Rusia Uji Cermin Raksasa Antariksa untuk Terangi Malam

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi cermin raksasa Znamya-2 yang dipasang di stasiun ruang angkasa Mir pada tahun 1993
  • Rusia menguji cermin raksasa antariksa Znamya 2 pada 1993 dengan diameter 20 meter
  • Cermin memantulkan cahaya Matahari ke Bumi dengan kecerahan setara bulan purnama
  • Proyek Znamya 2.5 pada 1999 gagal karena cermin tersangkut antena wahana
  • Perusahaan AS Reflect Orbital kini mengembangkan teknologi serupa untuk penerangan malam
  • Cermin antariksa berpotensi membantu proyek konstruksi, penanggulangan bencana, dan energi surya
  • Kekhawatiran muncul dari astronom dan ilmuwan lingkungan terkait dampak polusi cahaya

JBNews.id — Rusia pernah mengubah malam menjadi terang tanpa lampu melalui proyek cermin raksasa antariksa bernama Znamya. Gagasan fiksi ilmiah ini diuji lebih dari 30 tahun lalu dan kini kembali menjadi perhatian sebagai solusi penerangan malam serta peningkatan produksi energi surya.

Pada 1993, Rusia menguji Znamya 2, sebuah cermin reflektif berdiameter sekitar 20 meter. Cermin ini dibawa wahana kargo Progress M-15 setelah menyelesaikan misinya di stasiun luar angkasa Mir. Ketika dibentangkan di orbit, permukaannya memantulkan sinar Matahari ke Bumi dan menghasilkan berkas cahaya selebar sekitar 5 kilometer dengan tingkat kecerahan mendekati cahaya bulan purnama.

Cahaya tersebut melintas dari Prancis selatan hingga Rusia barat dengan kecepatan sekitar 8 kilometer per detik. Meski banyak wilayah tertutup awan, sejumlah pengamat di darat sempat melihat kilatan terang yang menyapu langit.

Znamya-2 terlihat dari stasiun ruang angkasa Mir pada tanggal 4 Februari 1993.

Proyek Znamya dipimpin insinyur Rusia Vladimir Syromyatnikov. Awalnya, teknologi itu dirancang sebagai layar surya (solar sail) untuk mendorong wahana antariksa menggunakan tekanan cahaya Matahari. Namun, konsep tersebut kemudian diubah menjadi cermin orbit yang memantulkan sinar Matahari ke permukaan Bumi. Tujuan awalnya adalah memberikan penerangan bagi wilayah terpencil di Siberia, kawasan Arktik, hingga lokasi bencana atau proyek konstruksi yang membutuhkan cahaya tambahan pada malam hari.

Keberhasilan uji coba pertama mendorong Rusia menyiapkan proyek lanjutan Znamya 2.5 pada 1999. Cermin baru ini berdiameter 25 meter dan diperkirakan mampu menghasilkan cahaya setara lima hingga sepuluh kali terang bulan purnama. Namun, eksperimen itu gagal setelah cermin tersangkut antena wahana Progress saat dibentangkan. Setelah beberapa kali upaya penyelamatan tidak berhasil, wahana akhirnya diarahkan masuk kembali ke atmosfer dan proyek Znamya dihentikan. Rencana membuat versi yang lebih besar, Znamya 3, pun dibatalkan.

Kembalinya Gagasan Cermin Antariksa

Meski proyek Rusia berhenti, gagasan menggunakan cermin di antariksa kembali hidup. Perusahaan rintisan asal Amerika Serikat, Reflect Orbital, tengah mengembangkan satelit dengan cermin reflektif besar untuk mengarahkan cahaya Matahari ke lokasi tertentu setelah Matahari terbenam. Perusahaan tersebut menyebut teknologinya dapat dimanfaatkan untuk proyek konstruksi, operasi pencarian dan penyelamatan, penanggulangan bencana, hingga membantu pembangkit listrik tenaga surya menghasilkan energi lebih lama setiap hari.

Menurut Reflect Orbital, satelit demonstrasi pertamanya dirancang membawa cermin berukuran sekitar 18 Ɨ 18 meter yang mampu memantulkan cahaya dengan intensitas setara sinar bulan ke area berdiameter sekitar 5 kilometer di permukaan Bumi. Konsep ini mirip dengan apa yang diuji Rusia sebelumnya, namun dengan teknologi yang jauh lebih modern.

Meski menjanjikan berbagai manfaat, konsep cermin antariksa juga memunculkan kekhawatiran. Para astronom menilai pantulan cahaya buatan berpotensi mengganggu pengamatan langit malam, sementara ilmuwan lingkungan mengingatkan perlunya kajian lebih lanjut mengenai dampaknya terhadap satwa nokturnal dan ekosistem.

Proyek Rusia pada 1993 membuktikan bahwa gagasan mengubah malam menjadi terang bukan sekadar khayalan. Dengan kemajuan teknologi satelit dan material ringan saat ini, konsep tersebut berpeluang kembali diwujudkan dalam skala yang lebih besar di masa depan. Reflect Orbital kini menjadi salah satu pihak yang paling serius mengembangkan teknologi ini, meski masih menghadapi tantangan regulasi dan dampak lingkungan.

Implikasi dari pengembangan ini sangat luas. Jika berhasil, cermin antariksa bisa menjadi solusi penerangan malam hari yang efisien untuk daerah terpencil, lokasi bencana, dan proyek konstruksi besar. Bagi industri energi surya, teknologi ini berpotensi memperpanjang waktu produksi listrik hingga beberapa jam setelah Matahari terbenam, meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga surya secara signifikan.

Namun, para ilmuwan mengingatkan bahwa dampak ekologis dari penerangan buatan di malam hari belum sepenuhnya dipahami. Gangguan terhadap pola tidur satwa nokturnal, migrasi burung, dan siklus reproduksi berbagai spesies perlu diteliti lebih lanjut sebelum teknologi ini diimplementasikan secara luas. Para astronom juga khawatir bahwa polusi cahaya dari cermin antariksa akan semakin mempersulit pengamatan benda langit yang redup.

Meski demikian, proyek Znamya yang diuji lebih dari tiga dekade lalu telah membuka jalan bagi inovasi ini. Dengan modal pengalaman dan kemajuan teknologi, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, langit malam di berbagai belahan dunia akan dihiasi berkas cahaya buatan dari cermin raksasa yang mengorbit di atas kepala kita.