Bumi Diduga Kirim Mikroorganisme ke Venus, Ini Teorinya

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi planet Venus dengan latar belakang bintang di angkasa
  • Studi baru dari LPSC 2026 ajukan teori Bumi kirim mikroorganisme ke Venus
  • Tim peneliti dari Johns Hopkins dan Sandia National Laboratories gunakan model Venus Life Equation (VLE)
  • Simulasi tunjukkan ratusan miliar sel mikroba dari Bumi capai Venus selama miliaran tahun
  • Sekitar 100 sel mikroba berpotensi tersebar di awan Venus setiap tahun
  • Peneliti tegaskan hasil ini bukan bukti kehidupan, hanya hitungan kemungkinan perpindahan
  • Jika kehidupan ditemukan di Venus, asal-usulnya bisa dari Bumi, bukan alien

JBNews.id, JAKARTA — Sebuah studi baru mengajukan skenario mengejutkan: kehidupan di Venus mungkin berasal dari Bumi melalui material batuan yang terlontar akibat tumbukan asteroid selama miliaran tahun.

Penelitian yang dipresentasikan dalam Lunar and Planetary Science Conference (LPSC) 2026 ini membalikkan asumsi lama para ilmuwan. Selama ini, diskusi lebih banyak berfokus pada kemungkinan kehidupan datang dari Mars atau muncul sendiri di Venus. Kini, Bumi justru menjadi kandidat asal-usul kehidupan di planet tetangga tersebut.

Gagasan ini berangkat dari teori panspermia, yaitu hipotesis bahwa kehidupan atau bahan penyusunnya dapat berpindah dari satu planet ke planet lain melalui batuan antariksa. Ketika asteroid besar menghantam Bumi, sebagian batuan dapat terpental keluar dari atmosfer dan melayang di ruang angkasa. Jika batuan tersebut membawa mikroorganisme yang mampu bertahan dari tekanan, radiasi, dan perjalanan antariksa, bukan tidak mungkin sebagian akhirnya mencapai Venus.

Tim peneliti dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory dan Sandia National Laboratories menggunakan model yang disebut Venus Life Equation (VLE) untuk menghitung kemungkinan perpindahan tersebut. Hasil simulasi mereka menunjukkan ratusan miliar sel mikroba dari Bumi mungkin telah mencapai Venus selama miliaran tahun. Bahkan, estimasi terbaik mereka menyebut sekitar 100 sel mikroba dapat tersebar di awan Venus setiap tahun Bumi dan berpotensi tetap hidup.

Beberapa tahun terakhir, ilmuwan kembali tertarik pada Venus setelah muncul dugaan adanya gas fosfina di atmosfernya. Meski temuan tersebut masih diperdebatkan, sebagian peneliti berpendapat lapisan awan Venus mungkin memiliki kondisi yang lebih bersahabat dibandingkan permukaannya yang bersuhu sekitar 460 derajat Celsius.

Karena itu, jika suatu hari misi antariksa menemukan tanda-tanda kehidupan di atmosfer Venus, asal-usulnya belum tentu berasal dari planet tersebut. “Jika misi di masa depan menemukan kehidupan di Venus, ada kemungkinan mengejutkan bahwa kehidupan itu sebenarnya berasal dari Bumi,” tulis tim peneliti dalam ringkasan studi yang dikutip ScienceDaily, Kamis (2/7/2026).

Meski terdengar menarik, para peneliti menegaskan bahwa hasil ini bukan bukti adanya kehidupan di Venus. Studi tersebut hanya menghitung kemungkinan perpindahan mikroorganisme dari Bumi ke Venus berdasarkan model fisika tumbukan asteroid dan dinamika orbit.

Apakah mikroba benar-benar dapat bertahan selama perjalanan antariksa, memasuki atmosfer Venus, lalu berkembang biak di sana masih menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab lewat misi eksplorasi di masa depan.

Penelitian ini memperluas cara pandang ilmuwan mengenai penyebaran kehidupan di Tata Surya. Selama ini, pembahasan teori panspermia lebih banyak berfokus pada perpindahan material antara Bumi dan Mars. Kini, Venus pun mulai masuk dalam daftar planet yang layak dipertimbangkan. Temuan serupa juga pernah diungkap dalam studi Meteorit Sahara Ungkap Bukit Planet Purba yang menunjukkan kompleksitas perpindahan material antariksa.

Jika suatu hari kehidupan benar-benar ditemukan di atmosfer Venus, para ilmuwan mungkin harus menjawab pertanyaan yang lebih besar lagi: apakah kita sedang menemukan kehidupan alien, atau justru jejak kehidupan Bumi yang ‘tersesat’ ke planet tetangga miliaran tahun lalu?

Artikel ini ditulis berdasarkan laporan ScienceDaily dan presentasi dalam Lunar and Planetary Science Conference (LPSC) 2026.