JBNews.id — CEO OpenAI Sam Altman kembali memicu kontroversi dengan usulan terbarunya: membuat podcast harian berisi konten AI untuk anak-anak dalam perjalanan ke sekolah. Usulan yang dibagikan melalui akun Twitter-nya pada Jumat pekan lalu ini langsung menuai kecaman publik karena dianggap menggantikan interaksi manusia dengan mesin.
Dalam cuitannya, Altman menuliskan bahwa ia mendengar “penggunaan ChatGPT yang keren” dari seseorang, yakni menghubungkan kalender keluarga dan menjelaskan minat anak-anak. “Setiap pagi untuk perjalanan ke sekolah, buat podcast yang membahas pertandingan sepak bola salah satu anak sore itu, ulang tahun anak yang lain, beberapa berita, dll,” tulis Altman.
Usulan ini muncul di tengah kekhawatiran yang meluas tentang dampak AI pada tumbuh kembang anak. Sebelumnya, Altman juga pernah menyatakan kepada pembawa acara “Tonight Show” Jimmy Fallon bahwa membesarkan anak kini mustahil tanpa terus-menerus meminta saran dari AI — sebuah pernyataan yang melukiskan masa depan pengasuhan yang suram, di mana koneksi manusia digantikan oleh pengasuh bertenaga AI dan chatbot.
Reaksi publik terhadap usulan podcast AI ini sangat cepat dan keras. Animator dan sutradara Alex Hirsch membalas dengan singkat, “Bagaimana jika kamu hanya berbicara dengan anak-anakmu.” Tanggapan Hirsch ini mendapatkan like hampir 20 kali lebih banyak dibandingkan cuitan asli Altman.
Komedian stand-up Gianmarco Soresi juga mengungkapkan keterkejutannya. “Tidak bisa berhenti memikirkan ini. Bukan hanya karena ini ide yang menjijikkan, tetapi juga ini ORANG yang mencoba menjual AI secara besar-besaran ke Amerika dan dia begitu buta terhadap kepentingan publik sehingga dia mengira ini menarik,” tulisnya.
Aktor Mike Dargatis menambahkan, “Luar biasa betapa terputusnya orang-orang teknologi ini dari perilaku manusia normal.”
Menariknya, Presiden OpenAI Greg Brockman justru tampak menyadari hal yang sebaliknya. Dalam cuitannya pada Sabtu, ia mengungkapkan bahwa banyak karyawan OpenAI menghubungkan ChatGPT ke Slack. “Orang-orang sangat tidak suka ketika ChatGPT rekan kerja menghubungi mereka untuk meminta bantuan dengan suatu tugas, bahkan ketika mereka akan dengan senang hati melakukan pekerjaan yang sama jika diminta oleh rekan kerja tersebut,” tulis Brockman.
“Ini memperkuat betapa orang-orang peduli pada hubungan manusia dan saling membantu, dan ingin AI memberikan waktu kembali — atau meningkatkan waktu bersama — daripada menjadi lapisan yang memisahkan orang,” tambahnya.
Pernyataan Brockman ini menjadi kontras yang tajam dengan pendekatan Altman. Sementara Altman terus mencari cara untuk “mengelak” dari tanggung jawab pengasuhan, Brockman tampaknya memahami bahwa kebanyakan orang lebih memprioritaskan koneksi manusia daripada chatbot lain.

Altman sendiri tetap yakin berada di sisi sejarah yang benar. Dalam wawancara podcast tahun lalu, ia berargumen bahwa “anak-anak saya tidak akan pernah lebih pintar dari AI, tetapi mereka akan jauh lebih mampu.” Ia juga mengakui bahwa “akan ada masalah” dengan orang-orang yang membentuk “hubungan parasosial yang sangat bermasalah” yang akan memaksa masyarakat untuk “mencari tahu pagar pengaman baru.”
Yang lebih mengejutkan, Altman bahkan berpendapat bahwa ChatGPT “seharusnya menjadi teknologi yang tidak terlalu Anda percayai” karena ia “berhalusinasi.” Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan: mengapa seorang CEO mempromosikan teknologi yang ia sendiri akui tidak dapat dipercaya sepenuhnya, terutama untuk digunakan pada anak-anak?
Kontroversi ini juga menyoroti pola pikir Altman yang sebelumnya pernah menyatakan bahwa AI tak akan pernah perpendek jam kerja. Ia juga sempat nyatakan singularitas AI telah tiba, menunjukkan keyakinannya yang kuat pada kemampuan teknologi meskipun mendapat kritik luas dari berbagai kalangan.
Baca Juga:
Kritik terhadap usulan Altman tidak hanya datang dari kalangan publik dan seniman. Banyak yang mempertanyakan bagaimana seorang miliarder CEO bisa menganggap ide ini baik. Kekhawatiran juga muncul tentang anak-anak yang tumbuh di tengah booming AI, yang sudah mulai menerima buku bergambar berisi “AI slop” dari kakek-nenek mereka dan kehilangan kemampuan membaca.
Fenomena ini menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar antara eksekutif teknologi dan masyarakat umum. Sementara para pemimpin industri AI melihat potensi besar dalam teknologi mereka, banyak orang justru khawatir tentang dampak sosial dan psikologis dari adopsi AI yang terlalu cepat, terutama pada anak-anak.
Para kritikus berpendapat bahwa usulan Altman mencerminkan pandangan yang sangat sempit tentang peran AI dalam kehidupan manusia. Alih-alih menggunakan AI untuk meningkatkan interaksi manusia, usulan tersebut justru menggantikan momen berharga antara orang tua dan anak — seperti percakapan pagi dalam perjalanan ke sekolah — dengan konten yang dihasilkan mesin.
Data dari reaksi publik menunjukkan bahwa mayoritas netizen menolak gagasan ini. Like pada kritik Alex Hirsch yang hampir 20 kali lipat dari cuitan Altman menjadi indikator kuat sentimen publik terhadap usulan tersebut.
Kontroversi ini juga menyoroti pertanyaan yang lebih besar tentang arah pengembangan AI di masa depan. Apakah AI akan menjadi alat yang memperkuat hubungan manusia, atau justru menjadi pengganti yang semakin mengisolasi kita satu sama lain? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan bagaimana teknologi ini diterima oleh masyarakat luas.
Bagi Altman, ia tampaknya tidak tergoyahkan oleh kritik. Namun, respons publik yang sangat negatif ini menjadi pelajaran penting bagi industri AI secara keseluruhan: bahwa teknologi, sehebat apa pun, tidak akan pernah bisa menggantikan kebutuhan dasar manusia akan koneksi dan interaksi langsung. Elon Musk olok-olok Sam Altman juga menunjukkan bahwa bahkan di kalangan sesama eksekutif teknologi, pendekatan Altman kerap menuai kritik.
Implikasinya jelas bagi para orang tua dan pendidik: penting untuk tetap memprioritaskan interaksi manusia dalam pengasuhan anak, sementara AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu — bukan pengganti — dalam proses tersebut. Hollywood takut kritik Big Tech menunjukkan bahwa kekhawatiran tentang dominasi AI juga merambah industri kreatif.
Kontroversi ini mengingatkan kita bahwa meskipun AI berkembang pesat, nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, kebersamaan, dan komunikasi langsung tetap menjadi fondasi yang tidak tergantikan dalam membesarkan generasi berikutnya.




