JBNews.id — Saham Tesla merosot tajam lebih dari 13 persen pada perdagangan Kamis pagi setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal kedua yang mengecewakan. Harga saham produsen mobil listrik milik Elon Musk itu kini berada di kisaran US$324 per lembar, turun lebih dari 15 persen dalam lima hari terakhir dan sekitar 28 persen secara year-to-date.
Penurunan ini terjadi meskipun segmen otomotif inti Tesla membukukan pendapatan sedikit di atas US$20 miliar, naik 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, laba kotor perusahaan justru terkikis karena beban operasional meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan.
Faktor utama di balik lonjakan biaya tersebut adalah pengeluaran modal besar-besaran yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) serta riset dan pengembangan lainnya. Pola ini sudah menjadi narasi yang akrab bagi dunia teknologi sepanjang tahun 2026.

Pada dasarnya, para investor semakin khawatir terhadap transformasi besar-besaran yang dilakukan Musk terhadap bisnis mobilnya. Miliarder yang nyaris menjadi triliuner ini tengah berupaya menggeser fokus perusahaan dari penjualan mobil ke layanan robotaxi, robot humanoid bernama Optimus, dan pengembangan AI. Serangkaian proyek ambisius ini jelas membebani keuangan perusahaan setelah mengalami kerugian besar selama beberapa kuartal berturut-turut.
Dampak dari kesulitan Tesla juga mulai terasa di perusahaan roket Musk lainnya, SpaceX. Saham SpaceX mengalami bulan yang berat setelah mencapai level tertinggi sepanjang masa pasca go public pada pertengahan Juni lalu. Gagalnya uji coba peluncuran Starship dan rencana kontroversial Musk untuk pusat data orbital telah mendorong investor untuk bertaruh melawan perusahaan dalam jumlah yang luar biasa.
Produksi Optimus dan Layanan Robotaxi
Dalam panggilan konferensi pendapatan hari Rabu, Tesla mengklaim bahwa produksi robot humanoid Optimus masih sesuai jadwal. Namun, perusahaan tidak memberikan rincian lebih lanjut selain menjanjikan bahwa produksi akan segera dimulai.
“Ini akan menjadi produk tersulit yang pernah kami buat untuk diproduksi secara massal di Tesla, karena semua komponen pada robot ini benar-benar baru,” ujar Musk.
Sementara itu, layanan robotaxi Tesla mulai diluncurkan di enam wilayah metropolitan utama di Amerika Serikat. Meskipun demikian, layanan ini masih tertinggal jauh dari pesaing utamanya, Waymo milik Alphabet. Di tengah angka penjualan kendaraan yang sedikit lebih optimistis, Tesla terus membakar miliaran dolar untuk menjaga semua proyek baru tersebut tetap berjalan.
Baca Juga:
Isu Merger Tesla dan SpaceX
Isu yang menjadi perhatian utama dalam panggilan konferensi pekan ini adalah kemungkinan merger antara Tesla dan SpaceX. Rumor ini sudah lama beredar dan disebut-sebut sebagai langkah untuk menggandakan portofolio Musk yang dapat memicu drama finansial paling luar biasa dalam sejarah ekonomi.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan tersebut, Musk tidak menampiknya. “Kami tidak bisa membicarakan penggabungan perusahaan dalam panggilan pendapatan,” katanya. “Itu harus dilakukan dengan proses yang tepat,” tambah pengusaha yang dikenal flamboyan itu.
Kondisi keuangan Tesla yang memburuk juga bertepatan dengan serangkaian insiden yang melibatkan kendaraan perusahaan. Sebuah kecelakaan fatal di California dan kecelakaan pertama yang melibatkan Tesla Semi di Nevada ikut menekan sentimen investor. Selain itu, gelombang pencurian kargo yang merugikan hingga Rp14 triliun per hari juga menjadi tantangan operasional baru bagi perusahaan.
Bagi investor dan pengamat industri, laporan keuangan kuartal II 2026 ini menjadi sinyal peringatan yang jelas. Upaya Tesla untuk bertransformasi dari sekadar produsen mobil menjadi perusahaan teknologi dan AI berisiko tinggi membutuhkan modal yang sangat besar. Tanpa adanya kejelasan kapan proyek-proyek ambisius seperti Optimus dan robotaxi dapat memberikan keuntungan, tekanan terhadap harga saham diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.




