Uni Eropa Beri Google Waktu Setahun Buka Akses Android untuk Pesaing AI

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️7 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi logo Google Gemini dan Android di latar belakang bendera Uni Eropa
  • Komisi Eropa perintahkan Google buka akses Android untuk pesaing AI dengan tenggat Juli 2027
  • Google dapat masa tenggang setahun, dinilai sebagai kemenangan regulasi
  • Gemini sudah terintegrasi dalam Android dan jadi asisten default di banyak perangkat
  • Apple justru tolak luncurkan Siri AI di Eropa karena DMA, dapatkan respons berbeda
  • Google vs Apple: pendekatan berbeda dalam menghadapi regulasi DMA Eropa
  • Keputusan ini berpotensi buka lebih banyak pilihan asisten AI bagi pengguna Android
  • Google belum berkomentar soal kemungkinan menggugat keputusan ini

JBNews.id — Komisi Eropa secara resmi memerintahkan Google untuk memberikan akses yang setara kepada pesaing kecerdasan buatan (AI) terhadap sistem operasi Android, sebuah langkah yang terlihat seperti kekalahan di atas kertas namun justru menjadi kemenangan regulasi bagi raksasa teknologi tersebut.

Perintah yang dikeluarkan pada Kamis (25/6/2026) ini mewajibkan Google memberikan asisten AI rival fitur sistem dan akses data yang sama seperti yang dinikmati oleh Gemini, asisten AI milik Google sendiri. Keputusan ini berakar pada Digital Markets Act (DMA), undang-undang pasar digital Eropa yang mewajibkan platform dominan yang ditetapkan sebagai “gatekeeper” untuk memberikan akses kepada pesaing terhadap sistem dan data tertentu.

Yang menjadi kunci dalam keputusan ini adalah tenggat waktu yang diberikan. Google memiliki waktu hingga Juli 2027 untuk melakukan perubahan tersebut. Artinya, perusahaan yang bermarkas di Mountain View, California, itu mendapatkan masa tenggang sekitar satu tahun untuk terus memperluas jangkauan Gemini, merundingkan detail teknis dengan Komisi Eropa, dan menentukan bagaimana para pesaingnya nantinya akan terhubung ke ekosistem Android.

Meskipun Google telah menyatakan keberatannya terhadap pembukaan sistem — dengan alasan risiko terhadap keamanan dan privasi pengguna — masa tenggang satu tahun ini justru memperkuat posisi dominan Gemini. Asisten AI tersebut sudah terintegrasi secara mendalam ke dalam Android dan sering kali terpasang sebagai asisten default di banyak perangkat. Hal ini memberi Google waktu lebih banyak untuk memperkuat posisinya sebelum pesaing seperti OpenAI dan Anthropic mendapatkan tingkat akses yang sebanding.

Perusahaan induk Google, Alphabet, belum memberikan komentar resmi mengenai apakah akan menantang keputusan ini di pengadilan. Saat dikonfirmasi oleh The Verge, pihak Google menolak memberikan pernyataan resmi.

Strategi Google vs Apple dalam Menghadapi DMA

Strategi Google yang memprioritaskan peluncuran produk dan kemudian bernegosiasi dengan regulator ini sangat kontras dengan pendekatan Apple. Ketika Apple mengumumkan asisten AI Siri yang telah lama ditunggu-tunggu pada bulan lalu, perusahaan tersebut dengan tegas menyatakan bahwa fitur itu tidak akan diluncurkan di Eropa karena DMA.

Komisi Eropa juga memerintahkan Apple untuk memberikan akses yang sebanding kepada asisten pihak ketiga terhadap sistem, fitur, dan data utama seperti yang dimiliki Siri AI. Apple berargumen bahwa melakukan hal tersebut “tidak bertanggung jawab” dan akan menciptakan risiko privasi dan keamanan yang tidak dapat diterima. Perusahaan yang berbasis di Cupertino itu meminta waktu 18 bulan kepada Komisi Eropa untuk membangun versi yang sesuai dan memperkenalkan interoperabilitas yang diperlukan secara bertahap. Permintaan itu ditolak oleh Komisi Eropa.

Hingga saat ini, Apple belum memiliki jadwal publik kapan, atau bahkan apakah, mereka berencana untuk membawa Siri AI ke Uni Eropa. Perusahaan tersebut tidak menanggapi permintaan komentar dari The Verge.

Di sisi lain, Google justru mendapatkan masa tenggang yang diinginkan Apple untuk Siri AI: waktu untuk mematuhi DMA sementara asisten AI mereka tetap berada di pasar. Keputusan ini menunjukkan bahwa Google mungkin telah berhasil mengakali Apple dengan bermain lebih cerdas dalam permainan regulasi Brussel.

Perbedaan pendekatan ini mungkin sebagian mencerminkan posisi masing-masing perusahaan ketika DMA mulai membentuk keputusan produk. Gemini telah menjadi pilar utama strategi AI Google selama bertahun-tahun dan telah didistribusikan secara luas di seluruh ekosistem produk perusahaan. Hal ini memberi Google insentif kuat untuk tetap berada di pasar dan mencari cara untuk mematuhi peraturan di kemudian hari.

Sementara itu, Apple baru saja meluncurkan Siri AI yang sangat baru dan memilih untuk menahannya dari Uni Eropa, meskipun memiliki waktu bertahun-tahun untuk mengantisipasi persyaratan DMA selama desain produk. Apple juga memilih untuk menjadikan ketidakhadiran Siri AI sebagai senjata politik, dengan harapan opini publik akan berpihak padanya dan menekan Brussel untuk melonggarkan persyaratan interoperabilitas.

Apple melakukannya secara terbuka dan berulang kali, termasuk mendedikasikan bagian dari keynote WWDC 2026 untuk menjelaskan mengapa Siri AI tidak akan hadir di Eropa, menerbitkan posting blog berjudul “Due to DMA, Siri AI delayed in EU for iOS 27 and iPadOS 27,” dan mengadakan briefing media tentang masalah ini. Semua ini bertujuan untuk menampilkan Brussel, bukan pilihan produk Apple, sebagai alasan penundaan.

Implikasi bagi Industri AI dan Pengguna Android

Keputusan Komisi Eropa ini memiliki implikasi luas bagi industri AI dan pengguna Android di Eropa. Bagi pengguna, keputusan ini berpotensi membawa lebih banyak pilihan asisten AI di perangkat Android mereka. Pesaing seperti OpenAI dengan ChatGPT-nya atau Anthropic dengan Claude-nya dapat memperoleh akses yang lebih dalam ke sistem Android, memungkinkan integrasi yang lebih mulus dan fungsionalitas yang lebih kaya.

Bagi Google, keputusan ini memberikan kepastian regulasi yang jelas. Dengan tenggat waktu hingga Juli 2027, Google memiliki peta jalan yang jelas tentang apa yang perlu dilakukan dan kapan. Perusahaan dapat fokus pada perluasan Gemini sambil merundingkan detail teknis implementasi dengan Komisi Eropa.

Namun, perlu dicatat bahwa Google dan Apple sama-sama menentang keras tuntutan interoperabilitas DMA, dengan alasan bahwa hal itu mengancam privasi, keamanan, dan integritas produk. Kedua perusahaan juga telah bekerja sama dalam mengintegrasikan Gemini ke dalam produk AI Apple, termasuk Siri AI, sehingga kemungkinan mereka tetap berhubungan sambil menjajaki cara berbeda untuk melawan serangkaian pembatasan yang sama.

Untuk saat ini, perbedaan pendekatan antara Google dan Apple sangat mencolok. Google memiliki waktu satu tahun untuk membawa Android ke dalam kepatuhan sambil terus memperluas Gemini. Brussel menolak memberikan masa tenggang semacam itu kepada Apple, dan tidak ada yang tahu kapan Siri AI akan mencapai Uni Eropa.

Keputusan ini juga memberikan sinyal kepada industri teknologi global bahwa Uni Eropa serius dalam menegakkan DMA. Perusahaan teknologi besar harus mempertimbangkan implikasi regulasi Eropa dalam setiap keputusan produk mereka, bukan hanya sebagai renungan di akhir proses pengembangan.

Bagi para pengembang dan perusahaan rintisan di bidang AI, keputusan ini membuka peluang baru. Akses yang setara ke sistem Android dapat memungkinkan mereka untuk bersaing secara lebih adil dengan pemain mapan seperti Google. Namun, mereka juga harus siap dengan tantangan teknis dan regulasi yang menyertai akses tersebut.

Dalam konteks yang lebih luas, keputusan ini menunjukkan bagaimana regulasi dapat membentuk lanskap persaingan di industri teknologi. DMA dirancang untuk menciptakan lapangan bermain yang setara, dan keputusan terhadap Google ini adalah salah satu ujian pertamanya.

Ke depannya, pengguna Android di Eropa dapat mengharapkan lebih banyak pilihan dalam hal asisten AI. Namun, seberapa cepat pilihan itu akan tersedia dan seberapa dalam integrasinya akan sangat tergantung pada bagaimana Google dan para pesaingnya merespons keputusan ini.

Google juga harus mempertimbangkan aspek keamanan dan privasi dalam membuka akses sistem Android. Perusahaan telah berulang kali menyoroti risiko keamanan yang mungkin timbul dari interoperabilitas yang lebih luas. Bagaimana Google menyeimbangkan kepatuhan regulasi dengan perlindungan pengguna akan menjadi tantangan tersendiri.

Di sisi lain, keputusan ini dapat mendorong inovasi di bidang asisten AI. Dengan akses yang setara, para pesaing dapat mengembangkan fitur-fitur baru yang memanfaatkan kemampuan sistem Android secara lebih mendalam. Hal ini pada akhirnya dapat menguntungkan pengguna yang akan mendapatkan lebih banyak pilihan dan fungsionalitas yang lebih baik.

Keputusan Komisi Eropa ini juga menjadi preseden bagi regulator di negara lain. Jika Uni Eropa berhasil menegakkan DMA dan menciptakan persaingan yang lebih sehat di pasar AI, negara-negara lain mungkin akan mengadopsi pendekatan serupa. Hal ini dapat mengubah lanskap industri AI global secara fundamental.

Bagi Google, keputusan ini mungkin terlihat seperti kekalahan di atas kertas, tetapi dengan tenggat waktu yang panjang dan posisi Gemini yang sudah kuat, perusahaan ini sebenarnya mendapatkan hasil yang cukup menguntungkan. Google dapat terus mengembangkan Gemini sambil merundingkan detail implementasi, dan pada saat akses dibuka pada Juli 2027, Gemini kemungkinan sudah semakin sulit untuk dikejar oleh para pesaing.

Apple, di sisi lain, menghadapi situasi yang lebih sulit. Dengan menolak meluncurkan Siri AI di Eropa, Apple kehilangan kesempatan untuk membangun basis pengguna dan mengumpulkan data yang berharga. Sementara itu, Google dan para pesaingnya di Eropa akan terus maju, dan ketika Siri AI akhirnya tiba di Eropa, Apple mungkin akan tertinggal.

Keputusan ini juga relevan dengan perkembangan lain di ekosistem Android. Google sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk membuka toko aplikasi pesaing di Play Store mulai 22 Juli 2026, sebuah langkah yang juga merupakan respons terhadap tekanan regulasi. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Google semakin terbuka terhadap tekanan regulasi, setidaknya di permukaan.

Bagi konsumen di Indonesia, perkembangan ini mungkin terlihat jauh, tetapi dampaknya dapat terasa dalam jangka panjang. Jika model regulasi Eropa berhasil, negara-negara lain termasuk Indonesia mungkin akan mengadopsi pendekatan serupa. Hal ini dapat membawa lebih banyak pilihan dan persaingan yang lebih sehat di pasar AI Indonesia.

Namun, untuk saat ini, fokus utama adalah pada implementasi keputusan ini di Eropa. Google memiliki waktu satu tahun untuk mempersiapkan perubahan yang diperlukan, dan para pesaing AI akan mengawasi dengan saksama bagaimana Google akan mematuhi perintah tersebut.

Yang jelas, pertarungan antara raksasa teknologi dan regulator Eropa masih jauh dari selesai. Keputusan ini hanyalah salah satu babak dalam drama regulasi yang akan terus berlanjut selama bertahun-tahun ke depan. Bagi Google, keputusan ini adalah kemenangan regulasi yang memungkinkan mereka untuk terus memimpin sambil mematuhi peraturan. Bagi Apple, ini adalah pukulan yang memaksa mereka untuk memikirkan kembali strategi Eropa mereka. Dan bagi konsumen, ini adalah awal dari era baru di mana pilihan asisten AI di perangkat Android mungkin akan jauh lebih beragam.

Dengan tenggat waktu hingga Juli 2027, semua mata sekarang tertuju pada Google untuk melihat bagaimana mereka akan mengimplementasikan perubahan ini tanpa mengorbankan keamanan dan privasi yang selama ini mereka jaga. Sementara itu, para pesaing AI akan terus mengembangkan teknologi mereka, siap untuk memanfaatkan akses yang akan segera mereka dapatkan ke ekosistem Android yang luas.