RUU New Jersey Ancam Larang Robotaxi Tesla yang Hanya Gunakan Kamera

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Mobil Tesla dengan sistem kamera di jalan raya
  • RUU di New Jersey mewajibkan robotaxi menggunakan kamera dan setidaknya dua sensor lain (lidar/radar).
  • Jika disahkan, RUU ini secara efektif melarang armada robotaxi Tesla yang hanya mengandalkan kamera.
  • Elon Musk menolak lidar/radar, mengklaim kamera dan AI sudah cukup untuk self-driving yang aman.
  • Senator Andrew Zwicker (D-NJ) menyatakan RUU ini untuk keselamatan, bukan anti-Tesla.
  • Waymo, pesaing Tesla, menggunakan lidar/radar dan memiliki armada robotaxi yang jauh lebih besar.
  • Tesla melobi RUU tersebut dan meminta pelanggan di New Jersey untuk menentangnya.
  • Tidak adanya regulasi federal membuat setiap negara bagian membuat aturan sendiri untuk kendaraan otonom.

JBNews.id – New Jersey Sebuah rancangan undang-undang di New Jersey mengancam akan melarang operasional kendaraan otonom penuh atau robotaxi milik Tesla. RUU tersebut mewajibkan setiap kendaraan tanpa pengemudi untuk menggunakan kamera dan setidaknya dua teknologi sensor tambahan lainnya, seperti lidar dan radar. Ketentuan ini secara efektif akan melarang armada robotaxi Tesla yang saat ini hanya mengandalkan sistem kamera dan perangkat lunak kecerdasan buatan (AI).

Rancangan undang-undang yang akan memasuki proses pemungutan suara tahun ini ini menjadi hambatan besar bagi strategi otonom Tesla. Pendiri sekaligus CEO Tesla, Elon Musk, selama bertahun-tahun bersikukuh bahwa penggunaan sensor radar dan lidar tidak diperlukan. Argumennya, kamera dan perangkat keras AI canggih sudah cukup untuk mewujudkan kendaraan yang dapat menyetir sendiri dengan aman, meskipun terdapat banyak bukti yang menunjukkan sebaliknya.

Jika RUU ini disahkan, negara bagian lain seperti New York yang juga tengah mempertimbangkan undang-undang serupa, diperkirakan akan mengikutinya. Efek domino ini berpotensi mengganggu seluruh lintasan pengembangan kendaraan otonom Tesla saat ini.

Argumen Keselamatan vs. Keyakinan Elon Musk

Sponsor RUU tersebut, Senator Andrew Zwicker (D-NJ), menegaskan bahwa rancangan undang-undang ini bukanlah tindakan anti-Tesla. “Saya pro-keselamatan New Jersey,” ujar Zwicker kepada The Verge. Ia berargumen bahwa belum ada cukup bukti untuk menyatakan bahwa satu jenis sensor, ditambah perangkat lunak, dapat menangani situasi yang bisa dihadapi manusia. “Mungkin kita bisa sampai di sana? Mungkin. Tapi kita belum sampai di sana,” tambahnya.

Ketergantungan penuh pada kamera yang bisa terhalang oleh sinar matahari, kabut, atau hujan deras merupakan bagian dari taruhan besar Musk pada AI. Dalam sebuah unggahan di media sosial tahun lalu, Musk menyatakan bahwa penambahan sensor justru dapat mengurangi keamanan karena apa yang ia sebut sebagai “sensor contention”. “Kami mematikan radar di Tesla untuk meningkatkan keamanan. Kamera untuk kemenangan,” tulisnya kala itu.

Namun, keyakinan Musk ini terbilang sendirian di industrinya. Pesaing utama, terutama Waymo, justru membuat kemajuan signifikan dengan mengandalkan kamera dan teknologi sensor lain seperti lidar dan radar yang berkinerja jauh lebih baik dalam cuaca buruk dan kondisi gelap.

Seorang pengemudi dengan tangan di setir mobil Tesla dalam foto berwarna.

Teknologi Kamera Saja Dinilai Belum Siap

Profesor dari Carnegie Mellon dan pakar kendaraan otonom, Philip Koopman, menegaskan bahwa teknologi yang hanya mengandalkan kamera saat ini belum mampu menangani tantangan di jalan raya. “Untuk beroperasi 24/7 di sebagian besar jalan umum di New Jersey saat ini, diperlukan lidar. Cukup jelas bahwa teknologi kamera saja belum cukup,” jelas Koopman kepada The Verge.

Data menunjukkan bahwa armada robotaxi Tesla yang saat ini berjumlah 42 unit dan beroperasi di jalan umum Texas masih jauh tertinggal dari Waymo. Waymo memiliki 577 robotaxi resmi di Texas, ditambah beberapa ribu unit lagi yang tersebar di sepuluh wilayah metropolitan di Amerika Serikat. Angka ini kontras dengan janji Musk bahwa armada Tesla akan tumbuh menjadi ratusan ribu unit pada akhir tahun ini, sebuah prediksi yang dinilai terlalu berani dan tidak realistis.

Lobi Tesla dan Ancaman Regulasi

Peluncuran robotaxi Tesla yang lambat juga dihantui oleh berbagai kemunduran. Musk merasionalisasi hal ini sebagai akibat dari Tesla yang “paranoid tentang keselamatan.” Namun, laporan menyebutkan bahwa pabrikan mobil listrik itu telah berupaya keras menyensor keadaan sekitar kecelakaan robotaxi yang telah dilaporkan ke regulator.

Tidak mengherankan, Tesla saat ini sedang melobi untuk melawan RUU New Jersey. Senator Zwicker mengungkapkan bahwa perwakilan Tesla telah berdiskusi dengan para pembuat undang-undang. Perusahaan ini juga meminta bantuan pelanggannya di New Jersey untuk menghubungi anggota legislatif negara bagian dan menentang RUU tersebut.

Situasi ini menjadi semakin genting mengingat tidak adanya undang-undang federal yang komprehensif untuk mengawasi peluncuran kendaraan otonom. Setiap negara bagian dibiarkan membuat aturannya sendiri, menciptakan tambal sulam hukum yang memungkinkan Tesla terus maju meskipun ada kekhawatiran keselamatan.

Kondisi regulasi yang terfragmentasi ini menjadi tantangan besar bagi industri kendaraan otonom secara keseluruhan. Sementara Tesla bersikeras pada pendekatan kamera saja, regulator di berbagai negara bagian mulai mempertanyakan kelayakan dan keamanan teknologi tersebut. Keputusan di New Jersey bisa menjadi preseden penting yang akan membentuk masa depan transportasi otonom di Amerika Serikat.

Dampak dari RUU ini tidak hanya dirasakan oleh Tesla. Jika negara bagian lain mengikuti langkah New Jersey, seluruh industri kendaraan otonom mungkin harus menyesuaikan strategi pengembangan mereka. Keharusan untuk mengintegrasikan lidar dan radar akan mengubah biaya produksi dan arsitektur teknis kendaraan otonom di masa depan. Bagi konsumen, hal ini berarti kendaraan otonom yang lebih aman namun mungkin dengan harga yang lebih tinggi dalam jangka pendek.

Di sisi lain, persaingan antara pendekatan kamera saja milik Tesla dan pendekatan multi-sensor milik Waymo akan menentukan arah teknologi ini ke depan. Regulator seperti di New Jersey tampaknya lebih memilih pendekatan yang lebih konservatif dan terbukti, setidaknya hingga teknologi kamera saja dapat menunjukkan tingkat keamanan yang setara.