan ini ternyata adalah rumah kartu yang menopang dirinya sendiri dengan perlakuan akuntansi ini? Menurut saya, itulah risikonya.”

Para ahli terus memperingatkan adanya gelembung AI, merujuk pada kesenjangan besar antara valuasi perusahaan dan laba yang relatif kecil. Temuan Nikkei Asia ini memperkuat kekhawatiran bahwa situasi sebenarnya lebih genting daripada yang terlihat di neraca resmi.

Untuk mengikuti perlombaan AI, raksasa teknologi menggelontorkan dana besar-besaran untuk membangun pusat data berskala raksasa. Ini adalah taruhan jangka panjang yang belum pasti akan membuahkan hasil. Mereka juga menerbitkan saham baru untuk mengumpulkan dana segar, yang berpotensi menyebabkan dilusi ekuitas dan penurunan kepercayaan investor.

Tekanan Menjelang Laporan Keuangan

Empat dari lima perusahaan yang dianalisis Nikkei akan melaporkan laba kuartal kedua dalam beberapa hari dan pekan mendatang. Hasil laporan ini akan menjadi indikator kunci apakah investasi AI yang masif benar-benar menghasilkan pendapatan yang sepadan.

Jika gelembung AI benar-benar pecah atau industri gagal menghasilkan permintaan yang cukup untuk membenarkan pembangunan pusat data yang melonjak, perusahaan-perusahaan ini akan berada dalam posisi yang sangat rentan. Fitur-fitur AI yang kini digembar-gemborkan mungkin tidak cukup untuk menutupi lubang utang yang menganga.

Praktik penyembunyian utang ini menjadi sorotan tajam di tengah meningkatnya tekanan dari regulator dan investor untuk transparansi keuangan. Sementara itu, perusahaan global mulai melirik alternatif yang lebih murah dari China, seperti yang dilaporkan dalam analisis perusahaan global beralih ke AI China.

Dampak dari praktik ini tidak hanya terbatas pada sektor teknologi. Jika salah satu raksasa ini kolaps, efek domino bisa merembet ke pasar saham global, investor institusi, dan bahkan dana pensiun yang menanamkan modal di perusahaan-perusahaan tersebut.

Yang jelas, industri AI saat ini berjalan di atas panggung yang rapuh. Di satu sisi, inovasi dan potensi transformasi AI sangat nyata. Di sisi lain, fondasi keuangan yang menopangnya ternyata penuh dengan utang tersembunyi yang bisa runtuh kapan saja.

Bagi pembaca, temuan ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap teknologi dan janji-janji revolusi AI, terdapat risiko sistemik yang perlu dicermati. Apakah industri ini akan mampu bertahan dan membuktikan bahwa investasi triliunan dolar itu sepadan, atau justru akan menjadi pelajaran mahal seperti Enron? Jawabannya mungkin akan terungkap dalam beberapa bulan ke depan.