SoftBank CEO: Tuduhan Gelembung AI Adalah Tidak Masuk Akal

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi foto bergaya Chairman dan CEO SoftBank Group Corp., Masayoshi Son, dengan ekspresi serius
  • CEO SoftBank Masayoshi Son membantah tuduhan gelembung AI, menyebutnya tidak masuk akal
  • Son siap menginvestasikan triliunan dolar per tahun demi kesuksesan AI
  • SoftBank telah menginvestasikan hampir $65 miliar ke OpenAI
  • S&P Global menurunkan prospek SoftBank dari netral menjadi negatif
  • Son memprediksi model bisnis AI akan layak pada 2040
  • Kekhawatiran publik AS terhadap gelembung AI semakin meningkat

JBNews.id — Masayoshi Son, CEO SoftBank, dengan tegas membantah kekhawatiran tentang gelembung kecerdasan buatan (AI). Dalam pidato di konferensi tahunan perusahaannya di Tokyo, ia menyebut anggapan tersebut sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal” dan menyatakan kesiapannya untuk menginvestasikan triliunan dolar demi kesuksesan AI.

Pernyataan Son muncul di tengah kekhawatiran yang meluas di kalangan investor dan publik Amerika Serikat. Jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas warga AS tidak hanya percaya bahwa ada gelembung AI, tetapi juga semakin khawatir akan dampaknya. Namun, taipan investasi asal Jepang ini sama sekali tidak terpengaruh oleh sentimen tersebut.

“Bertanya apakah AI adalah gelembung itu tidak masuk akal. Saya pikir orang yang menanyakan pertanyaan itu tidak tahu apa itu AI,” ujar Son kepada para peserta konferensi, seperti dilaporkan Reuters. Ia bahkan mengungkapkan angka investasi yang mencengangkan: “Setiap tahun $5 triliun, atau 800 triliun yen, Anda mungkin berpikir itu bohong, tapi saya yakin itulah biayanya.”

Son sebelumnya pernah menyatakan bahwa menganggap AI sebagai gelembung adalah “penistaan terhadap AI.” Ia yakin bahwa potensi teknologi ini pada akhirnya akan terwujud. Keyakinan ini mendorong SoftBank untuk terus mengucurkan dana besar-besaran ke sektor AI, dengan OpenAI sebagai penerima manfaat utama.

Namun, strategi agresif ini bukannya tanpa risiko. SoftBank telah menginvestasikan hampir $65 miliar ke OpenAI, jumlah yang sangat besar sehingga memaksa lembaga pemeringkat kredit utama untuk menurunkan peringkat perusahaan dalam beberapa bulan terakhir. Analis S&P Global, ketika menurunkan prospek SoftBank dari “netral” menjadi “negatif” pada Maret lalu, memperingatkan bahwa likuiditas portofolio investasi SoftBank akan memburuk karena porsi OpenAI yang semakin besar.

Baca Juga:

Laporan kredit S&P Global secara spesifik memperingatkan jalur yang justru sedang diperkuat oleh CEO Son. “Investasi tambahan akan semakin mengurangi kapasitas finansial SoftBank Group, menurut pandangan kami,” demikian bunyi laporan tersebut. “Kami memperkirakan bahwa investasi tambahan di OpenAI akan menaikkan rasio loan-to-value perusahaan hampir empat poin persentase, memperburuk metrik keuangan utama ini.”

Meskipun ada peringatan keras dari lembaga pemeringkat, Son tidak gentar. Ia bahkan memperpanjang prediksinya tentang kecerdasan super AI. Jika sebelumnya ia memperkirakan hal itu akan terjadi pada 2035, kini ia menambahkan lima tahun lagi menjadi 2040. “Model bisnisnya akan layak karena pada tahun 2040,” kata Son, “jika pendapatan AI mencapai 20 persen dari PDB global, menghabiskan 800 triliun yen per tahun adalah kesalahan pembulatan.”

Ilustrasi foto bergaya menampilkan Chairman dan CEO SoftBank Group Corp., Masayoshi Son.

Keyakinan Son yang tak tergoyahkan ini menimbulkan pertanyaan besar bagi para investor dan pengamat industri. Di satu sisi, visinya tentang masa depan AI yang dominan sangat ambisius. Di sisi lain, komitmen finansial yang sangat besar ini berpotensi membahayakan stabilitas SoftBank sendiri. Investor Ganda pun mulai mempertanyakan apakah strategi ini akan membuahkan hasil atau justru menjadi bumerang.

Pertaruhan SoftBank pada AI tidak hanya terbatas pada OpenAI. Perusahaan ini juga telah berinvestasi di berbagai perusahaan rintisan AI lainnya, menunjukkan keyakinan penuh bahwa teknologi ini akan menjadi fondasi ekonomi masa depan. Namun, dengan valuasi yang melonjak dan kekhawatiran akan Ancaman Kecerdasan Super, banyak pihak yang meragukan keberlanjutan model ini.

Bagi investor dan pelaku pasar, pernyataan Son menjadi sinyal bahwa SoftBank tidak akan mundur dari perlombaan AI. Ini berarti arus modal besar akan terus mengalir ke sektor ini, terlepas dari risiko yang ada. Pertanyaannya sekarang adalah: apakah keyakinan Son yang begitu besar ini akan terbayar, atau justru menjadi salah satu keputusan investasi paling berisiko dalam sejarah?

Dengan skala investasi yang mencapai triliunan dolar, masa depan SoftBank kini terkait erat dengan kesuksesan AI. Jika visi Son benar, perusahaan ini akan menuai keuntungan yang tak terbayangkan. Namun, jika gelembung AI benar-benar terjadi, dampaknya bisa sangat menghancurkan tidak hanya bagi SoftBank, tetapi juga bagi seluruh ekosistem teknologi global.

Pasar dan para pemangku kepentingan kini mencermati langkah selanjutnya dari Masayoshi Son. Apakah ia akan terus berpegang teguh pada visinya yang berani, atau akan ada perubahan strategi di tengah tekanan dari lembaga pemeringkat dan kekhawatiran pasar? Satu hal yang pasti: taruhannya belum pernah setinggi ini.