Apple Gugat OpenAI: Kisruh Rahasia Dagang di Balik IPO

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Logo Apple dan OpenAI bersebelahan dengan latar belakang ruang sidang
  • Apple menggugat OpenAI atas dugaan pencurian rahasia dagang oleh mantan karyawan Apple
  • Tang Tan, mantan VP Apple Watch, diduga menjadi dalang pengumpulan rahasia dagang melalui wawancara kerja
  • Jony Ive tidak disebut dalam gugatan meskipun merekrut banyak desainer Apple ke OpenAI
  • Kasus ini mengancam rencana IPO OpenAI yang sudah di depan mata
  • Industri AI menghadapi masalah kredibilitas karena budaya "mengambil tanpa izin"
  • OpenAI mengerjakan lima perangkat keras AI namun diragukan keberhasilannya
  • Kepercayaan publik terhadap AI berada pada titik terendah

JBNews.id — Apple menggugat OpenAI atas dugaan pencurian rahasia dagang yang melibatkan mantan karyawan Apple yang kini bekerja di perusahaan AI tersebut. Kasus ini menjadi ancaman serius bagi rencana IPO OpenAI yang sudah di depan mata.

Gugatan yang diajukan Apple mengungkap klaim mengejutkan. Sejumlah mantan karyawan Apple di OpenAI diduga secara sistematis meminta informasi rahasia dalam wawancara kerja, termasuk membawa perangkat keras milik Apple ke luar kantor untuk “show and tell”. Salah satu klaim paling mencengangkan adalah seorang karyawan yang diduga mengakses informasi rahasia Apple dan berkata, “LOL! Lucu sekali saya bisa mengakses ini.”

OpenAI membantah semua tuduhan tersebut dan belum memberikan tanggapan hukum resmi. Namun, para ahli hukum yang diwawancarai oleh Hayden Field, jurnalis AI senior The Verge, menilai kasus ini tidak sepenuhnya positif bagi OpenAI. Perusahaan yang menghabiskan USD 6,5 miliar untuk mengakuisisi startup perangkat keras AI milik desainer legendaris Apple, Jony Ive, pada 2025 ini kini harus menghadapi gugatan yang bisa menguras sumber daya.

Apple dikenal sebagai litigan yang sangat gigih. Sejarah mencatat perusahaan ini pernah menggugat Microsoft pada 1990-an terkait hak cipta, dan Samsung pada 2000-an terkait paten. Samsung akhirnya membayar sekitar USD 1 miliar dalam denda, namun Android tetap eksis dan Samsung tetap sukses. Pertanyaan besarnya kini: bisakah OpenAI melakukan hal yang sama?

Tang Tan: Dalang di Balik Skandal?

Tokoh sentral dalam gugatan ini adalah Tang Tan, mantan VP Apple Watch yang bekerja di Apple selama 24 tahun. Ia bergabung dengan perusahaan perangkat keras Jony Ive, io Products, pada 2024 sebelum akhirnya diakuisisi OpenAI dan diangkat sebagai chief hardware officer.

Menurut klaim Apple, Tang Tan adalah dalang pengumpulan rahasia dagang ini. Ia diduga melakukan wawancara dengan menanyakan proyek-proyek rahasia Apple yang memiliki nama kode. Calon karyawan merasa bisa berbicara lebih bebas karena Tang Tan sudah mengetahui detail proyek tersebut. Ia juga diduga meminta calon karyawan membawa baterai atau komponen perangkat keras lain ke luar kantor Apple untuk diperlihatkan di OpenAI.

Yang menarik, Jony Ive sendiri tidak disebut dalam gugatan ini. Padahal, ia adalah tokoh yang merekrut banyak desainer lama Apple ke OpenAI. Para ahli berspekulasi bahwa Ive mungkin terlalu kuat untuk diseret dalam kasus ini, atau ia memang tidak terlibat langsung karena memiliki orang lain yang melakukan “pekerjaan kotor” untuknya.

Ive sendiri baru-baru ini membuat video bersama Sam Altman yang langsung menjadi meme. Dalam video tersebut, ia menyebut ponsel dan laptop sebagai “perangkat warisan” — sebuah sindiran langsung ke Apple. Video itu direkam dengan menutup setengah kota San Francisco.

Dilema IPO di Tengah Badai Hukum

OpenAI saat ini berada dalam situasi yang sangat sulit. Perusahaan berencana melakukan IPO tahun ini, namun gugatan Apple bisa menjadi penghalang besar. Investor mulai mempertanyakan kapan perusahaan akan mencetak keuntungan, sementara OpenAI terus membakar uang tunai.

Sam Altman awalnya khawatir tentang pengajuan Form S-1 sebelum Anthropic. Setelah Anthropic memenangkan perlombaan IPO, OpenAI mundur dan mempertimbangkan kembali jadwal. Kini, dengan adanya gugatan Apple, tekanan semakin besar.

OpenAI juga terus kehilangan eksekutif. Greg Brockman, presiden OpenAI, kini hampir menjalankan seluruh perusahaan sendirian setelah Fidji Simo, kepala AGI, mengambil cuti karena alasan kesehatan dan akhirnya keluar secara permanen. Perusahaan terus melakukan restrukturisasi dan perubahan eksekutif, namun publik melihatnya sebagai rangkaian pivot yang membingungkan.

Industri AI dan Budaya “Mengambil Tanpa Izin”

Kasus ini menyoroti masalah yang lebih besar dalam industri AI. Seluruh industri ini dibangun di atas pengambilan data tanpa izin — dari pelatihan model yang menggunakan konten internet hingga musik yang di-scrape secara ilegal. Ironisnya, perusahaan AI sangat marah ketika model mereka di-distilasi oleh perusahaan China, namun mereka sendiri mengambil segala sesuatu tanpa izin.

Apple mengklaim OpenAI tidak hanya mencuri data, tetapi juga desain perangkat keras dan pengetahuan manufaktur. Ini adalah bentuk baru dari pola lama: AI labs mengambil apa pun yang mereka butuhkan untuk membangun superintelligence secepat mungkin, dengan asumsi semua akan dimaafkan setelah mereka berhasil.

Namun, publik tidak lagi diam saja. Munculnya “AI populisme” dan ancaman kematian terhadap CEO AI menunjukkan gelombang perlawanan yang semakin kuat. Mahasiswa mencemooh AI di acara wisuda, dan warga datang ke rapat dewan kota untuk menolak pembangunan pusat data.

Masa Depan Perangkat Keras AI

OpenAI dilaporkan sedang mengerjakan lima perangkat keras AI, dimulai dengan smart speaker tanpa layar. Namun, para ahli meragukan keberhasilannya. Produk AI konsumen seperti Humane AI Pin telah gagal total, dan belum ada tanda-tanda bahwa publik menginginkan perangkat AI khusus.

Jony Ive dikenal dengan pendekatan input baru untuk perangkat baru — click wheel untuk iPod, layar multitouch untuk iPhone. Untuk AI, input alami adalah bahasa. Namun, teknologi AI saat ini masih belum cukup andal. Dalam pengujian sederhana, AI bisa salah hingga 60 persen untuk tugas mencari alamat perusahaan.

Tanpa kepercayaan publik, perangkat keras AI konsumen akan sulit sukses. Apalagi dengan semakin banyaknya kekhawatiran tentang privasi data dan iklan di platform AI.

Implikasinya jelas: OpenAI harus memilih antara mengejar visi konsumen yang ambisius atau fokus pada enterprise yang lebih menguntungkan. Dengan gugatan Apple yang mengancam, IPO yang tertunda, dan kepercayaan publik yang menurun, pilihan itu mungkin sudah tidak lagi sepenuhnya berada di tangan mereka.

Kasus ini diperkirakan akan berlangsung bertahun-tahun dan bisa menjadi preseden penting bagi seluruh industri AI. Apakah OpenAI bisa bertahan? Atau akankah gugatan Apple menjadi batu sandungan yang mengubah peta persaingan AI global?