JBNews.id — Saham SpaceX mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu, menghapus hampir seluruh keuntungan sejak perusahaan roket milik Elon Musk melantai di bursa efek bulan lalu. Harga saham ditutup di bawah US$160, mendekati harga IPO sebesar US$150.
Setelah sempat melonjak ke level tertinggi sepanjang masa di atas US$225, saham SpaceX kini terperosok lebih dari tujuh persen dalam sehari ke level US$159,50. Angka ini berarti saham tersebut telah kehilangan hampir 30 persen nilainya dari puncak historisnya. Kapitalisasi pasar perusahaan yang sempat melampaui US$2 triliun pun berada di bawah tekanan berat.
Penurunan ini terjadi di tengah ketidakpastian investor terhadap fundamental bisnis SpaceX. Perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk ini tercatat masih membakar miliaran dolar kas setiap kuartal, sementara jalur menuju profitabilitas belum jelas terlihat. Rasio harga terhadap penjualan yang mencapai 115 kali dianggap sangat tinggi untuk perusahaan yang belum mencetak laba.
“Kami memandang SpaceX sebagai salah satu aset paling terdiferensiasi di pasar teknologi dengan jejak yang kuat di tiga pasar intinya,” tulis analis Wedbush Dan Ives dalam catatan risetnya, Selasa (30/6). Ives menetapkan target harga saham SpaceX sebesar US$190, jauh di atas level perdagangan saat ini. Ia menambahkan bahwa Starlink, Starship, dan pusat data AI Colossus menjadi pilar utama valuasi perusahaan.
Ives juga menekankan bahwa “semua bisnis masa depan SpaceX bergantung pada Starship,” menyebut roket raksasa yang masih dalam pengembangan itu sebagai “sumber nilai tunggal terbesar sekaligus risiko terbesar” bagi perusahaan. Sayangnya, Starship hingga kini belum pernah berhasil mencapai luar angkasa dan kembali utuh dalam satu misi penuh.
Baca Juga:
Keterbatasan Likuiditas Memicu Volatilitas
Salah satu faktor yang memperburuk pergerakan harga saham SpaceX adalah terbatasnya jumlah saham yang beredar di publik. Hanya sekitar lima persen dari total saham yang dilepas melalui IPO bulan lalu. Sisanya masih terkunci atau dibatasi kepemilikannya oleh pihak internal dan karyawan. Kondisi ini membuat pergerakan harga menjadi sangat sensitif terhadap volume perdagangan yang relatif kecil.
Analis pasar menilai volatilitas ini baru permulaan. Dengan struktur kepemilikan yang masih sangat terkonsentrasi, tekanan jual atau beli dalam jumlah besar dapat memicu pergerakan harga yang ekstrem. Nasdaq baru saja mengumumkan bahwa SpaceX akan masuk dalam indeks Nasdaq-100 pada 7 Juli mendatang, yang berpotensi memicu gelombang perdagangan baru dari investor institusional.
Investor saat ini bertaruh pada visi ambisius Musk yang mencakup pusat data AI orbital dan koloni di Bulan serta Mars—target yang bisa memakan waktu puluhan tahun untuk terwujud, jika memang bisa tercapai. Tidak adanya pendapatan atau laba yang jelas dalam waktu dekat membuat valuasi perusahaan sangat bergantung pada narasi masa depan.
Di sisi lain, NASA memiliki jadwal yang sangat ketat yang bergantung pada Starship. Badan antariksa AS itu ingin menggunakan roket tersebut untuk mengirim astronot pertama ke permukaan Bulan dalam lebih dari setengah abad—dan itu harus terjadi dalam dua tahun ke depan. Keterlambatan pengembangan Starship dapat berdampak langsung pada reputasi dan prospek bisnis SpaceX.
Penurunan harga saham ini juga berdampak langsung pada kekayaan pribadi Musk. Dengan kepemilikan saham yang signifikan, ia kehilangan status triliuner setelah saham perusahaannya anjlok. Meski demikian, Musk tetap menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan yang masih berada di level sembilan digit dolar AS.
Di tengah tekanan pasar, SpaceX juga tengah mengembangkan berbagai misi rahasia. Baru-baru ini, perusahaan dilaporkan menguji misi bernama Starfall yang diduga berkaitan dengan kepentingan militer. Langkah ini menunjukkan diversifikasi bisnis yang terus dilakukan SpaceX di luar peluncuran satelit komersial dan misi NASA.
Para analis memperkirakan bahwa pergerakan harga saham SpaceX akan tetap fluktuatif dalam beberapa minggu ke depan hingga fundamental bisnis yang lebih jelas terlihat. “Ini adalah perusahaan yang luar biasa dengan potensi luar biasa, tetapi juga membawa risiko yang luar biasa,” ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya.
Bagi investor ritel yang ingin masuk, para ahli menyarankan untuk berhati-hati. Volatilitas yang tinggi dan kurangnya data fundamental yang solid membuat saham SpaceX lebih cocok untuk investor yang memiliki toleransi risiko tinggi dan horizon investasi jangka panjang.
SpaceX sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai pergerakan harga saham terbaru. Perusahaan biasanya menghindari komentar publik terkait fluktuasi pasar jangka pendek, dengan alasan fokus pada pengembangan teknologi dan misi jangka panjang.
Dengan masuknya SpaceX ke indeks Nasdaq-100, perusahaan roket ini akan menjadi salah satu dari 100 perusahaan terbesar yang tercatat di bursa teknologi AS. Langkah ini dapat meningkatkan visibilitas dan likuiditas saham, tetapi juga membuka celah bagi tekanan jual dari investor indeks yang mungkin menilai valuasi saat ini terlalu tinggi.
Dalam jangka panjang, keberhasilan SpaceX akan sangat bergantung pada kemampuan Starship untuk beroperasi secara komersial. Jika roket tersebut berhasil memenuhi janji-janjinya, valuasi perusahaan bisa melonjak kembali. Namun jika gagal, seluruh fondasi valuasi US$2 triliun bisa runtuh.
Investor kini menanti laporan keuangan kuartal berikutnya yang dijadwalkan rilis dalam beberapa pekan ke depan. Data pendapatan, arus kas, dan perkembangan proyek Starship akan menjadi penentu utama arah harga saham selanjutnya.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai dampak penurunan ini terhadap pasar teknologi secara keseluruhan, simak artikel tentang saham SpaceX anjlok dan koreksi pasar global.
Sementara itu, misi rahasia Starfall yang diduga untuk kepentingan militer menunjukkan bahwa SpaceX terus memperluas sayap bisnisnya di luar peluncuran komersial. Langkah ini bisa menjadi sumber pendapatan baru yang signifikan di masa depan, meskipun detailnya masih sangat terbatas.
Dengan segala ketidakpastian yang ada, satu hal yang jelas: perjalanan SpaceX di bursa saham masih panjang dan penuh liku. Investor yang bertahan mungkin akan menuai hasil besar, tetapi risiko kehilangan modal juga tidak bisa diabaikan.




