Startup Uji Coba Pendorong Satelit Tanpa Bahan Bakar di Luar Angkasa

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi sistem Supertorquer milik Zenno Astronautics yang menggunakan magnet superkonduktor untuk propulsi satelit tanpa bahan bakar.
  • Zenno Astronautics berhasil uji coba sistem pendorong satelit tanpa bahan bakar bernama Supertorquer di luar angkasa.
  • Sistem ini menggunakan magnet superkonduktor yang mengubah energi matahari menjadi momentum dengan berinteraksi pada medan magnet Bumi.
  • Uji coba dilakukan pada satelit Mira (Impulse Space) yang diluncurkan via misi SpaceX pada November lalu.
  • Supertorquer berhasil mengubah orientasi satelit sesuai perintah, membuktikan konsep teknologi baru ini.
  • Tantangan suhu diatasi dengan pompa panas dan isolasi, memungkinkan kumparan bekerja pada suhu -321 derajat Fahrenheit dengan daya hanya 48 watt.
  • Startup berencana mengembangkan sistem ini untuk manuver docking dan misi ke Bulan atau Mars.

JBNews.id — Startup asal Selandia Baru, Zenno Astronautics, berhasil menguji sistem pendorong satelit jenis baru yang tidak menggunakan bahan bakar sama sekali. Teknologi ini memanfaatkan magnet superkonduktor untuk mengubah energi matahari langsung menjadi momentum, dengan berinteraksi pada medan magnet Bumi.

Uji coba dilakukan pada sistem “Supertorquer” yang dipasang di satelit Mira, hasil pengembangan Impulse Space. Satelit tersebut diluncurkan ke luar angkasa sebagai bagian dari misi rideshare SpaceX pada November lalu. Dalam pengujiannya, Supertorquer berhasil mengubah orientasi satelit Mira sesuai perintah, membuktikan konsep teknologi propulsi baru ini.

CEO dan pendiri Zenno Astronautics, Max Arshavsky, menjelaskan bahwa energi adalah satu hal yang melimpah di luar angkasa. Energi itu dapat digunakan untuk menggerakkan magnet dan menciptakan alat akselerasi magnetik. “Ini memberikan akselerasi tanpa bahan bakar,” ujar Arshavsky kepada Space.com.

Secara umum, satelit menjaga orbitnya dengan kecepatan yang presisi untuk melawan tarikan gravitasi. Untuk mencegah orbitnya memburuk, satelit menggunakan pendorong kecil di luar angkasa. Dua kategori utama pendorong ini adalah kimia dan listrik. Pendorong kimia menggunakan bahan bakar yang bisa terbakar yang dipercepat melalui nosel, sementara pendorong listrik menggunakan energi listrik untuk mengubah propelan menjadi energi kinetik.

Zenno menawarkan alternatif ketiga yang revolusioner. Sistem Supertorquer menggunakan magnet superkonduktor. Saat wahana antariksa perlu bergerak, kumparan superkonduktor menarik daya dari baterai bertenaga surya. “Unit ini memiliki beberapa magnet superkonduktor yang diposisikan di sumbu yang berbeda,” kata Arshavsky. “Saat kami menyalakan magnet, mereka menghasilkan medan magnet yang berinteraksi dengan medan magnet Bumi. Karena kami dapat mengontrol medan magnet di satelit, kami dapat mengontrol cara satelit berputar relatif terhadap Bumi.”

Tantangan utama dari teknologi ini adalah suhu operasional. Agar magnet superkonduktor dapat bekerja, mereka harus didinginkan hingga suhu yang sangat rendah. Di Bumi, hal ini membutuhkan cairan kriogenik yang tidak cocok untuk satelit. Di luar angkasa sekalipun, satelit dapat dipanaskan hingga sekitar 68 derajat Fahrenheit oleh sinar matahari. Zenno mengatasi masalah ini dengan menggunakan pompa panas dan sistem isolasi yang ekstensif. Sistem pendingin ini memungkinkan kumparan untuk bekerja pada suhu serendah 77 kelvin, atau -321 derajat Fahrenheit. Perusahaan mengklaim sistem pendinginnya sangat efisien, hanya menarik daya hingga 48 watt pada puncaknya.

Startup ini memiliki rencana ambisius ke depan. Mereka berharap dapat meningkatkan skala sistem ini agar wahana antariksa di masa depan dapat melakukan manuver docking, atau bahkan membantu mendorong mereka ke Bulan atau Mars dengan hanya mengandalkan tenaga surya. Arshavsky bahkan menyarankan bahwa magnet superkonduktor dapat menciptakan “payung medan magnet” yang dapat “melindungi manusia di luar angkasa” dari radiasi berbahaya.

Meskipun masih harus dilihat seberapa layak rencana ambisius tersebut, keberhasilan uji coba awal ini menandai langkah maju yang signifikan dalam teknologi propulsi antariksa. Inovasi seperti ini membuka kemungkinan baru untuk misi luar angkasa yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Teknologi propulsi tanpa bahan bakar ini merupakan terobosan besar. Jika berhasil dikembangkan, ia bisa mengubah cara kita menjelajahi tata surya. Bayangkan, satelit dan wahana antariksa tidak lagi perlu membawa bahan bakar yang berat dan mahal. Mereka bisa bergerak tanpa batas, hanya dengan mengandalkan energi matahari yang melimpah. Ini bukan sekadar efisiensi, tetapi juga membuka pintu untuk misi-misi yang sebelumnya mustahil dilakukan karena keterbatasan bahan bakar.

Keberhasilan Zenno Astronautics juga menunjukkan potensi besar dari startup luar angkasa di luar Amerika Serikat. Inovasi seperti ini membuktikan bahwa ide-ide revolusioner bisa datang dari mana saja. Waymo Ojai mungkin menjadi berita utama, tetapi inovasi di sektor antariksa juga patut diperhatikan.

Bagi para penggemar dan profesional di industri antariksa, berita ini sangat relevan. Teknologi ini bisa menjadi solusi untuk masalah utama dalam misi luar angkasa: ketergantungan pada bahan bakar. Jika Zenno berhasil mengkomersialkan teknologinya, biaya operasi satelit bisa turun drastis, dan misi ke Bulan atau Mars bisa menjadi lebih terjangkau.

Perkembangan ini juga menarik bagi pengamat teknologi yang mengikuti inovasi terkini. Sama seperti Bug Windows 11 yang menyita perhatian, terobosan di bidang propulsi antariksa juga merupakan berita besar yang patut dicermati.

Uji coba yang berhasil ini memberikan optimisme bahwa masa depan eksplorasi antariksa akan lebih hijau dan efisien. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar, seperti medan magnet Bumi dan energi matahari, manusia bisa melangkah lebih jauh tanpa harus bergantung pada sumber daya yang terbatas di Bumi. Ini adalah langkah kecil untuk sebuah satelit, tetapi lompatan besar untuk teknologi propulsi antariksa.