JBNews.id — Seorang CEO perusahaan teknologi berbasis AI menuai kecaman publik setelah mengaku diam-diam merekam percakapan balita dengan sepupunya menggunakan mikrofon tersembunyi dan memasukkan rekaman tersebut ke model AI untuk dikategorikan dalam database keluarga.
Nicholas Charriere, CEO Mocha, sebuah platform pembangun website bertenaga AI, mengungkapkan tindakannya melalui unggahan di X pada Jumat lalu. Ia menceritakan bahwa putrinya menghabiskan malam pertamanya tidur sekamar dengan sepupunya yang juga masih balita. Menganggap momen tersebut sebagai pengalaman formatif, Charriere memutuskan untuk merekam “semuanya” — setiap celoteh yang diucapkan kedua balita dalam “dialek balita yang tidak masuk akal” — dengan cara “menyelinapkan mikrofon” di ruangan mereka.
Rekaman tersebut kemudian ia masukkan ke model AI bernama Claude. Melalui AI, Charriere menjelaskan bahwa ia “membangun halaman web pribadi untuk seluruh keluarga dengan audio yang dibagi menjadi beberapa klip, masing-masing diberi nama dan dipotong.” Unggahan itu disertai foto halaman web yang menampilkan daftar percakapan anak-anak, lengkap dengan judul-judul seperti “Hi Mama,” “I’m a Big Boy,” dan “I Did Fart.”

“Kegembiraan murni dari semua orang,” tulis Charriere. “AI sangat hebat.”
Gelombang Kecaman Publik
Tidak semua orang setuju dengan tindakan tersebut. Kisah Charriere langsung menuai gelombang backlash, dengan banyak pihak menyebutnya “menyeramkan” dan invasif. “Saya akan membenci orang tua saya jika mengetahui mereka melakukan ini,” tulis salah satu pengguna, yang menerima lebih banyak likes daripada unggahan asli Charriere. “Tidak ada rasa hormat terhadap privasi. Mereka adalah manusia, bukan versi miniatur dari diri Anda yang dibuat untuk menghibur Anda.”
Mike Duncan, podcaster dan penulis sejarah, bahkan lebih keras dalam kritiknya. “Mengapa menjaga kesucian dan privasi obrolan larut malam ketika Anda bisa diam-diam merekam semuanya dan memasukkannya ke dalam mesin sampah AI lalu mempostingnya,” tulisnya dengan nada geram.
Insiden ini menjadi viral hingga masuk ke tab trending X dengan judul yang dihasilkan AI: “Tech Exec Uses AI to Clip Toddler Chats for Family Memories.”
AI dan Pengasuhan Anak: Perdebatan yang Terus Berkembang
Setiap kali topik pengasuhan dan AI bersinggungan, hasilnya selalu memicu perdebatan. Ini adalah isu yang akan terus kita dengar lebih sering ke depannya. Sebagian orang tua melihat alat AI sebagai cara untuk membuat pengasuhan sedikit lebih mudah — menjaga anak-anak tetap tenang dan sibuk, serta memberikan kelegaan bagi diri mereka sendiri.
AI juga dapat membantu mereka membuat keputusan, seperti kontroversi pemilihan nama anak. CEO OpenAI Sam Altman telah mengatakan bahwa ia sangat mengandalkan ChatGPT untuk merawat anaknya dan baru-baru ini melontarkan gagasan tentang menggunakan AI untuk menghasilkan podcast tentang topik favorit anak yang bisa didengarkan dalam perjalanan ke sekolah. Seorang komedian menanggapi dengan sindiran yang menjadi viral: “Bagaimana kalau kamu saja bicara langsung dengan anak-anakmu?”
Orang tua lain mengaku menggunakan mode suara ChatGPT untuk berbicara dengan anak mereka selama berjam-jam. Permintaan untuk niche ini tampaknya cukup besar — Meta bahkan sedang membangun aplikasi yang menggunakan AI untuk mendongengkan cerita pengantar tidur secara dadakan.
Di sisi lain, para skeptis AI melihat teknologi ini sebagai cara malas untuk menggantikan interaksi manusia dan menyoroti risiko privasi yang ditimbulkan model AI. Perusahaan AI tidak selalu transparan tentang bagaimana data yang Anda masukkan, termasuk percakapan, akan digunakan. Ada kemungkinan materi yang Anda bagikan akan digunakan untuk melatih model AI masa depan.
Mengintai balita dan memasukkan rahasia mereka ke AI mungkin tidak membocorkan informasi pribadi yang terlalu sensitif, mengingat usia mereka yang masih sangat muda. Namun, membangun situs web dari rekaman tersebut dan membanggakannya secara online tetap terasa aneh. Bagaimana perasaan anak ketika mereka menyadari bahwa tidak ada satu pun ucapan mereka yang bisa dipercaya sebagai hal yang privat? Kemungkinan besar tidak akan ada “kegembiraan murni” pada saat penemuan itu terjadi.
Insiden ini menambah daftar panjang perdebatan etika seputar AI dalam kehidupan sehari-hari. Sementara teknologi AI semakin terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan, kasus seperti ini menjadi pengingat bahwa batas antara inovasi dan privasi masih menjadi wilayah abu-abu yang perlu diatur dengan hati-hati. Perusahaan teknologi yang mengembangkan solusi AI untuk rumah tangga perlu mempertimbangkan implikasi etis dari produk mereka, terutama ketika menyangkut anak-anak yang belum bisa memberikan persetujuan.
Bagi para orang tua yang tergoda menggunakan AI untuk mendokumentasikan momen tumbuh kembang anak, kasus ini menjadi pelajaran penting: kecanggihan teknologi tidak serta-merta membenarkan pelanggaran privasi, bahkan terhadap anggota keluarga sendiri. Keputusan untuk merekam dan membagikan data pribadi anak di platform AI sebaiknya dipikirkan ulang, mengingat dampak jangka panjang yang belum sepenuhnya dipahami.




