Perilaku Buruk Penumpang Robotaxi Meningkat di AS

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi mobil Waymo dengan latar belakang kota
  • Penumpang robotaxi di AS sering meninggalkan kekacauan seperti tumpahan minuman, sisa makanan, dan muntahan
  • Di Austin, Texas, petugas darurat harus membuat kategori khusus "sleepers" untuk penumpang yang tertidur
  • Seorang pengemudi Tesla ditangkap karena pingsan setelah makan dan minum di dalam kendaraan self-driving
  • Robotaxi sering melaju pergi begitu saja, menyulitkan proses pembersihan
  • Fenomena ini membebani sumber daya publik dan memerlukan regulasi lebih ketat

JBNews.id — Fenomena robotaxi yang semakin marak di Amerika Serikat memunculkan pola baru yang meresahkan: penumpang cenderung bersikap semena-mena karena tidak ada pengemudi manusia di dalam kendaraan. Laporan Bloomberg mengungkapkan bahwa pengguna layanan dari Waymo, Tesla, dan Zoox kerap meninggalkan kekacauan di dalam kabin, mulai dari tumpahan minuman, sisa makanan, hingga cairan tubuh seperti muntahan.

Perilaku ini mencerminkan hilangnya rasa tanggung jawab sosial saat tidak ada figur otoritas di dalam kendaraan. Para penumpang merasa bebas melakukan apa pun tanpa konsekuensi langsung, menjadikan robotaxi sebagai “tempat sampah berjalan” bagi pengguna berikutnya.

Dampak pada Sumber Daya Publik

Fenomena ini tidak hanya merugikan perusahaan operator, tetapi juga membebani sumber daya publik. Di Austin, Texas, petugas darurat menerima begitu banyak laporan tentang penumpang yang tertidur di dalam robotaxi Waymo selama sembilan bulan pertama operasi, hingga mereka harus menciptakan kategori khusus untuk “sleepers” atau penumpang yang tertidur.

Kondisi ini menunjukkan bahwa robotaxi tidak hanya mengubah cara orang bepergian, tetapi juga memicu perilaku baru yang memerlukan respons dari aparat dan layanan darurat. Biaya pembersihan dan penanganan insiden semacam ini berpotensi menjadi beban tambahan bagi kota-kota yang mengadopsi teknologi tersebut.

Robotaxi sebagai “Party Bus”

Beberapa penumpang bahkan memanfaatkan ketiadaan pengemudi untuk mengubah robotaxi menjadi “party bus” atau kendaraan pesta. Pada April lalu, seorang pengemudi Tesla ditangkap setelah polisi menemukannya pingsan di balik kemudi—dalam mode self-driving—setelah menghabiskan wine cooler dan pizza sebelum tertidur.

Kasus ini menunjukkan bahwa sebagian pengguna menganggap robotaxi sebagai ruang pribadi yang tidak memiliki aturan, bukan sebagai layanan transportasi publik yang harus dihormati. Perilaku semena-mena ini berpotensi merusak citra industri robotaxi yang masih berjuang untuk mendapatkan kepercayaan publik dan regulasi yang mendukung.

Masalah Pembersihan dan Desain

Membersihkan kekacauan di dalam robotaxi bukanlah perkara mudah. Seperti yang dialami seorang penumpang Waymo pada Mei lalu, kendaraan tanpa pengemudi terkadang melaju pergi dalam hitungan detik setelah menurunkan penumpang—bahkan jika barang bawaan masih tertinggal di bagasi. Hal ini menyulitkan proses pembersihan karena kendaraan tidak bisa menunggu di tempat.

Desain robotaxi yang tidak memiliki pengemudi juga berarti tidak ada staf yang bisa memantau kondisi kabin secara real-time. Perusahaan operator harus mengandalkan sensor dan kamera internal untuk mendeteksi kekacauan, namun sistem ini belum tentu efektif untuk menangani semua jenis insiden. Bloomberg mencatat bahwa pola ini semakin sering terjadi seiring bertambahnya jumlah robotaxi di jalanan AS.

Implikasinya bagi industri ini jelas: tanpa pengawasan manusia, perilaku penumpang cenderung memburuk. Aturan Robotaxi yang lebih ketat mungkin diperlukan untuk mengantisipasi masalah ini, termasuk sanksi bagi penumpang yang merusak kendaraan.

Bagi pembaca di Indonesia yang belum memiliki layanan robotaxi, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Ketika teknologi otonom akhirnya tiba di Tanah Air, kesiapan regulasi dan kesadaran pengguna akan menjadi faktor krusial. Tanpa keduanya, masalah serupa berpotensi terulang di sini.

Sementara itu, Tesla Robotaxi yang hanya mengoperasikan 59 unit menunjukkan bahwa skala industri ini masih sangat terbatas. Namun, dengan pertumbuhan yang terus berlanjut, pola perilaku penumpang ini perlu menjadi perhatian serius bagi regulator dan operator.

Pada akhirnya, robotaxi menawarkan potensi besar dalam efisiensi transportasi, namun tanpa adanya norma sosial yang jelas, teknologi ini justru bisa menimbulkan masalah baru. Data dari Bloomberg dan laporan berbagai kota di AS menjadi bukti awal bahwa perilaku penumpang adalah tantangan yang tidak bisa diabaikan.

Bagi kalangan industri dan regulator, temuan ini menegaskan perlunya pendekatan holistik—tidak hanya dari sisi teknis kendaraan, tetapi juga dari aspek perilaku pengguna dan kerangka hukum yang mengatur. Kota-kota yang ingin mengadopsi robotaxi harus siap dengan biaya tambahan untuk pengawasan dan pembersihan.

Ilustrasi foto berwarna menampilkan mobil Waymo dengan latar belakang kota