SpaceX Rilis Ponsel AI Usai IPO Lesu, Saham Anjlok

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Papan reklame digital SpaceX di Times Square New York menampilkan teks SPCX $75 Bn dan logo perusahaan
  • SpaceX luncurkan ponsel AI dengan desain lebih tipis dari iPhone dan sistem operasi proprietary
  • Perangkat menggunakan chip Qualcomm Snapdragon dan teknologi AI dari xAI milik Elon Musk
  • Langkah ini dilakukan setelah IPO SpaceX yang mengecewakan
  • Saham SpaceX turun hampir 8% setelah pengumuman perangkat baru
  • Harga saham turun dari puncak 225 dolar AS ke kisaran pertengahan 150 dolar AS
  • Pasar ponsel pintar sudah jenuh dengan banyak pemain mapan
  • Robot Optimus dan Robotaxi Tesla juga mengalami penundaan
  • Keputusan dinilai sebagai upaya mengalihkan perhatian dari kinerja saham buruk

JBNews.id — SpaceX memperkenalkan perangkat genggam bertenaga AI yang dirancang lebih tipis dari iPhone, langkah yang dinilai sebagai upaya mengembalikan kepercayaan investor setelah kinerja saham pasca-IPO yang mengecewakan. Saham perusahaan justru merosot hampir delapan persen setelah pengumuman tersebut.

Elon Musk, pendiri sekaligus CEO SpaceX, dikenal sebagai ahli dalam menjaga perhatian publik dengan serangkaian inovasi yang silih berganti. Namun, analis teknologi Ed Zitron menyebut pendekatan ini layaknya seorang pemain yang terus memutar piring-piring di atas tongkat — selalu tampak gemilang, tetapi rawan goyah. Kini, piring yang menjadi pusat perhatian, SpaceX, mulai goyah setelah IPO yang kurang memuaskan. Saham perusahaan sempat mencapai puncak di level 225 dolar AS, namun kini bertahan di kisaran pertengahan 150 dolar AS, hampir menghapus seluruh keuntungan sejak perusahaan mulai diperdagangkan.

Menurut laporan Wall Street Journal, perangkat baru tersebut adalah ponsel dengan desain ramping yang disebut “lebih tipis dari iPhone”. Perangkat ini dijalankan oleh sistem operasi milik SpaceX sendiri. Prototipe alat anyar ini pertama kali diperlihatkan kepada investor terpilih menjelang IPO perusahaan pada awal Juni 2026.

Beberapa sumber yang mengetahui perangkat tersebut mengatakan kepada WSJ bahwa ponsel ini akan mengintegrasikan “teknologi AI” dari perusahaan xAI milik Musk, menggunakan arsitektur chip Qualcomm Snapdragon. Langkah ini menunjukkan upaya SpaceX untuk memanfaatkan ekosistem AI yang tengah berkembang pesat, mirip dengan bagaimana AI BRIN digunakan untuk prediksi fenomena kompleks.

Masalah utama dari strategi ini adalah pasar ponsel pintar yang sudah sangat jenuh. Banyak perusahaan telah memproduksi perangkat serupa, dan semuanya memiliki akses ke model AI yang ada, termasuk Grok — produk unggulan xAI yang kini menjadi bagian dari SpaceX. Grok sendiri dinilai kurang impresif dibandingkan kompetitornya di pasar AI.

Jika langkah ini terkesan putus asa, perlu diingat bahwa Musk telah berulang kali menghadapi tantangan dalam menjaga proyek perangkat kerasnya tetap berjalan. Robot Optimus miliknya, misalnya, mengalami penundaan berulang dalam perjalanan menuju lini produksi. Tesla juga mengalami masalah serupa, terutama dalam pengembangan Robotaxi otonom.

Dampak dari pengumuman perangkat keras ini terhadap saham SpaceX justru negatif. Saham perusahaan terus merosot sepanjang sore setelah berita tersebut muncul, turun hampir delapan persen sebelum penutupan perdagangan. Kondisi ini menimbulkan efek ripsaw pada kekayaan Musk, yang kini bergulat antara status sebagai triliuner aktif pertama di dunia dan mantan triliuner pertama.

IPO SpaceX sendiri telah menjadi beban berat bagi perusahaan. Meskipun sempat melesat, saham kini berada di kisaran pertengahan 150 dolar AS, menghapus hampir seluruh kenaikan sejak perdagangan dimulai. Angka ini jauh dari level tertinggi 225 dolar AS yang sempat dicapai.

Langkah SpaceX memasuki pasar ponsel pintar juga menghadapi persaingan ketat dari pemain mapan seperti Apple dan Samsung. Keduanya telah memiliki basis pengguna yang besar dan rantai pasokan yang matang. SpaceX harus menawarkan nilai tambah yang signifikan untuk bisa bersaing, terutama karena perangkat ini belum memiliki jadwal produksi massal yang jelas.

Para analis mempertanyakan apakah perangkat AI ini cukup untuk menyelamatkan kepercayaan investor. Dengan pasar yang sudah jenuh dan produk yang belum terbukti, langkah ini dianggap lebih sebagai upaya pemasaran daripada solusi bisnis yang solid. Sementara itu, infrastruktur NASA yang menjadi mitra utama SpaceX juga menghadapi tantangan sendiri.

Keputusan untuk mengintegrasikan teknologi xAI ke dalam perangkat genggam juga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas Grok sebagai asisten AI. Model AI ini belum terbukti mampu bersaing dengan ChatGPT atau Gemini dalam hal kemampuan dan popularitas. Pengguna yang sudah familiar dengan asisten AI dari perusahaan lain mungkin tidak akan tertarik beralih ke Grok tanpa adanya fitur unggulan yang signifikan.

Di sisi lain, langkah ini menunjukkan bahwa Musk berusaha menciptakan ekosistem yang terintegrasi antara SpaceX, xAI, dan Tesla. Visi jangka panjangnya mungkin adalah perangkat yang dapat terhubung dengan jaringan satelit Starlink milik SpaceX, memberikan konektivitas global yang tidak dapat ditawarkan oleh ponsel konvensional. Namun, belum ada detail teknis yang mendukung visi ini dari sumber resmi.

Reaksi pasar yang negatif terhadap pengumuman ini menunjukkan bahwa investor mulai skeptis terhadap kemampuan Musk untuk terus memutar piring-piring inovasinya. Setelah IPO yang mengecewakan, mereka menginginkan hasil nyata, bukan sekadar prototipe baru. Saham yang turun delapan persen dalam sehari adalah sinyal jelas bahwa pasar belum terkesan dengan ponsel AI ini.

SpaceX sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai jadwal produksi atau harga perangkat ini. Informasi yang beredar masih terbatas pada laporan WSJ dan pernyataan sumber anonim. Ketidakjelasan ini semakin memperkuat kesan bahwa pengumuman tersebut lebih bersifat taktis untuk mengalihkan perhatian dari kinerja saham yang buruk.

Bagi investor yang telah membeli saham SpaceX di level tinggi, situasi ini menjadi pengingat bahwa valuasi perusahaan teknologi sering kali didorong oleh ekspektasi masa depan yang belum tentu terwujud. Fluktuasi kekayaan Musk antara status triliuner dan mantan triliuner dalam waktu singkat menunjukkan betapa volatilnya pasar saham perusahaan yang belum memiliki fundamental bisnis yang stabil.

Ke depan, SpaceX perlu menunjukkan bahwa mereka memiliki strategi jangka panjang yang solid, bukan sekadar mengandalkan gebrakan produk baru setiap kali saham mulai melemah. Pasar ponsel pintar bukanlah arena yang mudah ditaklukkan, bahkan bagi perusahaan sekelas SpaceX sekalipun.

Keputusan untuk mengintegrasikan AI dari xAI juga berisiko jika model tersebut tidak cukup kompetitif. Pengguna akan membandingkan Grok dengan asisten AI lain yang sudah mapan, dan jika kualitasnya di bawah standar, justru akan menjadi bumerang bagi citra produk SpaceX.

Sementara itu, tantangan di lini bisnis lain Musk juga terus berlanjut. Robot Optimus yang tertunda dan Robotaxi Tesla yang mandek menunjukkan bahwa masalah perangkat keras bukan hanya milik SpaceX, tetapi juga perusahaan lain dalam portofolio Musk. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan manajerial dalam mengawasi begitu banyak proyek ambisius secara bersamaan.

Dalam jangka pendek, fokus utama SpaceX seharusnya adalah menstabilkan harga saham dan membangun kepercayaan investor kembali. Peluncuran perangkat baru yang belum jelas prospeknya justru berpotensi memperburuk situasi, seperti yang terlihat dari reksi pasar yang negatif.

Apakah ponsel AI SpaceX akan menjadi sukses atau sekadar gimmick, hanya waktu yang bisa menjawab. Namun, data awal menunjukkan bahwa pasar belum yakin dengan langkah ini. Untuk saat ini, piring SpaceX terus berputar, tetapi goyahannya semakin terlihat jelas.