Meta Borong AI Rp2.100 Triliun, Investor Justru Kabur

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Foto Mark Zuckerberg dengan efek warna saat membahas strategi AI Meta
  • Meta menaikkan belanja modal AI dari US$125 miliar menjadi minimal US$130 miliar
  • Saham Meta anjlok lebih dari 11% dalam lima hari setelah pengumuman
  • Arus kas bebas turun ke level terendah dalam 5 tahun meski pendapatan naik 28%
  • Model AI internal Muse Spark tertinggal jauh dari kompetitor OpenAI, Anthropic, dan Google
  • Superintelligence Lab Meta disebut "penjara yang menghancurkan jiwa" dengan moral rendah
  • Analis membandingkan strategi ini dengan kegagalan pivot metaverse sebelumnya
  • Platform Meta dipenuhi konten clickbait dan AI slop, engagement terus menurun
  • Investor semakin skeptis terhadap visi AI Zuckerberg yang belum terbukti

JBNews.id — Meta Platforms meningkatkan belanja modal (capital expenditure) dari US$125 miliar menjadi setidaknya US$130 miliar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Keputusan yang diumumkan dalam panggilan earnings kuartal kedua ini justru memicu aksi jual besar-besaran, dengan saham Meta anjlok lebih dari 11 persen dalam lima hari terakhir.

Langkah agresif Mark Zuckerberg ini datang di tengah kekhawatiran industri bahwa investasi masif pada pusat data (data center) yang sangat mahal tidak memiliki jalur profitabilitas yang jelas. Meski Meta mencatat pendapatan yang kuat—naik 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu—arus kas bebas (free cash flow) perusahaan justru merosot ke level terendah dalam setidaknya lima tahun terakhir akibat pengeluaran AI yang membengkak.

Zuckerberg membela keputusan ini dengan menyatakan bahwa belanja AI ekstra tersebut “mempercepat setiap bagian dari bisnis inti kami.” Ia juga mengklaim sebagian teknologi itu akan dijual ke perusahaan lain. Namun, keraguan besar muncul: apakah Meta benar-benar memiliki produk AI yang cukup menarik untuk ditawarkan kepada pelanggan bisnis?

A color-treated photo of Mark Zuckerberg.

Di Balik Layar: AI Meta Tertinggal Jauh

Meski telah menggelontorkan lebih dari US$100 miliar untuk AI, Meta praktis absen dari persaingan model AI frontier. Superintelligence Lab yang diandalkan perusahaan telah berubah menjadi “penjara yang menghancurkan jiwa” dengan moral karyawan yang sangat rendah—dan yang terpenting, tidak menghasilkan hasil yang diharapkan.

Upaya Meta mengembangkan model frontier internal yang dijuluki Muse Spark terus terhambat berbagai kemunduran. Perusahaan berulang kali menggeser jadwal rilisnya kepada para pengembang. Pada 11 Juli, Meta akhirnya merilis versi 1.1 dari AI tersebut tanpa banyak sambutan. Menurut Axios, model ini masih mudah dikalahkan oleh model kompetitor dari OpenAI, Anthropic, dan Google dalam sebagian besar tugas.

Meta juga merilis model pembangkit gambar bernama Muse Image, yang terkesan seperti upaya mengejar ketertinggalan yang terlambat dan setengah hati. Peluncuran ini terasa seperti “afterthought”—tambahan yang kurang dipikirkan matang—di tengah persaingan ketat industri.

Déjà Vu: Mengulang Kesalahan Metaverse

Pola ini mengingatkan para analis pada kesalahan strategis Zuckerberg di masa lalu. Pivot besar-besaran ke “metaverse”—upaya menjual ide bekerja di dunia realitas virtual yang hampa dan kartun—merupakan preseden sempurna untuk masalah AI yang dihadapi Meta saat ini.

“Ada kemiripan dengan kesalahan metaverse Meta, di mana Meta sekali lagi membelanjakan uang di depan permintaan produk yang belum terbukti,” kata analis Forrester, Mike Proulx, kepada BBC. Pernyataan ini menegaskan bahwa pola pengeluaran agresif tanpa validasi pasar adalah masalah berulang di perusahaan tersebut.

Sementara itu, platform-platform Meta sendiri telah berubah menjadi lautan konten clickbait dan sampah AI (AI slop) yang nyaris tidak bisa dikenali. Perusahaan belum secara serius mengatasi masalah ini, sementara jumlah pengguna dan tingkat keterlibatan (engagement) terus merosot. Ironisnya, Meta sibuk berinvestasi besar-besaran di AI sementara kualitas platform utamanya justru menurun di mata pengguna.

Visi Ambisius vs Realitas Pasar

Zuckerberg tetap terpesona dengan konsep agen AI “yang dapat bekerja 24/7 atas nama Anda,” seperti yang ia sampaikan kepada investor pekan ini. Ia juga membayangkan Muse Spark tumbuh menjadi “bisnis besar untuk bisnis-bisnis besar.” Namun, ambisi ini dihadapkan pada realitas persaingan yang jauh lebih berat.

Meta memasuki arena yang sudah dikuasai pemain-pemain besar dengan basis pelanggan dan pendapatan AI yang jauh lebih mapan. OpenAI, Anthropic, dan Google telah lebih dulu menarik pelanggan dan menumbuhkan pendapatan AI mereka. Investor yang sebelumnya sudah menggelengkan kepala setelah Amazon dan Alphabet mengumumkan lonjakan belanja AI bulan ini, tidak bersikap lunak terhadap visi Zuckerberg yang terlalu tinggi.

Kekhawatiran investor juga diperkuat oleh tren persaingan global di sektor AI. Sementara Meta kesulitan mengejar ketertinggalan, pemain dari China justru menunjukkan kemajuan signifikan. Persaingan AI global semakin ketat dengan munculnya model-model baru yang mampu menyaingi bahkan mengalahkan produk buatan perusahaan Amerika dalam berbagai benchmark. Kondisi ini menambah tekanan bagi Meta yang belum memiliki produk AI kompetitif yang bisa dipasarkan.

Di sisi lain, Meta juga tengah menjajaki berbagai eksperimen bisnis baru di luar AI, termasuk aplikasi prediksi yang meniru platform Polymarket. Namun, langkah-langkah diversifikasi ini belum memberikan kepastian bahwa Meta mampu mengkompensasi kerugian besar dari investasi AI yang belum membuahkan hasil.

Apa Artinya bagi Pasar dan Pengguna

Dampak dari situasi ini tidak hanya dirasakan oleh pemegang saham Meta. Bagi pengguna platform Meta—Facebook, Instagram, dan WhatsApp—penurunan kualitas konten akibat banjir AI slop dan clickbait menjadi masalah nyata yang belum tertangani. Sementara itu, bagi pelaku bisnis yang sempat menunggu produk AI Meta, ketidakjelasan timeline dan kualitas produk membuat mereka semakin ragu untuk bergantung pada ekosistem Meta.

Dengan belanja modal yang terus meningkat tanpa hasil yang sepadan, Meta berada di persimpangan jalan. Perusahaan harus segera membuktikan bahwa investasi raksasanya di AI akan menghasilkan produk yang benar-benar diminati pasar. Jika tidak, sejarah metaverse bisa terulang—hanya saja dengan skala kerugian yang jauh lebih besar.

Bagi investor dan pengamat industri, sinyal dari pergerakan saham Meta ini adalah peringatan jelas: pasar tidak lagi mudah percaya pada janji-janji besar tanpa bukti konkret. Pertanyaannya kini, akankah Zuckerberg belajar dari kesalahan masa lalunya, atau justru mengulang pola yang sama dengan konsekuensi yang lebih fatal?