Ancaman AI Hacking: Data Pribadi di Tengah Kekhawatiran Global

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi ancaman siber AI dengan ikon gembok dan kode biner di latar belakang gelap
  • Ancaman AI hacking menjadi perhatian global karena model AI mampu mengeksploitasi celah keamanan perangkat lunak.
  • Kelompok peretas ShinyHunters membocorkan data 45GB dari Madison Square Garden, termasuk informasi pemain Knicks.
  • Bar di San Francisco menggunakan pemindai wajah untuk mengumpulkan data pelanggan dan membuat jaringan pengawasan.
  • Prancis dan Jerman mulai meninggalkan teknologi AI dari AS (Palantir) demi kemandirian keamanan siber.
  • Inggris akan memindai wajah pencari suaka untuk verifikasi usia meskipun alat tersebut dianggap cacat.
  • Apple mengubah domain 'Hide My Email' menjadi @private.icloud.com, berpotensi memudahkan deteksi pengguna.
  • Kebocoran data mengungkap anggota perkumpulan rahasia Peter Thiel, 'Dialog', yang membahas topik kontroversial.

JBNews.id — Ancaman keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) kian nyata. Para ahli keamanan memperingatkan bahwa model AI dengan kemampuan canggih untuk menemukan dan mengeksploitasi celah keamanan perangkat lunak—yang berpotensi menciptakan alat peretasan berbahaya—akan segera menjadi fenomena global yang tak terhindarkan. Kekhawatiran ini muncul di tengah ketegangan antara perusahaan AI terkemuka, Anthropic, dan pemerintahan AS terkait keamanan model publik terbaru mereka, Claude Fable 5, yang akhirnya ditarik dari pasar.

Sejumlah insiden peretasan besar terjadi dalam beberapa pekan terakhir, memperkuat urgensi perlindungan data pribadi. Kelompok peretas dan pemeras ShinyHunters mengklaim telah membobol data Madison Square Garden (MSG). Data yang diduga mencakup jutaan catatan dalam file sebesar 45GB itu berisi informasi pribadi pelanggan, termasuk referensi pemain dan pelatih tim basket Knicks. Kebocoran ini terjadi tak lama setelah Knicks meraih gelar juara NBA pertama mereka sejak 1973. Contoh data yang ditinjau oleh 404 Media menunjukkan satu file berisi nama-nama “bakat,” termasuk anggota tim Knicks. MSG sendiri dikenal luas menggunakan teknologi pengawasan, termasuk sistem pengenalan wajah. Setelah pemberitaan tersebut, gugatan class action federal diajukan terkait dugaan pelanggaran data ini.

Di sisi lain, praktik pengawasan wajah juga merambah ke ranah hiburan. Setidaknya tiga bar di distrik Castro, San Francisco—kawasan LGBTQ yang terkenal—telah menggunakan pemindai wajah di pintu masuk untuk mengumpulkan data detail pelanggan. Teknologi dari perusahaan verifikasi ID, Patronscan, digunakan untuk mengumpulkan gambar wajah, nama, dan jenis kelamin. Jika staf bar mendapati pelanggan terlibat perkelahian, pencurian, atau perilaku negatif lainnya, mereka dapat mencatatnya dalam sistem. Pengenalan wajah kemudian dapat mengidentifikasi orang tersebut saat mereka kembali. Informasi ini bahkan bisa dibagikan sebagai bagian dari “jaringan keamanan” antar perusahaan, menciptakan jaringan pengawasan yang luas.

Kekhawatiran Global dan Respons Negara

Kekhawatiran terhadap keamanan data dan pengawasan berbasis AI tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Eropa, gerakan untuk meninggalkan teknologi AS semakin menguat. Badan intelijen dalam negeri Prancis, Direction générale de la Sécurité intérieure (DGSI), mengumumkan akan berhenti menggunakan alat data dan AI dari Palantir dalam beberapa tahun ke depan. Mereka akan menggantinya dengan perangkat lunak dari perusahaan Prancis, ChapsVision. “Kami harus menggunakan model AI kami sendiri,” ujar Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu. “Kami tidak bisa bergantung pada alat yang dikembangkan oleh kekuatan asing. Prancis harus memiliki alatnya sendiri.” Langkah ini bukan yang pertama; bulan lalu, badan intelijen Jerman, BfV, juga memutuskan untuk menggunakan teknologi ChapsVision.

Sementara itu, di Inggris, pemerintah akan segera memindai wajah para pencari suaka sebagai bagian dari pemeriksaan usia. Langkah ini diambil meskipun terdapat bukti bahwa alat evaluasi dan verifikasi usia tersebut memiliki kelemahan mendasar dan dapat membuat kesalahan dengan konsekuensi yang mengubah hidup seseorang.

Apple dan Transparansi Alat Privasi

Di tengah maraknya pengawasan, Apple berencana melakukan perubahan pada alat privasi ‘Hide My Email’. Alat ini memungkinkan pengguna menghasilkan alamat email acak untuk mendaftar ke situs web dan aplikasi baru tanpa menyerahkan informasi pribadi. Saat ini, semua alamat tersebut menggunakan domain @icloud.com. Ke depannya, seperti dilaporkan TechCrunch, Apple akan menggunakan domain @private.icloud.com. Perubahan yang tidak terlalu halus ini dapat memudahkan perusahaan untuk mendeteksi pengguna yang menggunakan layanan pelindung privasi dan meminta mereka mendaftar dengan alamat email alternatif.

Dalam perkembangan lain, sebuah kebocoran juga mengungkap identitas anggota perkumpulan rahasia ‘Dialog’ milik Peter Thiel. Lebih dari 200 nama terkemuka terdaftar untuk retret yang mencakup panel tentang membangun kultus, seks, dan persiapan Perang Dunia III. WIRED juga mengungkap bahwa perkumpulan tersebut memiliki cara rahasia untuk memberi peringkat pada anggotanya.

Di sisi positif, teknologi pengawasan juga digunakan untuk hiburan. Penggemar Knicks di seluruh dunia dapat menyaksikan parade kertas di New York City melalui siaran langsung kamera pengawas lalu lintas, berkat karya seniman Morry Kolman.

Ancaman siber berbasis AI, seperti yang dihadapi oleh Madison Square Garden, menunjukkan betapa rentannya data pribadi di era digital ini. Untuk memahami lebih dalam tentang serangan siber AI, penting bagi pengguna untuk terus waspada. Selain itu, kesadaran akan metode deteksi deepfake juga menjadi krusial. Di sisi lain, kasus peretasan seperti yang menimpa ancaman hacker ke Nintendo menunjukkan bahwa tidak ada entitas yang benar-benar aman.

Implikasi dari semua peristiwa ini sangat jelas: keamanan data pribadi dan pengawasan berbasis AI adalah isu global yang mendesak. Mulai dari kebocoran data massal, praktik pengawasan di tempat hiburan, hingga ketergantungan pada teknologi asing, semuanya menuntut kewaspadaan dan regulasi yang lebih ketat. Bagi pengguna biasa, artinya adalah pentingnya untuk selalu berhati-hati dalam membagikan data pribadi dan menggunakan alat-alat yang melindungi privasi. Bagi perusahaan dan pemerintah, ini adalah panggilan untuk membangun infrastruktur keamanan yang mandiri dan andal.