Ultrasonic Espresso: Kopi Nikmat Tanpa Panas, Hemat Energi 75%

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi teknologi ultrasonic espresso menggunakan gelombang suara untuk menyeduh kopi tanpa panas di University of New South Wales
  • Peneliti Australia ciptakan ultrasonic espresso, metode seduh kopi tanpa panas menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi
  • Proses ini mengkonsumsi hanya 24% energi dari mesin espresso konvensional, menghemat hingga 75% energi
  • Uji rasa oleh 100 partisipan menunjukkan tidak ada preferensi signifikan antara ultrasonic espresso dan espresso biasa
  • Teknologi ini menggunakan fenomena kavitasi akustik untuk mengekstrak senyawa kopi pada suhu ruangan
  • Peneliti menemukan waktu seduh optimal antara 2,5 hingga 3 menit untuk mencapai konsentrasi ideal
  • Konsentrasi kafein dan asam klorogenat setara dengan kopi yang diseduh dengan metode konvensional
  • Teknologi ini berpotensi dikembangkan menjadi pembuat kopi serbaguna untuk espresso, kopi saring, dan cold brew

JBNews.id — Sebuah tim peneliti di Australia berhasil menciptakan metode baru penyeduhan kopi yang revolusioner: “ultrasonic espresso.” Proses ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk mengekstrak rasa, minyak, aroma, dan kafein dari bubuk kopi pada suhu ruangan, tanpa memerlukan panas sama sekali. Inovasi ini tidak hanya menjanjikan cita rasa kopi yang setara dengan espresso konvensional, tetapi juga menawarkan efisiensi energi yang luar biasa, dengan konsumsi listrik hanya 24 persen dari mesin espresso biasa.

Peneliti asal Kolombia, Francisco Trujillo, memimpin tim di University of New South Wales, Australia, dalam pengembangan teknologi ini. Metode yang mereka sebut “ultrasonic espresso” membutuhkan waktu penyeduhan yang lebih lama, yaitu tiga menit, dibandingkan metode espresso tradisional yang hanya 30 detik. Namun, kelemahan waktu tersebut diimbangi dengan penghematan energi hingga 75 persen. “Ini adalah proses penyeduhan suhu ruangan yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk mengekstrak rasa, minyak, aroma, dan kafein dari bubuk kopi,” jelas Trujillo.

Manfaat penghematan energi ini sangat signifikan, terutama bagi kedai kopi dan restoran, namun yang paling diuntungkan adalah bisnis yang memproduksi kopi dalam skala industri, seperti produsen minuman siap minum (ready-to-drink). Inovasi ini membuka peluang besar untuk mengurangi biaya operasional dan dampak lingkungan di sektor produksi kopi massal. Teknologi serupa yang mengubah cara industri beroperasi juga terlihat di sektor lain, misalnya bagaimana Shenzhen InnoX Academy melahirkan berbagai perusahaan rintisan berbasis AI dan hardware.

Bagaimana Cara Kerja Sonic Brew?

Sistem eksperimental ini bekerja dengan mengarahkan gelombang ultrasonik langsung ke dalam filter yang berisi bubuk kopi dan air. Alih-alih mengandalkan panas, teknologi ini memanfaatkan fenomena yang dikenal sebagai kavitasi akustik. Fenomena ini melibatkan pembentukan dan pecahnya gelembung-gelembung kecil yang menghasilkan arus mikro. Dalam eksperimen ini, arus mikro tersebut memfasilitasi ekstraksi senyawa terlarut dari kopi.

Untuk menghasilkan arus mikro tersebut, para ilmuwan merancang perangkat yang mampu mentransmisikan getaran ultrasonik ke seluruh keranjang filter, mengubahnya menjadi semacam reaktor akustik. Desain ini memungkinkan gelombang untuk mengenai banyak titik secara bersamaan dan mempercepat pergerakan cairan di sekitar partikel kopi. “Ultrasound membantu kita menggantikan panas dengan energi mekanik,” jelas Trujillo.

Tujuan dari seluruh proses ini, yang dijelaskan secara lebih rinci dalam Journal of Food Engineering edisi bulan ini, adalah untuk mencapai konsentrasi yang sebanding dengan espresso. Untuk melakukannya, para peneliti menyesuaikan variabel seperti ukuran gilingan, daya ultrasonik, dan waktu penyeduhan. Dengan menggunakan gilingan halus dan daya 100 watt, mereka memperoleh minuman dengan tingkat padatan terlarut dan hasil ekstraksi yang setara dengan standar ideal yang ditetapkan oleh Specialty Coffee Association.

Ketika eksperimen diulangi dalam kondisi yang sama tetapi tanpa ultrasound, nilai-nilai ideal tersebut tidak dapat dicapai. Sistem ultrasonik memungkinkan produksi kopi dengan intensitas mirip espresso hanya dalam beberapa menit—para peneliti menemukan waktu optimal antara dua setengah hingga tiga menit—menggunakan air pada suhu ruangan. Tim juga menganalisis berbagai parameter kimia. Konsentrasi kafein dan asam klorogenat ternyata serupa dengan yang diperoleh melalui metode konvensional. Tidak ada perbedaan signifikan yang diamati pada pH atau komposisi keseluruhan senyawa volatil yang bertanggung jawab atas aroma.

Uji Rasa: Apakah Ultrasonic Espresso Lebih Enak?

Sebuah kelompok yang terdiri dari 100 orang berpartisipasi dalam uji sensorik di mana mereka membandingkan ultrasonic espresso dengan espresso konvensional. Hasilnya, para peserta tidak menunjukkan preferensi yang signifikan terhadap salah satu metode. Skor untuk aroma, rasa, tingkat kepahitan, dan penerimaan secara keseluruhan hampir setara. Hal ini menunjukkan bahwa ultrasound mampu mereplikasi profil rasa kopi espresso dengan sangat baik.

Para peserta juga membandingkan kopi saring yang dibuat dengan metode konvensional dan dengan ultrasound. “Dalam kasus kopi saring, versi yang diproses dengan ultrasound umumnya lebih disukai, dan peserta menilai tingkat kepahitannya lebih menyenangkan,” catat Trujillo. Temuan ini mengindikasikan bahwa teknologi ultrasonik bahkan dapat meningkatkan kualitas rasa untuk jenis kopi tertentu.

Selain mampu mereplikasi karakteristik sensorik espresso, teknik baru ini juga menawarkan manfaat lingkungan yang signifikan. Pengukuran yang dilakukan oleh para peneliti menunjukkan bahwa, untuk menghasilkan minuman dengan intensitas yang sama, sistem ultrasonik hanya menggunakan 24 persen dari energi yang dikonsumsi oleh mesin espresso biasa. Ini adalah lompatan besar dalam efisiensi energi untuk industri kopi.

Implikasi dan Masa Depan Seduhan Kopi

Para penulis menekankan bahwa kopi yang diproduksi menggunakan ultrasound tidak identik dengan espresso tradisional. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk menghasilkan minuman dengan karakteristik kimia dan sensorik yang sebanding tanpa memanaskan air. Penelitian ini membuka kemungkinan untuk mengembangkan pembuat kopi baru yang mampu menyeduh segala jenis minuman, mulai dari espresso hingga kopi saring dan cold brew, hanya dengan menggunakan teknologi yang sama.

Jika sistem ini suatu hari nanti dipasarkan, suara khas mesin espresso yang mendesis bisa digantikan oleh getaran ultrasonik yang tidak terdengar. Inovasi ini berpotensi mengubah cara kita menikmati kopi di rumah dan di kafe, dengan dampak positif yang besar terhadap konsumsi energi global. Di tengah maraknya inovasi teknologi, penting juga untuk memperhatikan isu-isu lain yang relevan, seperti keputusan Pemkot Serang dan Imigrasi yang melakukan barter aset untuk kepentingan publik.

Bagi para pelaku industri kopi, temuan ini bukan sekadar kabar baik dari laboratorium. Ini adalah peta jalan menuju produksi kopi yang lebih berkelanjutan dan hemat biaya. Dengan konsumsi energi yang hanya seperempat dari metode konvensional, margin keuntungan bisa meningkat secara signifikan, terutama bagi bisnis dengan volume produksi tinggi. Para pengusaha kopi di Jawa Barat dan Banten, yang dikenal dengan industri kopi yang berkembang, patut mencermati perkembangan teknologi ini.

Kesimpulannya, ultrasonic espresso menawarkan solusi nyata untuk tantangan efisiensi energi di industri kopi tanpa mengorbankan kualitas rasa. Bagi konsumen, ini berarti di masa depan kita bisa menikmati secangkir kopi nikmat yang diproduksi dengan cara yang jauh lebih ramah lingkungan. Bagi para pegiat kopi rumahan, teknologi ini mungkin akan menjadi standar baru dalam menyeduh kopi, menggantikan mesin espresso yang boros listrik.