JBNews.id — SpaceXAI, perusahaan milik Elon Musk yang mengelola pusat data Colossus di kawasan Memphis, menghadapi tuntutan hukum dari kontraktor yang mengklaim belum dibayar lebih dari Rp136 miliar untuk pekerjaan konstruksi sejak 2024. Gugatan tersebut diajukan melalui dua lien (hak jaminan kebendaan) oleh perusahaan kontraktor asal Ohio, Darana Hybrid, sebagaimana pertama kali dilaporkan oleh Memphis Business Journal.
Lien pertama senilai Rp18 miliar diajukan untuk pekerjaan konstruksi di fasilitas Colossus pertama dekat Boxtown. Sementara lien kedua menuntut pembayaran lebih dari Rp118 miliar untuk pekerjaan di fasilitas kedua di Whitehaven. Data ini tercatat di situs Shelby County Register of Deeds.
“Kontraktor mengklaim mereka belum dibayar untuk pekerjaan konstruksi selama bertahun-tahun,” kata Dima Amro, reporter yang meliput kasus ini, kepada Action 5 News.
Kasus ini menjadi sorotan baru di tengah kontroversi yang sudah membayangi pembangunan dua pusat data Colossus di area Greater Memphis. Sebelumnya, perusahaan sempat dikritik karena menggunakan turbin gas yang sangat polutif untuk mempercepat operasional fasilitas, yang dikeluhkan warga setempat membuat udara sulit bernapas.
Keterlambatan pembayaran ini dinilai sebagai bukti lain dari cara-cara cepat yang ditempuh SpaceXAI untuk mengoperasikan pusat data secepat mungkin. Pembangunan yang terburu-buru itu kini berpotensi menimbulkan masalah hukum beruntun.
Potensi Tuntutan Tambahan hingga Setengah Miliar Dolar
Darryl Cuttell, pemilik Darana Hybrid, dilaporkan akan mengajukan lien tambahan. Jika terealisasi, total utang yang dituntut bisa menembus angka Rp500 miliar lebih. Amro menyebutkan bahwa lien tambahan senilai sekitar Rp400 miliar kemungkinan akan diajukan di Mississippi untuk fasilitas SpaceXAI di sana.
“Jadi tampaknya lebih banyak lien akan muncul ke permukaan,” ujar Amro. “Sekitar Rp400 miliar lebih nilai lien. Saya diberitahu itu akan diajukan di Mississippi untuk fasilitas SpaceXAI di sana.”
Selain Darana Hybrid, dua perusahaan lain ikut mengajukan lien. USW-Menard Inc dan TorcSill Foundations tercatat menuntut total lebih dari Rp2,2 miliar untuk pekerjaan di fasilitas pusat data SpaceXAI.
Beban hukum ini tidak hanya berdampak pada perusahaan besar. Bagi Cuttell, utang yang belum dibayar itu mengubah hidupnya secara drastis. Amro menuturkan bahwa Cuttell mengaku tidak tidur selama lebih dari empat bulan, kehilangan banyak berat badan, dan merasa tidak ada masa depan setelah mengajukan lien tersebut.
Kasus ini menambah daftar panjang tuduhan terhadap Elon Musk terkait pembayaran kontraktor kecil. Investigasi CNN pada 2025 menemukan bahwa kontraktor untuk perusahaan otomotif Musk, Tesla, telah mengajukan lien senilai lebih dari Rp110 miliar atas uang yang belum dibayar dalam lima tahun terakhir. Banyak dari kontraktor tersebut adalah usaha kecil keluarga.

Pola yang sama kini terulang di SpaceXAI. Perusahaan yang dibentuk dari merger xAI ke dalam SpaceX ini membangun pusat data Colossus dengan kecepatan luar biasa untuk mengejar kebutuhan komputasi AI. Namun, kecepatan tersebut tampaknya tidak diimbangi dengan kepatuhan finansial terhadap mitra kerjanya.
Konsekuensi dari kasus ini bisa meluas. Jika lien yang diajukan Darana Hybrid dan perusahaan lain tidak segera diselesaikan, SpaceXAI berisiko menghadapi gangguan operasional di fasilitas yang sedang dibangun. Lebih jauh, reputasi Musk sebagai pemimpin bisnis yang andal kembali dipertanyakan di tengah berbagai kontroversi yang sudah menyertainya.
Beberapa pengamat menilai bahwa pola keterlambatan pembayaran ini bukan sekadar masalah administrasi. Ini menyangkut praktik bisnis yang berdampak langsung pada kelangsungan usaha kecil yang menjadi tulang punggung proyek infrastruktur besar seperti pusat data Colossus.
Bagi para kontraktor yang terlibat, keputusan mengajukan lien bukan langkah mudah. Lien adalah instrumen hukum yang memungkinkan kontraktor menuntut hak atas properti yang mereka kerjakan jika tidak dibayar. Namun, langkah ini juga bisa merusak hubungan bisnis jangka panjang dengan perusahaan sebesar SpaceXAI.
Di sisi lain, kasus ini menunjukkan risiko yang dihadapi perusahaan-perusahaan kecil ketika bekerja sama dengan raksasa teknologi yang dikenal dengan ambisi besar dan tenggat waktu ketat. Pembangunan pusat data Colossus yang disebut sebagai salah satu proyek infrastruktur AI terbesar di Amerika Serikat itu menuntut kecepatan yang mungkin mengorbankan proses administrasi yang sehat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari SpaceXAI atau Elon Musk mengenai tuntutan lien yang diajukan oleh Darana Hybrid dan perusahaan lainnya. Perkembangan kasus ini tentu akan menjadi perhatian bagi industri teknologi dan konstruksi, mengingat nilai tuntutan yang mencapai ratusan miliar rupiah.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap proyek teknologi besar, ada rantai pasok yang terdiri dari perusahaan-perusahaan kecil yang menggantungkan hidupnya pada pembayaran tepat waktu. Ketika pembayaran macet, dampaknya langsung terasa pada operasional dan kesejahteraan pekerja di lapangan.
Bagi SpaceXAI, tantangan ke depan tidak hanya menyelesaikan tuntutan yang sudah diajukan, tetapi juga memulihkan kepercayaan mitra kerja di tengah ekspansi pusat data yang terus berlanjut. Sementara itu, tekanan publik terhadap Elon Musk dari berbagai arah terus bertambah, baik terkait bisnis maupun isu-isu lain yang melibatkan namanya.
Dengan nilai tuntutan yang berpotensi terus bertambah, kasus ini menjadi ujian bagi tata kelola perusahaan Musk di lini bisnis terbarunya. Keputusan pengadilan nantinya akan menentukan apakah praktik pembayaran yang lambat ini dianggap pelanggaran serius atau sekadar persoalan administrasi yang bisa diselesaikan secara damai.
Yang jelas, bagi Cuttell dan kontraktor kecil lainnya, setiap hari tanpa kepastian pembayaran berarti beban finansial yang semakin berat. Mereka berharap lien yang diajukan bisa menjadi tekanan efektif bagi SpaceXAI untuk segera memenuhi kewajibannya.
Kasus ini juga relevan bagi pengamat industri yang melihat dinamika industri teknologi yang sedang bergejolak. Ketika perusahaan besar berlomba membangun infrastruktur AI, pertanyaan tentang keberlanjutan finansial rantai pasok menjadi semakin penting untuk dijawab.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin akan muncul lebih banyak kontraktor yang mengajukan tuntutan serupa terhadap perusahaan-perusahaan teknologi besar. Hal ini bisa mendorong perubahan dalam cara proyek infrastruktur besar dikontrak dan dibayar di masa depan.




