Program Bagi Hasil X Eksploitasi Konten AI: Kisah Fiksi Raup Dolar

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi kreator konten AI yang menghasilkan uang dari program Creative Revenue Sharing X
  • Program Creative Revenue Sharing X dieksploitasi kreator yang menggunakan AI untuk menghasilkan cerita fiksi
  • Kreator berusia 21 tahun asal Nigeria mengaku menghasilkan 500-700 dolar AS per siklus pembayaran dua mingguan
  • Cerita AI memiliki struktur formal: setup rage-baiting diikuti pembalasan dan penghinaan antagonis
  • X telah mengambil tindakan: menggugat kreator Vietnam, memotong pembayaran aggregator, menghapus jutaan konten curian
  • Cerita fiksi AI rutin meraih ratusan ribu hingga jutaan views, didorong psikologi pengguna yang haus keadilan
  • Posisi X terhadap konten fiksi AI masih belum jelas, perusahaan menolak berkomentar

JBNews.id — Program Creative Revenue Sharing milik platform X tengah menjadi sorotan setelah ditemukan banyak kreator yang mengeksploitasi konten buatan kecerdasan buatan (AI) untuk meraup pendapatan hingga ratusan dolar per siklus pembayaran. Fenomena ini terungkap melalui investigasi yang dilakukan Steven Levy di newsletter Backchannel, yang menemukan bahwa cerita-cerita melodramatis bernuansa pembalasan yang membanjiri linimasa pengguna sebagian besar merupakan fiksi yang dihasilkan AI.

Investigasi tersebut bermula dari sebuah unggahan di X yang menampilkan narasi orang pertama tentang seorang ibu yang diadili atas tuduhan pencurian. Alih-alih kisah nyata, penulis di balik cerita tersebut ternyata adalah seorang trader saham berusia 21 tahun asal Nigeria yang menggunakan AI untuk menghasilkan cerita dan dibayar oleh X. Temuan ini mengungkap celah besar dalam program bagi hasil platform yang dirancang untuk mendorong konten autentik berkualitas tinggi.

Program Creative Revenue Sharing X memiliki persyaratan yang relatif mudah dipenuhi: kreator harus menjadi pengguna Premium, memiliki minimal 500 pengikut terverifikasi, dan mengumpulkan minimal 5 juta impressions dalam periode tiga bulan terakhir. Tujuan program ini adalah mendorong konten autentik berkualitas tinggi, namun struktur pembayaran berbasis engagement membuat program ini rawan eksploitasi. Beberapa kreator bahkan terlibat dalam praktik “rage baiting” — menggunakan konten provokatif untuk memancing komentar dan views.

Struktur Cerita AI yang Terformulasi

Rob Cover, profesor di RMIT Digital Ethnography Research Centre Australia yang meneliti konten buatan AI, mengungkapkan bahwa struktur cerita-cerita ini sangat formal, menyerupai soneta. Pola yang digunakan konsisten: dimulai dengan setup “rage-baiting” di mana orang tak bersalah dipecat, diusir, ditipu, atau menjadi korban kesewenang-wenangan hukum. Kemudian diikuti oleh titik balik di mana pihak yang tertindas berhasil membalas dan mempermalukan lawannya.

Dalam banyak cerita, narator digambarkan memiliki dokumen bersegel yang mampu membalikkan keadaan, sering kali dalam kasus perceraian atau pembagian warisan. Contoh lain yang umum adalah penumpang pesawat yang mempertahankan kursinya dari penumpang lain yang tidak sopan, dengan akhir yang memalukan bagi pihak antagonis. Cerita-cerita ini secara rutin meraih ratusan ribu hingga jutaan views, ratusan likes, dan puluhan reposts — meskipun sebagian lalu lintas tersebut mungkin berasal dari bot.

Popularitas cerita-cerita ini mengungkap sesuatu tentang psikologi pengguna: kerinduan akan keadilan dan hasrat akan pembalasan. Membaca cerita-cerita ini memberikan dorongan dopamin ketika keadilan ditegakkan. AI memahami pola ini dengan baik dan terus menghasilkan konten yang sulit ditolak pengguna. Jenna Russell, kandidat PhD di University of Maryland yang meneliti penulisan AI, menjelaskan bahwa para spammer ini mengoptimalkan upaya paling sedikit untuk engagement paling besar dengan menggunakan trope yang sudah dikenal luas.

Pengakuan Kreator dan Mekanisme Pembayaran

Salah satu kreator yang berhasil dihubungi adalah pengguna dengan handle BIGBEN, yang mengaku sebagai trader berusia 21 tahun yang tinggal di Nigeria. BIGBEN mengakui menggunakan AI seperti Grok atau ChatGPT untuk menulis cerita-ceritanya. Meskipun ia mengklaim beberapa cerita berasal dari pengalaman orang lain yang dibagikan kepadanya, ia terus terang mengaku menggunakan AI untuk menulis.

Salah satu cerita yang ia unggah, yang dinarasikan oleh seorang istri kedua yang dilecehkan keluarga suaminya, meraih 1,5 juta views hanya dalam dua hari. X membayar BIGBEN setiap dua minggu melalui program Creative Revenue Sharing, dengan cek biasanya berkisar antara 500 hingga 700 dolar AS per siklus. Beberapa kreator lain dilaporkan menghasilkan ribuan dolar dalam setiap siklus pembayaran.

Menariknya, BIGBEN awalnya mengira ajakan wawancara dari jurnalis adalah tawaran kemitraan bisnis. Ia sempat bertanya, “Sebelum saya memberikan leverage saya, apa untungnya bagi saya?” ketika diminta menjelaskan proses kerjanya. Sikap ini menggambarkan bagaimana sebagian kreator memandang program ini murni sebagai peluang komersial tanpa mempertimbangkan aspek etika atau autentisitas konten.

Upaya X Memberantas Penyalahgunaan

X sebenarnya telah mengambil langkah-langkah untuk menindak penyalahgunaan program ini. Pada Mei 2025, X menggugat 8 kreator asal Vietnam dan 25 “John Does” yang dituduh menarik uang secara curang dari program dengan memposting konten palsu buatan AI dan meningkatkan engagement melalui komentar bot. Pada April, X juga memotong pembayaran para “aggregator” yang terutama memposting berita dari sumber lain dan mengancam sanksi bagi mereka yang terlalu sering menggunakan tag BREAKING untuk menarik perhatian.

Pada 16 Juli tahun ini, X mengungkapkan telah menghapus jutaan postingan yang mencuri konten yang sudah dipublikasikan oleh orang lain. Namun, sikap X terhadap cerita-cerita fiksi AI yang membanjiri linimasa masih belum jelas. Perusahaan yang kini menjadi bagian dari xAI dan kemudian bergabung dengan SpaceX ini menolak menjawab pertanyaan tentang kebijakan mereka terhadap konten semacam ini.

Sebagian besar cerita yang beredar secara palsu disajikan sebagai narasi orang pertama yang benar, meskipun jelas terlihat bahwa cerita tersebut dibuat-buat. Dalam banyak kasus, para kreator menggambarkan diri mereka sebagai pendongeng di profil mereka. Meskipun sulit membuktikan bahwa penulis sebenarnya adalah model AI, mayoritas besar konten tersebut menunjukkan ciri-ciri yang jelas dari hasil generasi AI.

Implikasi dan Dampak bagi Ekosistem Konten Digital

Fenomena ini menyoroti tantangan besar dalam moderasi konten di era AI generatif. Dibandingkan dengan postingan X yang mengandung kemarahan, misinformasi, pornografi, dan konten curian, cerita-cerita tentang pembalasan protagonis dan penghinaan tokoh jahat ini relatif tidak berbahaya. Namun, dampaknya terhadap kepercayaan pengguna terhadap platform dan kualitas informasi yang beredar tetap menjadi perhatian serius.

Kasus ini juga menunjukkan bagaimana insentif finansial berbasis engagement dapat mendorong produksi konten yang tidak autentik secara massal. Semakin banyak platform yang menghadapi masalah serupa, termasuk TikTok yang dilaporkan 60 persen video barunya dibuat mesin. LinkedIn menambahkan tombol lapor khusus untuk konten “AI slop” di setiap postingan sebagai respons atas maraknya konten semacam itu.

Bagi pembaca, kisah tentang ibu yang diadili dalam cerita BIGBEN berakhir dengan suaminya yang dijebloskan ke penjara setelah anaknya yang berusia 9 tahun memasang perekam digital di kantor ayahnya. Namun, kepuasan dari akhir cerita yang rapi ini terasa hampa karena menyadari bahwa itu hanyalah kisah rekaan yang dibuat demi klik. Perasaan hampa ini kemungkinan akan semakin akrab seiring meluasnya produksi konten AI di berbagai platform.

Fenomena ini juga mengingatkan pada masalah serupa di ekosistem digital lain, termasuk situs aplikasi palsu yang menyebarkan malware dan peternakan konten AI yang memanfaatkan infrastruktur lama. Pola eksploitasi yang sama — memanfaatkan celah sistem untuk keuntungan finansial — terus berulang di berbagai lini ekosistem digital.

Data menunjukkan bahwa program berbagi pendapatan X memang menguntungkan sebagian kreator yang menghasilkan konten autentik, namun celah yang ada memungkinkan eksploitasi sistematis. Dengan pembayaran dua mingguan yang berkisar antara 500 hingga 700 dolar untuk satu kreator saja, potensi kerugian platform bisa sangat besar jika praktik ini dibiarkan berlanjut. Pertanyaan tentang bagaimana X akan menangani kategori konten fiksi AI ini — apakah akan dianggap sebagai pelanggaran atau dibiarkan — masih menunggu jawaban dari perusahaan.