JBNews.id — Netflix kembali memicu kontroversi besar setelah menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menghidupkan kembali suara mendiang aktor Gene Wilder dalam acara kompetisi baru bertajuk “Wonka’s The Golden Ticket.” Keputusan ini menuai kecaman luas dari para penggemar yang menilai tindakan tersebut tidak etis dan tidak menghormati almarhum yang meninggal pada 2016 silam akibat komplikasi penyakit Alzheimer.
Dalam trailer yang dirilis, suara Wilder yang dihasilkan oleh AI terdengar mengatakan, “Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, saya membuka pabrik cokelat kesayangan saya.” Acara yang mengusung tema dunia Willy Wonka ini akan menampilkan para kontestan yang harus melewati serangkaian “godaan dan tantangan Wonka” untuk memperebutkan hadiah utama berupa “Golden Ticket.”
Reaksi negatif langsung membanjiri media sosial. Banyak pengguna menyebut langkah Netflix sebagai “menjijikkan,” “ide yang sangat buruk,” serta “tidak dapat diterima dan tidak sopan.” Salah satu pengguna bahkan menulis, “Saya harap ini dibatalkan. Berhenti menggunakan AI.” Gelombang kritik ini menunjukkan betapa sensitifnya isu penggunaan AI untuk mereplikasi sosok yang sudah meninggal tanpa persetujuan eksplisit dari pihak yang bersangkutan semasa hidupnya.
Menariknya, istri Gene Wilder, Karen Wilder, justru menyetujui penggunaan suara sang suami dalam acara tersebut. Ia mengaku “senang” dengan serial yang “merayakan imajinasi” almarhum. Namun, persetujuan ini tidak serta merta meredam kemarahan publik yang menganggap penggunaan AI untuk tujuan komersial atas nama mendiang aktor tetap melanggar batas etika.
Fenomena ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi. Industri hiburan global memang tengah menghadapi gelombang baru penggunaan AI untuk “menghidupkan kembali” selebritas yang telah tiada. Sebelum Wilder, suara legenda Marvel Stan Lee juga telah dikloning oleh perusahaan AI ElevenLabs untuk program “Stan Lee Book Club of the Month.” Tokoh lain seperti Anthony Bourdain dan Ian Holm juga pernah mengalami hal serupa tanpa izin eksplisit.
Kekhawatiran ini bahkan dirasakan oleh aktor kawakan Tom Hanks. Dalam wawancara dengan Entertainment Weekly, Hanks mengaku khawatir Disney suatu hari nanti bisa menggunakan AI untuk menggantikan suaranya di film “Toy Story” mendatang. Pernyataan ini menambah daftar panjang keresahan para pelaku industri kreatif terhadap perkembangan teknologi AI yang semakin masif.
Baca Juga:
Kritik tidak hanya tertuju pada aspek etika penggunaan suara Gene Wilder, tetapi juga pada kualitas produksi acara itu sendiri. Banyak netizen menyoroti desain set yang dinilai kurang orisinal dan justru mengingatkan pada peristiwa “Willy’s Chocolate Experience” yang terjadi pada 2024 lalu. Acara yang disebut-sebut sebagai “pengalaman imersif” itu ternyata mengecewakan hingga anak-anak menangis dan orang tua melaporkannya ke polisi. Penggunaan AI dalam materi pemasaran acara tersebut menjadi salah satu faktor kegagalannya.
Netflix sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait gelombang kritik yang menerpa. Namun, sejarah menunjukkan bahwa tekanan publik seringkali mampu mengubah keputusan perusahaan besar. Kasus serupa pernah terjadi ketika perusahaan game menghadapi boikot karena menggunakan AI untuk menggantikan pengisi suara manusia.
Dalam konteks yang lebih luas, kontroversi ini menjadi bagian dari perdebatan global tentang batasan etika dalam penggunaan AI. Teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu kreatif kini berpotensi menjadi ancaman bagi identitas dan warisan para seniman. Tanpa regulasi yang jelas, kekhawatiran tentang penyalahgunaan AI akan terus menghantui industri hiburan.
Penggunaan AI untuk mereplikasi suara mendiang Gene Wilder juga membuka pertanyaan hukum yang rumit. Hak cipta atas suara seseorang belum diatur secara spesifik di banyak yurisdiksi, termasuk Amerika Serikat. Meskipun beberapa negara bagian telah mulai merancang undang-undang tentang hak publisitas digital, masih ada celah hukum yang memungkinkan praktik semacam ini terus berlanjut.
Para ahli etika teknologi menekankan pentingnya persetujuan yang jelas dan transparan dari pihak yang berhak, terutama ketika menyangkut figur publik yang sudah meninggal. “Persetujuan dari ahli waris memang penting, tetapi tidak cukup,” kata seorang pengamat industri kreatif. “Yang lebih krusial adalah bagaimana keinginan almarhum semasa hidupnya. Jika tidak ada dokumentasi yang jelas, sebaiknya perusahaan tidak mengambil risiko.”
Kasus Dominasi AI Influencer yang semakin marak juga menjadi pengingat bahwa teknologi ini memiliki dampak luas. Dari sekadar konten kreatif, AI kini merambah ke ranah komersial yang menyentuh nilai-nilai personal dan emosional masyarakat.
Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa penggunaan AI untuk menghidupkan kembali tokoh ikonik seperti Gene Wilder bisa menjadi bentuk penghormatan jika dilakukan dengan tepat. Namun, syarat utamanya adalah transparansi dan keterlibatan penuh dari keluarga serta penghormatan terhadap warisan sang tokoh. Tanpa itu, yang tersisa hanyalah eksploitasi komersial yang merusak citra perusahaan.
Bagi para penggemar setia film “Willy Wonka & the Chocolate Factory,” penggunaan AI untuk meniru suara Wilder terasa seperti pengkhianatan terhadap kenangan indah yang telah mereka miliki. Seperti yang ditulis salah satu pengguna di media sosial, “Biarkan dia beristirahat dengan tenang. Kenangan tentangnya sudah sempurna tanpa perlu diotak-atik oleh AI.”
Kontroversi ini juga berdampak pada persepsi publik terhadap Netflix sebagai platform hiburan. Beberapa analis memperkirakan bahwa jika tidak segera ditangani dengan baik, kasus ini bisa memicu boikot terhadap layanan streaming tersebut. Terlebih lagi, persaingan di industri streaming semakin ketat dengan bermunculannya platform baru yang menawarkan konten orisinal dan etis.
Dalam jangka panjang, industri hiburan perlu duduk bersama untuk merumuskan kode etik penggunaan AI yang jelas. Tanpa panduan yang baku, kasus-kasus serupa akan terus terulang dan berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap inovasi teknologi. Regulator di berbagai negara juga diharapkan segera mengambil tindakan untuk melindungi hak-hak individu di era digital ini.
Netflix sendiri memiliki sejarah panjang dalam menghadirkan konten inovatif dan berani. Namun, langkah kali ini dinilai terlalu jauh oleh banyak pihak. Keputusan untuk menggunakan AI tanpa mempertimbangkan aspek etika secara matang menunjukkan bahwa perusahaan masih perlu belajar dari kesalahan masa lalu.
Di tengah gencarnya Realme P4 Series Meluncur 2 Juli yang menawarkan inovasi baterai besar untuk gaming, industri kreatif justru dihadapkan pada dilema etika yang tak kalah pelik. Perbedaan pendekatan ini menunjukkan betapa beragamnya respons industri terhadap teknologi AI.
Kesimpulannya, kontroversi penggunaan AI suara Gene Wilder oleh Netflix adalah cerminan dari tantangan besar yang dihadapi industri hiburan di era kecerdasan buatan. Tanpa regulasi yang jelas dan kesadaran etika yang kuat, teknologi yang seharusnya memajukan kreativitas justru berisiko merusak warisan budaya dan kepercayaan publik.
Bagi para penggemar dan pelaku industri, kasus ini menjadi pengingat bahwa inovasi harus selalu diimbangi dengan tanggung jawab moral. Teknologi AI bukanlah alat yang netral; setiap penggunaannya membawa konsekuensi etis yang harus dipertimbangkan secara matang. Keputusan Netflix kali ini mungkin akan menjadi preseden penting bagi masa depan penggunaan AI di dunia hiburan.
Pada akhirnya, pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah: sejauh mana kita boleh menggunakan teknologi untuk “menghidupkan kembali” mereka yang telah tiada? Jawabannya mungkin tidak sederhana, tetapi satu hal yang pasti — rasa hormat terhadap martabat manusia, baik yang hidup maupun yang telah meninggal, harus tetap menjadi prioritas utama.




