Wabah Purba 5.500 Tahun Lalu Tewaskan Pemburu-Pengumpul di Siberia

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Kerangka manusia pemburu-pengumpul Siberia korban wabah pes 5.500 tahun lalu
  • Studi baru mengungkap wabah pes mematikan pada pemburu-pengumpul di Siberia 5.500 tahun lalu
  • Ini adalah bukti tertua penyakit pes yang pernah teridentifikasi
  • DNA kuno dari 18 individu mengandung bakteri Yersinia pestis
  • Dua wabah berbeda terdeteksi: 5.596-5.341 dan 5.126-4.926 tahun lalu
  • Anak-anak paling rentan meninggal akibat respons imun masif
  • Penemuan menantang asumsi epidemi pertama terjadi setelah pertanian
  • Pes paru kemungkinan menular dari marmot liar

JBNews.id — Sekelompok manusia pemburu-pengumpul di Siberia menjadi korban wabah pes mematikan sekitar 5.500 tahun yang lalu. Studi baru mengungkap bahwa ini adalah bukti tertua penyakit pes yang pernah teridentifikasi, menantang asumsi lama tentang asal-usul epidemi dalam sejarah manusia.

Tim peneliti yang menyelidiki sisa-sisa kerangka dari Zaman Batu berhasil mengidentifikasi DNA kuno dari strain Yersinia pestis yang sebelumnya tidak diketahui. Bakteri inilah yang menjadi penyebab tiga jenis pes: pes paru (pneumonik), pes bubo (bubonik), dan pes septikemik. Menurut studi yang diterbitkan di jurnal Nature, penyakit yang menginfeksi kelompok pemburu-pengumpul ini kemungkinan besar adalah pes paru, yang ditularkan dari marmot liar dan meluluhlantakkan komunitas keluarga di sekitar Danau Baikal.

“Kami mendapatkan hasil sangat mengejutkan bahwa kami menemukan banyak sekali kasus pes di sini, jauh lebih awal dari yang kami perkirakan,” kata penulis utama studi Ruairidh Macleod, peneliti genomik kuno di University of Oxford.

Penemuan ini menantang asumsi lama yang menyebut bahwa epidemi besar pertama kali terjadi setelah bangkitnya sektor pertanian. Faktanya, wabah pes sudah menghabisi kelompok pemburu-pengumpul prasejarah ribuan tahun sebelum Maut Hitam (Black Death) melanda Eropa pada abad ke-14.

DNA Kuno Ungkap Wabah Mematikan

Peneliti mengekstraksi DNA kuno dari gigi 46 individu yang dimakamkan di empat permakaman di sepanjang tepi Sungai Angara, yang mengalir dari Danau Baikal. Hasilnya mengejutkan: bakteri Y. pestis teridentifikasi dalam jumlah besar pada 18 individu. Kasus-kasus ini mencakup dua wabah penyakit berbeda.

Wabah pertama berlangsung dari sekitar 5.596 hingga 5.341 tahun yang lalu, sementara wabah kedua kemungkinan terjadi antara 5.126 hingga 4.926 tahun lalu. Beberapa makam berisi sisa kerangka sejumlah individu terinfeksi yang dikuburkan di saat bersamaan, mengindikasikan mereka tewas selama wabah yang sama.

Satu makam merupakan tempat peristirahatan tiga gadis muda yang berkerabat dekat, sementara makam lainnya berisi keponakan dan bibinya. “Pasti ada penyintas yang mengenal orang-orang ini ketika mereka masih hidup, mengetahui identitas mereka, serta mengetahui hubungan biologis mereka, sehingga bisa menguburkan para korban di liang lahad yang sama,” urai Macleod.

Peneliti menyadari jumlah anak yang tidak wajar tingginya dimakamkan dalam rentang waktu singkat. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, yang memperkuat dugaan bahwa penyebab kematian adalah penyakit mematikan. DNA kuno mengungkap keberadaan gen unik pengode protein yang memicu respons imun masif, yang mungkin menjelaskan mengapa anak-anak paling rentan meninggal akibat wabah ini.

Pes Mematikan Jauh Sebelum Maut Hitam

Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa wabah pes telah membinasakan peradaban jauh sebelum terjadinya Maut Hitam, epidemi yang menyapu Eropa abad ke-14 dan menewaskan sekitar 25 juta orang atau setara 25% hingga 33% total populasi Eropa Barat masa itu. Sebagai contoh, wabah pes berulang telah teridentifikasi pada periode antara 5.300 hingga 4.900 tahun lalu pada kelompok petani dari wilayah yang sekarang Skandinavia.

Namun, apakah galur pes awal ini mematikan atau sekadar menyebabkan penyakit ringan masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Kini, pemeriksaan mendalam terhadap DNA kuno kelompok pemburu-pengumpul di Siberia memberi bukti terbaik bahwa galur pes prasejarah bersifat mematikan dan mengakibatkan kematian massal.

Pes memainkan peran sangat penting dalam sejarah manusia dan terus menginfeksi hingga hari ini. Namun saat ini, kasus Y. pestis yang terdeteksi lebih awal sudah dapat diobati menggunakan antibiotik. Menurut penulis studi Eske Willerslev, ahli genetika evolusioner University of Copenhagen, memahami bagaimana penyakit ini berevolusi sangatlah penting untuk mendapatkan wawasan tentang bagaimana Y. pestis dapat berubah di masa depan.

Penemuan ini tidak hanya mengubah pemahaman tentang sejarah penyakit pes, tetapi juga membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut tentang evolusi patogen. Dengan memahami bagaimana bakteri mematikan ini berevolusi selama ribuan tahun, para ilmuwan dapat lebih siap menghadapi potensi wabah di masa depan. Para peneliti kini terus menganalisis temuan planet purba dan artefak prasejarah lainnya untuk mengungkap lebih banyak misteri peradaban kuno.

Implikasinya jelas: penyakit pes bukanlah fenomena yang muncul bersamaan dengan peradaban agraris, melainkan telah menjadi ancaman bagi manusia jauh sebelumnya. Bagi para pemburu-pengumpul di Siberia 5.500 tahun lalu, wabah ini adalah bencana yang meluluhlantakkan komunitas mereka dalam waktu singkat.

Pelajaran dari masa lalu ini relevan hingga kini. Pemahaman tentang sejarah evolusi patogen dapat membantu manusia modern mengantisipasi dan merespons ancaman penyakit menular di masa depan, termasuk kemungkinan munculnya varian baru dari bakteri atau virus yang sudah dikenal.

Studi ini juga menegaskan pentingnya arkeologi dan genomik kuno dalam mengungkap sejarah penyakit yang selama ini tidak tercatat dalam dokumen tertulis. Dengan teknologi DNA kuno, para ilmuwan kini dapat “membaca” catatan biologis yang ditinggalkan oleh nenek moyang manusia ribuan tahun lalu.