JBNews.id — Gubernur Texas Greg Abbott mengumumkan moratorium untuk semua persetujuan pembangunan data center baru pada Senin lalu. Kebijakan ini diambil bukan karena meningkatnya penolakan publik terhadap data center, melainkan untuk memberi waktu bagi regulator melakukan audit terhadap koneksi fasilitas baru ke jaringan listrik Texas yang dinilai tidak mampu menopang beban tambahan.
Keputusan ini menyoroti benturan nyata antara ambisi Texas menjadi pusat kecerdasan buatan (AI) dengan realitas infrastruktur kelistrikan yang rapuh. Sebelum demam AI melanda, jaringan listrik negara bagian tersebut sudah kesulitan menjaga pasokan listrik bagi rumah tangga saat musim dingin ekstrem. Operasi penambangan kripto skala besar juga pernah berisiko membebani jaringan hingga di ambang kolaps.
“Prioritas utama kami adalah melindungi keselamatan dan kualitas hidup warga Texas,” kata Abbott dalam pernyataan resminya. Pernyataan ini menegaskan bahwa audit yang dilakukan bukan sekadar formalitas, melainkan langkah strategis untuk mencegah kegagalan sistem kelistrikan yang lebih luas.
Skala Pembangunan yang Mencengangkan
Data dari Electric Reliability Council of Texas (ERCOT) menunjukkan adanya antrean lebih dari 1.800 proyek data center yang membutuhkan daya listrik melebihi 474 gigawatt. Angka tersebut setara dengan lebih dari lima kali rekor permintaan puncak jaringan listrik Texas. Skala ini menggambarkan betapa masifnya gelombang pembangunan yang sedang direncanakan di Lone Star State.
Kondisi ini diperparah oleh kurangnya transparansi. Baik publik maupun pejabat negara bagian tidak mengetahui secara pasti siapa saja yang mengajukan permohonan pembangunan data center di Texas, serta berapa banyak yang sedang dalam proses persetujuan. Surat kabar The Texas Tribune memperkirakan setidaknya ada 335 data center yang sudah beroperasi di negara bagian tersebut dan 248 lainnya sedang direncanakan. Ratusan proyek lain masih dalam tahap pengembangan awal, mengantre untuk mendapatkan izin sambungan ke jaringan listrik.
Banyak data center yang sudah beroperasi saat ini memilih menggunakan pembangkit listrik di lokasi masing-masing, termasuk generator diesel yang menghasilkan polusi, untuk menghindari ketergantungan pada jaringan utama. Praktik ini menjadi salah satu sumber kekhawatiran baru terkait dampak lingkungan dari industri data center.
Baca Juga:
Responsibilitas Perusahaan Dipertanyakan
Abbott mengklaim bahwa sebagian data center gagal mematuhi survei regulator terkait penggunaan air dan listrik, yang menjadi pemicu dilakukannya audit terbaru ini. Temuan ini menunjukkan adanya masalah kepatuhan yang serius di kalangan pengembang data center.
Data dari Public Utility Commission of Texas (PUCT) memperkuat kekhawatiran tersebut. Menurut perwakilan negara bagian Texas Brad Buckley, hanya 28 dari 377 perusahaan yang disurvei oleh PUCT yang memberikan respons. Buckley menyebut tingkat respons tersebut “sangat memprihatinkan” awal tahun ini. Angka ini mengindikasikan rendahnya kesediaan pelaku industri untuk bekerja sama dengan regulator.
Sementara itu, penolakan publik terhadap pembangunan data center terus meningkat di berbagai wilayah. Kekhawatiran utama meliputi melonjaknya harga listrik, menipisnya pasokan air, polusi suara, dan peningkatan emisi karbon. Beberapa anggota legislatif mulai mendorong aturan yang lebih ketat untuk mengendalikan dampak negatif tersebut. Namun saat ini, banyak di antara mereka yang dianggap berjalan tanpa informasi yang memadai di tengah perlombaan perusahaan membuka fasilitas baru.
Menariknya, Texas justru mengambil langkah yang berlawanan dengan negara bagian lain. New York baru saja memberlakukan larangan data center pertama di tingkat negara bagian bulan lalu. Perbedaan pendekatan ini menciptakan kontras kebijakan yang signifikan di Amerika Serikat.
Moratorium yang diberlakukan Abbott memberikan jeda bagi regulator untuk mengevaluasi kapasitas jaringan listrik sebelum memberikan persetujuan baru. Langkah ini menjadi ujian bagi komitmen Texas dalam menyeimbangkan pertumbuhan industri AI dengan keandalan infrastruktur publik. Bagi calon investor dan pengembang, kebijakan ini menandakan bahwa ekspansi data center di Texas tidak lagi dapat dilakukan tanpa perencanaan matang terhadap dampaknya pada jaringan listrik negara bagian.




