Roket SpaceX Tabrak Bulan, Begini Dampaknya

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi roket SpaceX Falcon 9 yang menabrak permukaan Bulan
  • Tahap atas roket SpaceX Falcon 9 menabrak Bulan pada Rabu dini hari dengan kecepatan 5.400 mph
  • NASA memperkirakan kawah yang terbentuk selebar 60 kaki dengan kedalaman 12 kaki, sementara perkiraan lain mencapai 100 kaki
  • Bagian roket yang dibuang telah berada di luar angkasa selama setahun, dilepaskan saat misi Januari 2025 yang membawa pendarat Blue Ghost dan Hakuto-R
  • Tabrakan ini dianggap minor bagi Bulan karena permukaannya rutin dibombardir meteoroid setiap enam hari
  • Insiden memunculkan pertanyaan tentang praktik pembuangan sampah antariksa di dekat orbit Bulan
  • Bill Gray, astronom pencipta Project Pluto, menyebut peristiwa ini memiliki nilai ilmiah kecil namun menyoroti kecerobohan pembuangan perangkat keras antariksa
  • Ini bukan pertama kalinya puing manusia menghantam Bulan; NASA pernah sengaja menabrakkan roket Saturn V dan roket lain pada 2009

JBNews.id — Sebuah roket SpaceX Falcon 9 dilaporkan menabrak permukaan Bulan pada Rabu dini hari. Tahap atas roket yang telah dibuang itu diperkirakan meluncur dengan kecepatan 5.400 mil per jam, sekitar tujuh kali kecepatan suara di Bumi, sebelum akhirnya menghantam satelit alami tersebut. Peristiwa ini terjadi setelah para astronom memantau lintasan puing luar angkasa itu selama berbulan-bulan.

Dampak tabrakan tersebut memicu ledakan yang menghasilkan kilatan cahaya yang mungkin terlihat dari Bumi. Berdasarkan perkiraan NASA, tumbukan dengan kecepatan luar biasa itu diprediksi membuka kawah selebar sekitar 60 kaki dengan kedalaman 12 kaki. Sementara itu, beberapa pihak lain memperkirakan kawah yang terbentuk bisa mencapai lebar 100 kaki. Kejadian ini menjadi sorotan karena menandai pertama kalinya puing antariksa SpaceX menghantam Bulan secara tidak sengaja.

Kronologi dan Misi Awal

Bagian roket yang dibuang tersebut telah berada di luar angkasa selama lebih dari satu tahun. Komponen itu dilepaskan selama misi pada Januari 2025 yang membawa dua pendarat bulan, yaitu Blue Ghost milik Firefly dan Hakuto-R milik ispace. Setelah misi tersebut, para astronom mulai mencurigai bahwa tahap roket itu akan jatuh ke orbit Bulan. Pada akhir April, sebuah laporan mengonfirmasi dugaan bahwa roket tersebut akan menabrak permukaan Bulan.

Ledakan yang terjadi—atau dalam istilah eufemisme SpaceX, rapid unscheduled disassembly—sulit diamati secara langsung. Oleh karena itu, para ilmuwan mungkin membutuhkan waktu untuk menyusun gambaran lengkap mengenai apa yang terjadi selama tumbukan. Meski demikian, para peneliti berharap dapat mempelajari fisika material yang terlempar akibat ledakan dalam lingkungan gravitasi rendah, di mana material lontaran (ejecta) dapat bergerak hingga jarak bermil-mil.

Sebagai konteks, ambisi bulan SpaceX memang sudah lama digaungkan oleh CEO Elon Musk. Perusahaan tersebut tengah mengembangkan roket megaroket Starship yang dirancang untuk membawa kargo ke permukaan Bulan, serta berencana mendaratkan astronot NASA dalam misi bersejarah. Musk bahkan berencana membangun pangkalan Bulan dengan pabrik yang dapat memproduksi satelit AI. Namun, hingga saat ini, belum ada wahana SpaceX yang berhasil mencapai orbit Bulan, apalagi mendarat di sana.

Baca Juga:

Dampak terhadap Bulan dan Sains

Meskipun tabrakan ini tergolong besar, para ilmuwan menilai dampaknya terhadap Bulan relatif kecil. Bulan tidak memiliki atmosfer pelindung, sehingga permukaannya terus-menerus dibombardir oleh meteoroid setiap hari. Menurut NASA, tumbukan dengan energi yang setara dengan tahap atas roket tersebut terjadi di Bulan kira-kira setiap enam hari sekali. Dengan demikian, satu kawah tambahan tidak akan banyak mengubah kondisi satelit alami Bumi itu.

Kendati demikian, insiden ini memunculkan pertanyaan penting tentang praktik terbaik pengelolaan sampah antariksa. Apakah membuang bagian roket bekas di dekat orbit Bulan dapat dianggap sebagai kelalaian? Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat aktivitas eksplorasi luar angkasa yang semakin meningkat, termasuk upaya komersial dari berbagai perusahaan swasta.

Bill Gray, seorang astronom yang menciptakan perangkat lunak Project Pluto yang digunakan untuk melacak objek dekat Bumi, adalah pihak yang menerbitkan laporan prediksi jatuhnya roket tersebut. Dalam pernyataannya, Gray menulis bahwa peristiwa ini mungkin memiliki “nilai ilmiah yang kecil—mungkin minor—dan kita mungkin mempelajari beberapa hal darinya.” Ia juga menegaskan bahwa insiden ini tidak menimbulkan bahaya bagi siapa pun, tetapi menyoroti “kecerobohan tertentu tentang bagaimana perangkat keras antariksa yang tersisa (sampah antariksa) dibuang.”

Ilustrasi foto roket SpaceX yang menabrak permukaan Bulan.

Preseden dan Pelajaran Masa Depan

Tabrakan ini bukan pertama kalinya puing-puing manusia menghantam permukaan Bulan. Pada era misi Apollo di tahun 1970-an, NASA sengaja mengarahkan tahap roket Saturn V yang sudah dibuang ke Bulan. Kemudian pada 2009, badan antariksa AS itu juga menabrakkan bagian roket ke Bulan untuk mempelajari dampaknya. Para ilmuwan kini berharap dapat memperoleh wawasan serupa dari kecelakaan yang melibatkan roket SpaceX ini.

Insiden ini juga menjadi pengingat akan tantangan pengelolaan sampah antariksa yang semakin kompleks. Dengan meningkatnya jumlah misi komersial ke luar angkasa, termasuk upaya SpaceX dalam membangun jaringan seluler dan ekspansi bisnis lainnya, pertanyaan tentang tanggung jawab terhadap puing antariksa menjadi semakin mendesak. Pendapatan AI SpaceX yang tumbuh signifikan juga menunjukkan skala ekspansi perusahaan yang kian luas.

Bagi industri antariksa, peristiwa ini memberikan pelajaran berharga tentang perlunya perencanaan yang lebih matang dalam pembuangan komponen roket. Meskipun dampak fisik terhadap Bulan dianggap minor, reputasi dan praktik operasional perusahaan-perusahaan antariksa akan terus menjadi sorotan publik. Ke depan, para pemangku kepentingan di industri ini diharapkan dapat mengembangkan standar yang lebih ketat untuk mencegah insiden serupa terulang kembali.